Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Apa Kamu Bahagia?


__ADS_3

Rainer langsung mendengus kesal setelah mendengar ucapan sang mama. Dia tidak terima dengan apa yang diucapkan mamanya tersebut.


"Enak saja. Apa maksudnya itu? Aku bahkan hanya cium-cium saja. Aku nggak ngapa-ngapain, Ma." Rainer membela diri.


Mama Rainer mencebikkan bibir kesal. Dia ganti menatap wajah Nayra yang masih ketakutan.


"Apa benar begitu, Nay?"


Nayra gelagapan. Dia bingung harus menjawab apa. Namun, dia memberanikan diri menjawab sambil menganggukkan kepala.


"I-iya, Nyonya." Nayra menjawab sambil masih menundukkan kepala.


"Apa? Kamu masih berani memanggilku 'Nyonya' setelah apa yang terjadi, Nay?!" Suara mama Rainer terdengar sedikit lebih keras. Dan, tentu saja hal itu cukup membuat Rainer maupun Nayra terkejut.


Rainer menoleh ke arah Nayra. Dia bisa melihat dengan jelas wajah panik dan ketakutan Nayra. Rainer kembali melihat ekspresi wajah sang mama.


"Ma?"


"Kenapa? Kamu mau marah sama Mama, Rain?" Mama Rainer masih terlihat kesal.

__ADS_1


"Bukan begitu, Ma. Ini semua bukan salah Nayra. Ini semua salahku. Aku yang memaksa Nayra melakukan ini semua." Rainer mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Nayra.


"Maksud kamu apa? Apa kamu mau bilang jika Nayra terpaksa melakukan ini semua karena paksaan kamu, begitu?"


"Ehm, i-itu memang benar. Aku yang memaksanya melakukan ini semua, Ma." Rainer akhirnya berbicara.


Kening mama Rainer berkerut dengan tatapan mata tajam masih menghunus Rainer.


"Apa maksud kamu memaksa Nayra melakukan ini semua Rain? Apa kamu tidak berpikir bagaimana perasaan Nayra? Apa dia bahagia? Apa dia tertekan? Apa dia ikhlas menikah dengan kamu? Dan, bagaimana jika Nayra sudah punya kekasih di luar sana? Meskipun selama ini, Mama tidak pernah melihat Nayra dekat dengan laki-laki manapun, tapi Mama yakin jika Nayra sudah punya kriteria sendiri tentang calon pasangannya."


"Kamu tidak bisa seenaknya memaksa orang untuk menikah denganmu seperti itu, Rain. Pikirkan juga perasaan Nayra. Apa kamu sudah bertanya bagaimana perasaan Nayra?"


Rainer cukup terkejut setelah mendengar ucapan sang mama. Dia memang tidak memikirkan hal itu sebelumnya. Saat memutuskan untuk segera menikahi Nayra, yang ada dipikirannya adalah bagaimana cara mencegah Nayra agar tetap berada di sisinya dan tidak bisa di bawa pergi lagi oleh keluarganya.


Mendadak, rasa panik langsung menyusup di hati Rainer. Dia menoleh ke arah Nayra dengan tatapan khawatirnya.


"Apa kamu tidak bahagia menikah denganku?" tanya Rainer tiba-tiba. Nayra pun langsung menoleh ke arah Rainer.


Bugh.

__ADS_1


Belum sempat Nayra menjawab pertanyaan Rainer, sang mama sudah lebih dulu melempar bantal sofa ke arahnya.


"Terlambat kamu menanyakan hal itu kepada Nayra sekarang, Rain. Dia sudah terlanjur menjadi istri kamu. Suka tidak suka, dia terpaksa harus menerimanya."


"Kamu itu laki-laki, Rain. Jangan berpikir jika semua keputusan yang kamu ambil, pasti akan disetujui orang lain, terutama Nayra. Belajarlah untuk mendengarkan orang lain. Sifat kamu yang seperti ini yang membuat Mama kesal."


Tidak terima dengan ucapan sang mama, Rainer pun kembali bersuara.


"Tapi kemarin Nayra sudah setuju untuk menikah denganku, Ma."


"Karena kamu memaksanya, kan?"


Rainer menggelengkan kepala. "Tidak, Ma. Nayra tidak terpaksa. Benarkan?" Rainer menoleh ke arah Nayra.


Karena masih takut dengan mama Rainer, Nayra pun langsung menganggukkan kepala.


"I-iya, Mas. Aku tidak terpaksa." Cicit Nayra lirih.


Mendengar jawaban Nayra, sontak saja mama Rainer langsung terkejut.

__ADS_1


"Kamu memanggil Rainer dengan panggilan 'Mas'?"


Scroll ya, jangan lupa vote dan hadiahnya banyak-banyak. Biar tambah semangat.


__ADS_2