
Setelah acara gerebek menggerebek tadi, kini Rainer dan Nayra sudah duduk berhadapan dengan orang tua Rainer siapa lagi jika buka Aida, sang mama, dan William, sang papa. Rainer dan Nayra merasa seperti menjadi tersangka yang tengah disidang.
"Jadi, apa maksud semua ini, Rain? Apa yang kamu lakukan terhadap Nayra?" Mama Aida langsung mendelik tajam menatap ke arah sang putra.
Rainer mendesahkan napas berat. Harus berapa kali dia mencoba untuk menjelaskan kepada sang mama jika semua yang dilihat orang tuanya itu sama sekali tidak benar.
"Ma, harus berapa kali aku menjelaskan? Aku dan Nayra nggak ngapa-ngapain. Semalam, aku demam. Aku juga nggak ingat mengapa bisa berada di tempat tidur Nayra. Kami tertidur begitu saja karena kelelahan." Rainer mencoba menjelaskan kembali.
"Cckkk. Nggak ingat? Kok bisa nggak ingat kamu berjalan menghampiri Nayra. Memangnya kamu bisa terbang tanpa sadar?!" Mama Aida langsung mendengus kesal.
"Ma?" Rainer tampak pasrah dengan apa yang dituduhkan dang mama. Dia selalu tidak bisa menang berdebat melawan mamanya itu.
Hal itu juga yang membuat Rainer memilih untuk tinggal sendiri di penthouse dan menolak untuk tinggal bersama dengan orang tuanya.
Sementara itu, Nayra terlihat gugup. Dia sama sekali tidak menyangka jika kejadiannya akan sampai seperti ini. Nayra hanya bisa meremas ujung baju tidurnya sambil menggigiti bibir bawahnya. Kedua matanya berkaca-kaca. Tangis Nayra benar-benar nyaris pecah.
__ADS_1
Mama Aida yang melihat hal itu, langsung beringsut mendekati Nayra. Dia memeluk Nayra dari samping dan mengusap-usap lengannya.
"Sudah, Nay. Tidak apa-apa." Mama Aida berusaha menenangkan Nayra.
"Hiks hiks," tangis Nayra akhirnya pecah. "Ma-maaf, Nyonya. Ka-kami memang tidak melakukan apa-apa. Saya semalam sangat capek dan entah mengapa langsung tertidur begitu saja. Saya juga tidak bisa mengingat kapan saya berpindah posisi."
Nayra masih menangis tergugu. Papa Willi yang melihat hal itu langsung menatap tajam ke arah sang putra.
"Kalau sudah begini, apa yang mau kamu lakukan, Rain?"
Rainer langsung menoleh ke arah sang papa. Laki-laki paruh baya tersebut menatapnya dengan tatapan menunggu jawaban.
"Cckkk. Jangan cepat-cepat memutuskan sesuatu sebelum mengetahui duduk permasalahan yang sebenarnya, Rain."
"Maksudnya, Pa?" Rainer masih bingung dengan apa yang dikatakan oleh sang papa.
__ADS_1
Papa Willi mendesahkan napas berat sebelum menjelaskan kepada Rainer. Setelah itu, dia mengambil ponselnya dan membuka aplikasi perpesanan. Begitu menemukan apa yang dicari, papa Willi langsung memberikan ponselnya kepada Rainer.
Dengan ekspresi bingung, Rainer menerima ponsel sang papa. Dia membaca beberapa pesan yang berasal dari grup para pengusaha yang diikuti oleh sang papa.
Kedua bola mata Rainer langsung membulat saat membaca pesan-pesan yang ada di grup perpesanan tersebut. Hampir semua mengucapkan selamat kepada papa Willi.
Selamat? Selamat atas apa? Ya, selamat atas pernikahan Rainer. Disana, tidak ada yang menyebutkan siapa istri Rainer. Mereka hanya mendapatkan informasi jika Rainer sudah menikah. Bahkan, beberapa diantara mereka menanyakan kapan akan diselenggarakan resepsi pernikahan Rainer.
"A-apa ini, Pa? Siapa yang menikah?" Rainer langsung menatap bingung ke arah sang papa.
"Kamu."
"Aku? Kok aku sih, Pa? Aku menikah dengan siapa?" tanya Rainer bingung.
"Ccckkk. Mana Papa dan Mama tau. Yang sudah menikah dan kawin kan kamu. Mana mungkin ada berita seperti itu jika tidak ada sumbernya, Rain."
__ADS_1
\=\=\=
Hhhmm, berita dari mana sih ini?