
Rainer masih terdiam beberapa saat hingga Felix menyenggol lengannya. Rainer sampai lupa jika dia harus mengejar Nayra dan sang mama.
Setelah teringat dengan tujuan awal, Rainer langsung berbalik dengan langkah cepat. Felix hanya bisa melongo melihat tingkah sahabat sekaligus atasannya tersebut.
"Cckkk. Begitu tuh tingkahnya kalau belum pernah disentuh cewek. Belum punya status apa-apa saja sudah kelimpungan saat ditinggal. Apa kabar jika sudah ada ikatan?" Felix masih menggerutu kesal saat melihat mobil Rainer melewatinya.
Tak berapa lama kemudian, Felix juga memilih untuk meninggalkan tempat tersebut. Dia memilih untuk pulang dan mematikan ponselnya. Dia tidak mau diganggu oleh Si Hujan yang pasti akan mengirimkan suara petir menggelegar jika sedang gegana alias gelisah galau merana.
Sementara itu, Rainer langsung mengendarai mobilnya menuju rumah kontrakan Nayra. Rainer berpikir, jika Nayra akan dibawa pulang oleh sang mama. Jika niat ibu negara serius ingin mengajak Nayra ke luar negeri, bukankah sudah pasti Nayra akan pulang dulu untuk mengambil perlengkapannya, kan? Begitu pikir Rainer.
Namun, ternyata apa yang dipikirkan oleh Rainer keliru. Nayra tidak ada di rumah kontrakannya. Setelah memastikan tidak ada jejak Nayra kembali ke rumah, Rainer memilih untuk pulang ke rumah utama.
__ADS_1
Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit kemudian, mobil Rainer sudah memasuki halaman rumah orang tuanya. Rainer segera bergegas masuk dan mencari keberadaan Nayra dan sang mama. Namun ternyata, Rainer tidak menemukan keberadaan Nayra dan mamanya tersebut.
Rainer benar-benar frustasi saat itu. Dan yang lebih membuatnya bingung, ada perasaan gelisah dan tidak tenang sebelum menemukan keberadaan Nayra.
"Kemana kamu, Nay? Mama bawa kamu kemana?" Rainer mengusap wajahnya dengan kasar.
Setelah itu, dia mencoba menghubungi nomor mama dan papanya. Dan, lagi-lagi panggilan Rainer tidak tersambung. Malam itu, Rainer benar-benar frustasi. Hingga lewat tengah malam, Rainer baru kembali ke penthousenya dengan pikiran yang tidak karuan.
"Nay, ini baju ganti untuk kamu. Ada baju tidur, dan beberapa baju ganti untuk kamu." Mama Rainer yang baru saja masuk kamar Nayra, meletakkan beberapa paper bag di atas tempat tidur.
"Eh, Nyonya tidak perlu repot-repot begini." Nayra terlihat kikuk dan merasa tidak enak hati.
__ADS_1
Sebenarnya, Nayra sudah meminta mama Rainer agar dia bisa mengambil baju ganti. Namun, keinginan tersebut ditolak oleh mama atasannya tersebut. Alasannya, agar Rainer tidak bisa menemukan keberadaan Nayra.
Mama Rainer benar-benar kesal dengan sikap Rainer yang tidak mengakui perbuatannya yang semena-mena terhadap Nayra. Bukannya melindungi Nayra yang sudah banyak membantunya, tapi justru Rainer mengambil kesempatan dan kesempitan. Alhasil, mama Rainer tidak membiarkan hal itu terjadi lagi.
"Tidak apa-apa, Nay. Aku juga meminta melakukan hal yang sama. Daripada repot mengambil baju di rumah, lebih enak seperti ini," ucap mama Rainer sambil mengulas senyuman.
Nayra hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia bingung harus melakukan apa. Tak berapa lama kemudian, mama Rainer segera berpamitan dari kamar Nayra. Beliau harus segera kembali ke kamarnya sendiri.
Malam itu, Nayra hanya bisa berdoa semoga apa yang dilakukannya malam itu, tidak akan membuatnya kesulitan dikemudian hari.
\=\=\=
__ADS_1
Hhhmmm, masih belum ketemu nih Si Hujan nyariin Nayra.