Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Vitamin C


__ADS_3

Setelah beranjak dari dapur, Regina langsung berjalan menuju ruang tengah. Dia mendudukkan diri di sofa yang menghadap ke arah balkon.


"Kamu ngapain sudah di sini? Bukannya seharusnya hari ini masih bekerja? Belum waktunya pulang, kan?" Regina menoleh ke arah Nayra yang sedang berjalan sambil membawakan minuman.


"Saya ada pekerjaan tadi, Mbak. Setelah itu, saya diminta Pak Rain langsung kesini. Ini tadi saat Mbak Regina datang, saya baru mulai merapikan baju di lemari Pak Rain." Nayra menjawab asal. Dia tidak mau mengatakan hal yang sebenarnya. Nayra sudah cukup bosan berdebat dengan model madul tersebut.


Regina menoleh ke arah Nayra dengan tatapan malas. Meskipun kesal, tapi sepertinya dia bisa mengerti pekerjaan Nayra. Regina mengambil minuman yang di bawakan Nayra tersebut dan meneguknya sedikit.


Tak berapa lama kemudian, netra Regina memindai penthouse Rainer. Dia mengerutkan kening saat melihat satu perangkat meja kerja berada di samping sebelah kanan ruang makan.


"Kenapa meja kerjanya ada di luar?" tanya Regina penasaran.


Nayra menoleh untuk melihat apa yang dimaksud oleh Regina. Dia memasang ekspresi wajah acuh dan tidak terlalu peduli.


"Entahlah, Mbak. Semua itu kan keputusan Pak Rain. Mana berani saya menanyakan apalagi memprotes? Bisa-bisa saya kehilangan pekerjaan nanti." Nayra memasang ekspresi biasa saja.


Dan, sepertinya Regina percaya. Dia pasti tidak mengira jika ruangan kerja Rainer yang sebelumnya sudah berubah menjadi kamar Nayra. Selain itu, Regina juga pasti tidak akan berani memasuki kamar tersebut. Rainer tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Rainer memang tidak membiarkan orang lain memasuki kamar atau ruangan pribadi miliknya. Kecuali, pekerja yang memang sudah terbiasa, dan Nayra tentunya.


"Lalu, kemana sekarang Rainer pergi? Dia juga tidak ada di kantor tadi."

__ADS_1


"Eh, Anda baru dari kantor?" tanya Nayra penasaran.


"Hhmmm."


"Ehm, Pak Rain ada pekerjaan di luar. Jadi, beliau sedang menyelesaikan pekerjaan itu."


Regina menoleh dan menatap ke arah Nayra. Dari tatapan matanya saja, sudah terlihat jelas dia tidak menyukai Nayra.


"Lalu, kenapa kamu pulang dulu jika Rainer masih ada pekerjaan? Bukannya kamu sudah dibayar mahal sebagai sekretaris Rainer? Jangan mentang-mentang kamu sudah sering membantu Rainer, lantas kamu bisa seenaknya saja, ya?!" Tatapan tak suka masih dilayangkan Regina kepada Nayra.


Nayra mendesahkan napas berat sebelum menjawab. Dia balas menatap Regina dengan tatapan datar.


Regina hanya mendengus kesal. Namun, belum sempat dia menanggapi ucapan Nayra, sebuah panggilan masuk pada ponselnya. Regina buru-buru menerima panggilan yang ternyata berasal dari managernya tersebut.


Hingga begitu panggilan tersebut selesai, Regina segera beranjak. Dia harus melakukan persiapan untuk acara pemotretan nanti malam. Nayra yang melihat hal itu, cukup merasa lega. Dia selalu merasa kesal jika Regina datang berkunjung.


Setelah itu, Nayra langsung melanjutkan aktivitasnya. Hingga menjelang petang, Nayra baru selesai beres-beres. Nayra baru bisa membersihkan diri setelahnya.


Untuk makan malam, Nayra memasak tumis kangkung dan ayam kecap. Dia sudah mendapat pesan dari Rainer jika dia akan makan malam di rumah.

__ADS_1


Bertepatan dengan masakan makan malam Nayra selesai, Rainer juga sudah pulang. Rainer langsung membersihkan diri sebelum menyantap makan malam.


Tak sampai lima belas menit kemudian, Rainer sudah kembali ke meja makan. Namun, bukannya menuju kursinya, Rainer justru menghampiri Nayra yang sedang mengambil air minum di dapur.


Rainer langsung berdiri di samping Nayra yang sedang menuangkan air minum. Sontak saja hal itu membuat Nayra terkejut.


"Eh, ada apa?"


"Mau vitamin C."


"Eh, jeruk begitu?" tanya Nayra bingung.


"Bukan."


"Lalu?"


\=\=\=


Hayo, vitamin C apa kira-kira ini?

__ADS_1


__ADS_2