Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Mau Ngapain?


__ADS_3

Mau tidak mau, Nayra hanya bisa pasrah saat Rainer menariknya memasuki sebuah ruang private yang berada tak jauh dari ruang meeting. Sebenarnya, ruangan tersebut hanya dibatasi oleh dinding bata setinggi kurang lebih dua meter. Untuk bagian pintunya, hanya ada pintu berbentuk koboi yang terbuat dari kayu yang diukir dengan cukup indah.


Nayra hanya bisa mengerucutkan bibir saat Rainer memintanya makan siang di tempat tersebut.


"Kenapa harus pindah ke sini sih, Pak? Disini kan saya jadi nggak bisa lihat pemandangan yang seger-seger," protes Nayra.


"Nanti saya akan bawa kamu melihat pemandangan yang seger-seger," ucap Rainer sambil berjalan ke arah pintu. "Jangan keluar sebelum aku selesai meeting."


"Cckkk." 


Nayra hanya bisa berdecak kesal setelah melihat Rainer berlalu dari pintu. Entah mengapa dia menjadi semakin kesal dengan atasannya yang suka seenaknya tersebut.


Tak berapa lama kemudian, makan siang Nayra sudah dipindahkan. Dia juga mendapatkan tambahan es krim baru. Saat Nayra bertanya dari mana es krim tersebut, karyawan restoran mengatakan jika Rainer yang meminta mereka membawakan es krim lagi untuk Nayra.


Setelah berhasil memindahkan Nayra ke tempat yang lebih tertutup, Rainer segera kembali ke ruang meeting. Dia harus segera menyelesaikan meeting hari itu dan membawa Nayra pergi dari sana. Entah mengapa mood Rainer mendadak berubah setelah kejadian tadi.


Tak sampai tiga puluh menit kemudian, meeting tersebut sudah selesai. Rainer meminta para bawahannya untuk makan siang di sana. Sementara dirinya, langsung berjalan untuk menghampiri Nayra.

__ADS_1


Nayra langsung menoleh saat melihat Rainer tiba-tiba berjalan memasuki ruangan tersebut.


"Sudah selesai?" tanya Nayra saat melihat Rainer duduk di depannya.


"Hhmmm." 


Tatapan mata Rainer masih menatap makanan yang sedang dimakan oleh Nayra. Entah mengapa perasaan Nayra menjadi tidak enak.


"Kenapa? Bapak mau makan siang? Mau saya pesankan?" tawar Nayra.


"Ini saja. Sepertinya ini terlalu banyak jika kamu habiskan sendiri," ucap Rainer sambil menarik es krim yang masih dicicipi Nayra sedikit. Dia langsung melahap es krim tersebut tanpa memikirkan Nayra.


Setelah selesai menyantap es krim, Rainer melirik soto ayam yang masih terlihat mengepulkan asap tersebut. Sepertinya, Nayra baru saja memesan soto tersebut.


"Ini kamu baru pesan?" tanya Rainer.


Nayra sudah bisa memahami maksud pertanyaan Rainer. Meskipun dia masih merasa lapar, Nayra tidak tega juga membiarkan atasannya tersebut kelaparan. Apalagi, jika sampai penyakit maag Rainer kambuh. Bisa dipastikan dia juga yang akan kerepotan nantinya.

__ADS_1


"Iya, Pak. Jika Bapak mau, silahkan dimakan," ucap Nayra kemudian.


Tanpa sungkan dan ragu-ragu, Rainer segera menggeser mangkok soto tersebut, dan mulai menyantapnya. Nayra yang melihat hal itu hanya bisa pasrah.


Tak butuh waktu lama, makan siang keduanya sudah selesai. Rainer dan Nayra segera keluar dari restoran tersebut setelah membayar makan siang mereka. 


Kening Nayra berkerut saat melihat Rainer berjalan ke arah pintu kemudi mobil yang tadi menjemput mereka. Dia bahkan masih diam di samping pintu mobil sambil menatap ke arah Rainer. Rainer yang melihat Nayra masih diam, langsung bersuara.


"Kenapa diam saja? Ayo cepat masuk."


"Eh, kenapa jadi Anda yang menyetir. Kemana orang yang tadi menjemput kita?"


"Cckkk. Dia tidak mungkin jadi sopir kita selama dua hari di Jogja."


"Apa?! Du-dua hari? Ngapain kita dua hari di Jogja, Pak?"


\=\=\=

__ADS_1


Hhmmm, mau ngapain, ya?


__ADS_2