
Felix masih terkekeh geli saat melihat reaksi Rainer yang kesal. Bagi Felix, ternyata sangat menyenangkan bisa menggoda Rainer seperti itu.
Sementara di lobi, Nayra masih terlihat mengobrol dengan Aaron. Keduanya juga tampak sudah tidak terlalu canggung saat bertukar cerita.
"Aku baru tahu jika kamu juga dapat undangan," ucap Nayra saat melangkahkan kaki menuju hall tempat diadakannya acara perusahaannya tersebut.
Aaron yang saat itu berjalan berdampingan dengan Nayra, hanya mengulas senyum ramahnya. Aaron adalah tipe-tipe orang yang tidak terlalu suka membicarakan hal-hal pribadinya. Oleh karena itu, Aaron yang lebih banyak bertanya tentang Nayra.
Aaron dan Nayra berjalan memasuki tempat acara. Sudah lumayan banyak tamu undangan yang hadir malam itu. Setelah mengedarkan pandangan, Aaron dan Nayra menemukan sebuah meja kosong. Mereka memutuskan untuk menempatinya.
"Jadi, sudah berapa lama kamu bekerja di RH, Nay?" tanya Aaron penasaran.
"Emh, kurang lebih hampir lima tahun, sih. Itu pun jika dihitung dengan masa magang. Hehehe."
Aaron menanggapi ucapan Nayra sambil tersenyum.
"Sudah lumayan lama.
__ADS_1
"Hhhmmm. Ngomong-ngomong, kamu bekerja dimana? Atau mungkin, kamu masih kuliah?" tanya Nayra penasaran karena Aaron sama sekali tidak pernah menceritakan kehidupan pribadinya meski mereka sudah beberapa kali bertemu.
"Aku bekerja di F_Base." Aaron menjawab setelah meneguk minumannya.
"Eh, F_Base? Perusahaan otomotif besar itu?" Nayra cukup terkejut mendengar jawaban Aaron.
"Iya, Nay."
Wajah Nayra tampak berbinar bahagia. Dia sama sekali tidak menyangka jika Aaron adalah bagian dari F_Base atau bisa disingkat FB. Sebuah perusahaan otomotif besar yang sudah cukup terkenal hingga mancanegara.
Selanjutnya, obrolan mereka kembali dilanjutkan. Sesekali Aaron melontarkan gurauan yang membuat Nayra langsung tergelak. Hingga tak berapa lama kemudian, acara inti sudah dimulai. Semua tamu undangan yang hadir langsung fokus pada panggung.
Ketika ayah Rainer sedang memberikan sambutan, di ruang VIP tampak dua orang sedang mengobrol. Mereka adalah Rainer dan Felix. Awalnya, kedua orang itu tidak menyadari keberadaan Nayra dan Aaron.
"Masih nggak mau gabung dengan orang tua lo, Rain?" tanya Felix.
Rainer yang saat itu sedang memainkan ponselnya, langsung menoleh ke arah Felix. "Cckkk. Sudah berapa kali lo tanyain hal itu, Lix? Sekali lagi lo tanya, gue lakban mulut lo." Rainer langsung menatap tajam ke arah sahabatnya tersebut.
__ADS_1
"Cckkk. Sensi banget, Bung." Felix mencebikkan bibir sambil menoleh ke arah aula. Namun, tiba-tiba kedua bola matanya menangkap sesuatu. Felix bahkan langsung mencondongkan tubuhnya mendekati kaca besar yang memisahkan ruangannya dengan aula tersebut.
Kedua bola mata dan mulut Felix langsung terbuka dengan sempurna saat menyadari sesuatu.
"Benarkah itu Nayra? Dia sedang berdansa dengan siapa?" gumam Felix sedikit lebih keras.
Rainer yang berada di samping Felix pun langsung menoleh. Dia menatap sang sahabat yang tengah fokus memperhatikan sesuatu.
"Apa yang lo lihat?" tanya Rainer penasaran.
Felix pun langsung menoleh dengan ekspresi penasaran. "Lo yakin Nayra belum punya pacar, Rain?"
Rainer langsung mendengus kesal setelah mendengar pertanyaan Felix.
"Masih tanya-tanya lagi. Mau gue aduin ke Monic, tunangan lo, hah?!"
"Cckkk. Gue cuma tanya, Rain. Gue penasaran saja siapa yang sedang dansa bareng Kiara itu," ucap Felix sambil menunjuk ke arah aula.
__ADS_1
Sontak saja Rainer langsung menoleh ke arah yang dimaksud Felix. Dia mencari-cari apa yang dimaksud oleh Felix. Setelah menemukan yang dicari, Rainer langsung membulatkan kedua bola matanya.
Hujan disertai guntur nggak sih ini? ðŸ¤