Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Telepon Mama


__ADS_3

Rainer memindahkan Nayra yang sudah terlelap tersebut ke atas tempat tidur. Namun, saat Rainer mengangkat tubuh Nayra, rupanya si empunya merasa terganggu. Nayra langsung membuka kedua bola matanya dan menatap wajah Rainer yang berjarak cukup dekat dengan wajahnya.


"Ehm, Mas?" Nayra langsung melepaskan pelukan tangannya yang sempat refleks mengalung pada leher Rainer, begitu tubuhnya sudah mendarat dengan sempurna di atas tempat tidur.


"Ada apa?" tanya Rainer sambil tidak mengubah posisinya. Dia masih membungkuk di atas tubuh Nayra dengan menatap wajah sang istri.


"Ke-kenapa pindah ke sini?" Entah mengapa Nayra mendadak gugup saat mendapati tatapan sang suami.


"Memangnya kenapa? Jika tetap di atas sofa, akan sulit melakukan ini," jawab Rainer sambil mulai melakukan serangan gerilya.


Tangan kanan Rainer yang semula berada di atas perut Nayra, kini sudah mulai melakukan aksinya. Tanpa dikomando, tangan itu sudah mulai menyusup ke dalam baju Nayra yang entah sejak kapan sudah tersingkap ke atas.


Belum sempat Nayra memprotes tindakan tiba-tiba Rainer, bibirnya sudah dibungkam oleh bibir Rainer. Hingga beberapa saat kemudian, keduanya sudah mulai saling memmagut. Bahkan, kini kedua tangan Nayra sudah nangkring pada rambut bagian belakang kepala Rainer dan meeremasnya dengan gemas.


Namun, aktivitas mereka terhenti saat suara ponsel Rainer kembali terdengar. Sambil menahan segala rasa kesal, Rainer melepaskan pagutan dan aktivitas tangannya di bawah sana. Dia beranjak berdiri meninggalkan Nayra yang masih ngos-ngosan mengatur napas untuk mengambil ponselnya.


Kening Rainer berkerut saat mendapati nama sang mama pada layar ponselnya. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Rainer langsung menghubungkan panggilan telepon tersebut.


"Iya, Ma." Sapa Rainer setelah panggilan telepon tersebut terhubung.


"...."

__ADS_1


"Kapan?"


"...."


"Kok mendadak sekali? Kenapa aku juga harus ikut?" Rainer tampak tidak suka dengan apa yang baru saja di dengar dari sang mama.


"...."


"Mama dan papa saja sendiri. Buat apa juga aku harus ikut." Rainer masih mencoba menolak.


"...."


Hhhh. Rainer menghela napas berat. Memang sangat susah bagi Rainer untuk menolak keinginan ibu negara. Akhirnya, mau tidak mau Rainer menuruti permintaan mamanya tersebut.


"..."


"Hhhmmm."


Setelahnya, panggilan telepon terputus. Rainer meletakkan kembali ponselnya di atas meja dan berbalik untuk menghampiri Nayra yang tampak penasaran dengan apa yang baru saja dibicarakan oleh sang suami.


"Siapa, Mas? Mama?" tanya Nayra saat Rainer berjalan mendekatinya sambil melepaskan kaosnya.

__ADS_1


"Hhmmm."


"Ada apa?" tanya Nayra cukup penasaran. Namun, kedua netranya tak berhenti menatap tubuh bagian atas sang suami yang sudah polos tersebut.


"Mama dan Papa mengajak kita menemui seseorang nanti malam." Rainer sudah mulai beringsut menaiki tempat tidur. Dia langsung menarik kedua kaki Nayra hingga membuatnya jatuh terlentang.


"Eh, si-siapa?" Nayra mendadak gugup saat Rainer sudah mulai menindihnya.


"Nanti saja aku beritahu. Sekarang, kita selesaikan urusan ini dulu. Kita butuh olahraga untuk membakar kalori," ucap Rainer sambil mulai menjalankan aksinya.


Belum sempat Nayra membuka suara, bibirnya sudah kembali mendapatkan serangan dari sang suami. Siang itu, mereka mengulang kembali apa yang sudah mereka lakukan semalam. Beruntung bagi Nayra, karena Rainer tidak terlalu lama mengusiknya. 


Setelah sekitar satu jam bergulat, Rainer dan Nayra langsung membersihkan diri. Sore itu, mereka harus berbelanja baju yang akan digunakannya nanti malam.


"Kok aku jadi gugup ya, Mas." Nayra masih terlihat resah ketika berjalan meninggalkan kamar hotel bersama dengan Rainer.


"Kenapa?"


"Ehm, apa tidak apa-apa aku ikut nanti?"


"Tidak apa-apa. Cepat atau lambat, mereka juga pasti akan tahu jika kota sudah menikah."

__ADS_1


Mau tidak mau, Nayra hanya bisa mengangguk dan kembali berjalan mengikuti langkah kaki Rainer. 


__ADS_2