
Sepanjang perjalanan pulang, Felix masih memikirkan ucapan Agung. Ingatan yang didapatnya, hanya berupa kilatan aktivitas panas dengan seorang perempuan. Dan, itu pun juga tidak secara detail. Hanya pada saat sang perempuan bersemangat 'menunggangi' dirinya.
"Si alaaaann! Kenapa hanya sedikit sekali kejadian yang aku ingat," gerutu Felix sambil memukul stir mobil.
Entah mengapa dia merasa kesal saat tidak bisa mengingat dengan jelas apa yang sebenarnya terjadi malam itu. Ada rasa dongkol yang bercokol di hati Felix.
Meskipun begitu, Felix juga masih terngiang-ngiang dengan penjelasan Agung. Menurut penjelasan Agung, selama Rafika menjalani kehamilannya, Hendra selalu membantu perempuan itu. Hendra juga sebenarnya sudah menawarkan diri untuk menikahi Rafika. Namun, niat Hendra tersebut ditolak mentah-mentah oleh Rafika.
Menurut Hendra, Rafika menolak tawaran pernikahan karena tidak ingin membebani Hendra dengan mengurus anak yang bukan merupakan darah dagingnya sendiri. Rafika tidak setega itu membiarkan Hendra melakukannya. Bahkan, setelah Hendra mengungkapkan perasaannya terhadap Rafika pun, niat baiknya masih ditolak.
Setelah kepergian Rafika, Hendra memutuskan untuk mengasuh Finn. Rasa sayangnya kepada Rafika, dicurahkan Hendra kepada bayi laki-laki itu. Namun, kenyataan tak sesuai dengan harapan. Keluarga Hendra menentang keinginan itu dan memintanya untuk mengembalikan Finn kepada ayah kandungnya.
Beruntung saat itu Hendra sudah pernah menyelidiki siapa laki-laki yang bersama dengan Rafika malam itu. Jadi, Hendra tidak terlalu kesulitan untuk menemukan keberadaan Felix.
__ADS_1
***
Menjelang pukul sepuluh malam, Felix baru tiba di apartemennya. Dia tidak menemukan siapa-siapa di ruang tamu dan ruang tengah. Felix langsung berpikir jika Citra dan Finn sudah tidur.
Dan, benar saja. Felix yang saat itu langsung berjalan menuju kamarnya, langsung dibuat terharu saat melihat Citra tengah duduk di atas lantai sambil tertidur. Tepatnya, dia tertidur di tepi box bayi Finn yang masih terbuka di bagian sampingnya.
Finn juga tampak terlelap dengan tangan kanan memegang erat jari telunjuk Citra. Sepertinya, anaknya itu tidak bisa jauh-jauh dari sang baby sitter.
Felix mendesahkan napas beratnya. Dia bisa merasakan hidup sebatang kara yang rasanya sangat tidak nyaman. Tidak ada tempat berkeluh kesah dan bersandar. Sambil masih menatap Finn lekat-lekat, Felix berjanji pada diri sendiri jika dia akan menjadi ayah yang baik untuk Finn. Felix tidak ingin jika Finn kurang mendapatkan kasih sayang dan perhatian.
Setelah cukup lama Felix menatap wajah lelap Finn, dia memutuskan untuk membersihkan diri. Entah mengapa malam itu dia ingin mandi di bawah kucuran air shower.
Tak menunggu lebih lama lagi, Felix segera beranjak menuju kamar mandi. Dia urung membangunkan Citra yang tampak tidur sangat lelap tersebut. Beruntung ada karpet bulu tebal yang dijadikan Citra sebagai alasnya saat itu. Jadi, dia tidak akan kedinginan dengan duduk melantai.
__ADS_1
Sambil merenungi beberapa hal dan apa saja yang bisa dilakukan, Felix mengguyur tubuhnya di bawah kucuran shower. Dia mulai menyusun rencana untuk masa depan Finn. Mulai dari membuatkan identitas Finn. Felix berniat untuk meminta bantuan mama Rainer yang cukup mempunyai banyak kenalan untuk menjalankan rencananya.
Hingga sekitar tiga puluh menit kemudian, Felix sudah menyelesaikan aktivitasnya di kamar mandi. Dia segera mengambil handuk dan mengeringkan tubuhnya. Setelah selesai, Felix segera melilitkan handuk tersebut pada pinggangnya.
Dengan langkah santai, Felix langsung berjalan keluar dari kamar mandi yang terletak di bagian ujung kamarnya. Bukannya langsung menuju walk in closet, Felix justru langsung berjalan menuju ke arah box bayi Finn dengan tujuan memeriksa putranya tersebut.
Namun, langkah kaki Felix terhenti saat mendapati pemandangan yang membuat kedua bola matanya membesar.
"Astaga! Kamu nggak sakit punggung bawa dua semangka sebesar itu, Cit? Mana seperti mau melompat keluar begitu. Mentul-mentul."
Aaargghhh.
Siapa yang teriak?
__ADS_1