Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Keanehan Rainer


__ADS_3

Hari itu, Nayra kembali disibukkan dengan tingkah manja Rainer. Selalu saja ada hal-hal aneh yang diminta suaminya itu dan berhasil membuatnya pusing. Salah satunya, Rainer ingin ditemani tidur siang sambil di puk puk. Dan tidak hanya itu, Rainer juga ingin ngedusel di 'celah bukit impian' Nayra. Alhasil, mau tidak mau Nayra harus melepaskan kancing depan baju rumahannya dan sekaligus melepas 'kacamata'.


Karena sudah sama-sama lelah, keduanya bahkan langsung tertidur hingga menjelang pukul dua siang. Nayra buru-buru bangun saat melihat Rainer masih terlelap.


Untuk makan malam, Rainer juga minta hal-hal aneh lagi. Dia minta dibuatkan rujak dengan lontong yang biasanya di jual di dekat perempatan lampu merah rumah sakit. Mau tidak mau, Nayra segera memesan lontong tersebut dengan bantuan goo foodd.


Seusai makan malam dan minum obat, tubuh Rainer mendadak terasa lemas. Dia juga merasa mual hingga sempat muntah beberapa kali sebelum kembali terlelap. Nayra bahkan menghubungi mama Rainer dan memintanya datang.


"Sudah, tidak apa-apa, Nay. Mungkin perutnya si Rain saja yang sedang bermasalah. Selama ini dia kan nggak terlalu suka rujak petis." Mama Rainer berusaha menenangkan Nayra.


"Iya juga ya, Ma. Entah mengapa tadi mas Rain ngotot sekali minta dibuatkan rujak petis. Mana minta lontong di dekat perempatan lagi, Ma." Nayra mendesahkan napas berat sambil menatap Rainer yang sudah terlelap.


"Sudah, nggak apa-apa. Biarkan dia istirahat saja dulu. Kamu juga segera istirahat, Sayang. Mama tidur di sebelah, ya." 


"Iya, Ma. Maaf jadi ngerepotin mama malam-malam begini." Nayra merasa tidak enak.

__ADS_1


"Sudah, nggak apa-apa, kok. Kamu segera istirahat juga, ya."


Nayra hanya bisa mengangguk sambil mengulas senyuman saat sang mertua beranjak keluar dari kamar. Setelah itu, Nayra segera membersihkan diri dan langsung ikut bergabung dengan Rainer.


Keesokan hari, mulai lagi keriwehan Rainer. Dia ngotot tetap ingin pergi bekerja sementara Nayra tetap kekeh untuk melarangnya. Sebenarnya, Rainer bisa mengerjakan pekerjaan dari rumah. Namun, bukan Rainer jika tidak keras kepala. Mau tidak mau, Nayra akhirnya menuruti keinginan Rainer untuk pergi ke kantor.


Nayra menyiapkan sarapan sekaligus bekal untuk Rainer. Dia juga segera menyiapkan keperluan Rainer seperti biasa. Dan, beruntung kali ini Rainer menerima saat Nayra memintanya untuk menyetir. Nayra tidak mengijinkan Rainer mengendarai mobil sementara.


Sesampainya di kantor, lagi-lagi Rainer kembali berulah. Entah mengapa dia minta Resta untuk mengganti parfum dengan aroma jeruk. Ya, hanya kepada Resta saja Rainer meminta hal itu. Bahkan, Rainer juga meminta Resta mengganti baju agar tidak terkontaminasi dengan bau parfum lamanya.


"Mas, kamu kenapa sih? Salah minum obat yang tadi sudah aku siapkan?" tanya Nayra saat berjalan menghampiri Rainer yang kini sudah duduk di kursi kerjanya.


Rainer mengangkat kepala dan menatap ke arah Nayra dengan kening berkerut.


"Maksudnya?" 

__ADS_1


"Ya, itu tadi. Kamu aneh-aneh saja minta Resta ganti parfum dan bahkan ganti baju segala. Yang benar saja, Mas." Nayra tidak habis pikir dengan keinginan sang suami.


"Ya, nggak apa-apa. Orang Resta juga mau, kok."


"Ya, mana mungkin Resta menolak, Mas. Yang ada dia takut jika sampai menolak perintah kamu dan akan berdampak pada pekerjaannya di sini. Lain kali, jangan gitu ah, Mas." Nayra mengusap-usap bahu Rainer yang tidak terluka.


"Hhhmmm."


"Jangan ham hem begitu, tapi benar-benar diingat."


"Iya."


Nayra hanya bisa mendesahkan napas berat saat mendapati jawaban sang suami.


Tembus komen sampai dua puluh lima, othor up lagi ah. 🤭

__ADS_1


__ADS_2