
Citra langsung menutup mulutnya dengan mata melotot. Dia cukup kaget dengan ucapannya yang sudah keceplosan tersebut. Degup jantungnya juga mendadak berpacu sangat cepat. Entah mengapa dia menjadi salah tingkah seperti itu.
"Kamu beneran mau dihalalin, Cit? Kalau mau sih ayo-ayo saja. Aku nggak bakal nolak, kok." Felix langsung menyambar ucapan Citra meski belum mendapatkan respons dari Citra.
Setelah berhasil mengatur degup jantungnya, Citra segera menurunkan kedua tangan yang menutupi mulutnya. Sambil mencebikkan bibir, Citra berjalan menuju dapur.
"Siapa yang mau dihalalin, Om. Nggak usah ngadi-ngadi, ya. Aku kira, di luar sana juga pasti nggak akan ada perempuan yang semudah itu mau Om halalin." Citra melenggang pergi menuju dapur.
Merasa tersinggung, Felix pun langsung ikut beranjak. Dia merasa tidak terima dengan ucapan Citra. Apa memang dia setidak pantas itu untuk menikah? Batin Felix.
"Apa maksud kamu tidak ada yang mau menikah denganku?" Felix mengekori Citra sambil menuntut balasan.
Citra meneruskan niatnya untuk menyiapkan bahan-bahan makanan. Dia membuka pintu kulkas dan mulai mengambil bahan yang diperlukannya.
__ADS_1
Sambil menoleh ke arah Felix, Citra mendesahkan napas berat.
"Maaf, Om. Bukan maksudku menyinggung perasaan, Om. Hanya saja, aku masih berpikir tentang status sebenarnya Finn. Kalau memang dia anak biologis Om, siapa ibunya? Dimana dia sekarang? Masih hidup atau sudah meninggal? Jangan sampai nanti istri Om kena labrak jika ibu Finn tiba-tiba datang."
"Dan, kalaupun Finn bukan anak biologis Om, setidaknya cari tahu dulu asal usulnya dia. Jika Om mau mengadopsi, sebaiknya ada surat-surat resminya agar nanti tidak ada keributan di kemudian hari."
"Keluarga, itu yang dibutuhkan kenyamanan dan ketenangan, Om. Jika masalah asal usul Finn belum selesai dengan benar, aku kira orang yang mau menikah dengan Om juga pasti pikir-pikir dulu," ucap Citra panjang lebar.
Felix yang mendengar ucapan tersebut langsung terdiam. Memang apa yang disampaikan oleh Citra itu ada benarnya. Sudah seharusnya Felix menyelesaikan masalah Finn dengan tuntas dulu.
Felix bergeser dan menyandarkan punggungnya pada pintu kulkas sambil menghadap ke arah Citra. Dia berniat untuk memberitahukan hasil tes DNA nya dengan Finn.
"Ehm, sebenarnya, hasil tes DNA kemarin sudah keluar," ucap Felix. Entah mengapa dia masih merasa ada yang mengganjal di hatinya.
__ADS_1
Citra yang mendengar ucapan Felix tersebut, langsung menoleh. Ekspresi penasaran terlihat sekali di wajahnya saat itu.
"Benarkah, Om? Lalu, apa hasilnya?" Entah mengapa Citra menjadi penasaran. Dia bahkan sudah berbalik dan langsung berdiri di hadapan Felix.
Felix menatap wajah Citra lekat-lekat. Entah mengapa dia mendadak takut menyampaikan hasil tes DNA tersebut. Felix tidak mau jika Citra sampai berpikiran buruk tentangnya. Hhmmm, babang Felix nggak tau saja jika kejadian Finn sudah membuat Citra berpikiran buruk tentangnya.
Karena Felix tidak segera menjawab, Citra semakin mendesaknya.
"Ehm, ha-hasilnya…," Felix masih menjeda penjelasannya.
"Apa, Om? Benar Finn anak biologis, Om, kan?" Citra yang penasaran langsung memberikan tebakan. Ekspresi wajahnya pun terlihat menuduh ke arah Felix.
Mendapati tatapan seperti itu, Felix hanya bisa menelan salivanya dengan keras. Entah mengapa lidahnya mendadak kelu untuk menjawab. Namun, Felix tetap menganggukkan kepala.
__ADS_1
"Iya. Dia anakku."