
Sah!
Sah!
Sah!
Suara menggema di ruangan KUA tempat berlangsungnya prosesi ijab kabul yang dilakukan oleh Rainer.
Plong.
Itulah yang saat itu dirasakan oleh Rainer dan juga Nayra. Mereka berdua berharap jika kedepannya kehidupan rumah tangga mereka akan berlangsung baik-baik saja.
Setelah doa, penandatanganan dokumen pernikahan pun dilakukan. Baru kemudian, pengambilan foto dimulai. Meskipun tampak canggung, Nayra tetap menyambut uluran tangan Rainer yang kini sudah menjadi suami sahnya. Dan, sesuai instruksi, Rainer pun juga mengecup kening sang istri.
Kegiatan tersebut diabadikan oleh seorang fotografer yang memang sudah disiapkan oleh Felix. Entah apa yang dilakukan oleh Felix sehingga persiapan pernikahan dadakan Rainer dan Nayra tersebut bisa terlaksana dengan baik.
Pengambilan foto pun juga dilakukan ala-ala prewed di depan masjid dan taman KUA. Tidak banyak, karena para pegawai dan pengunjung sudah mulai berdatangan. Baik Rainer dan Nayra tidak ingin aktivitas mereka menjadi tontonan dari banyak orang.
Setelah semua selesai, Rainer dan Nayra hendak pulang. Kali ini, mereka akan pulang ke penthouse Rainer, tidak lagi pulang ke apartemen Rainer semalam.
"Selamat, Rain. Akhirnya status lo laku juga, nggak jomblo lagi," ucap Felix sambil terkekeh geli.
__ADS_1
Rainer mendelik tajam menatap sahabat sekaligus asistennya tersebut.
"Maksud lo gue nggak laku-laku begitu?" tanya Rainer gusar.
Entah mengapa Nayra yang berdiri di samping Rainer, refleks mengusap-usap dada sang suami untuk menenangkannya. Cieee, suami euy. ðŸ¤
Dan, tentu saja tindakan Nayra tersebut tidak luput dari penglihatan Felix. Seperti mendapat asupan bahan ejekan, Felix langsung mulai menggoda pasangan suami istri baru yang nggak pernah akur tersebut.
"Ciieee, yang sudah mulai usap-usap ddada. Nanti malam sudah mulai turun tuh tangan. Yang di usap sudah beda. Eh tapi, jangan hanya di usap, Nay. Boleh digenggam, di urut, bahkan boleh dicicipi. Hahaha." Felix menggoda Nayra dan Rainer dengan ekspresi tanpa dosa.
Empat orang lainnya yang merupakan orang kepercayaan Rainer, langsung terkekeh geli mendengar godaan Felix. Mereka masih belum pulang setelah menjadi saksi pernikahan atasannya tersebut.
Rainer pun menyadari tindakan Nayra. Sebenarnya, dia juga merasa malu dengan ucapan Felix. Namun, bukan Rainer yang tidak bisa ketus dan bermulut pedas.
"Berisik! Nggak usah kasih tutorial. Lakuin sendiri sana. Orang masih belum kawin juga," jawab Rainer.
"Nikah dulu oey." Felix tidak terima. Dia langsung memukul lengan Rainer dengan pukulan ringan.
Setelah obrolan absurd tersebut, akhirnya Rainer membawa Nayra pergi menuju penthouse. Sementara Felix dan yang lainnya, harus segera berangkat ke kantor. Felix juga masih mempunyai tugas lainnya dari Rainer. Dan, tentu saja dia harus menuruti perintah itu jika tidak mau sahabat sekaligus atasannya itu kesal. Bisa berantakan hidupnya jika sampai Rainer kesal, batin Felix.
Tak butuh waktu lama, Rainer dan Nayra sudah sampai di penthouse Rainer. Nayra baru menyadari jika mereka tidak kembali ke tempat semalam.
__ADS_1
"Kok kita kemari, Pak?" tanya Nayra setelah mobil Rainer memasuki basement.
Bukannya menjawab, Rainer malah menoleh dan menatap wajah Nayra dengan tatapan tajam. Tentu saja hal itu membuat Nayra sedikit takut.
"A-ada apa?" Nayra tampak was-was.
Rainer mematikan mesin mobil setelah berhasil memarkirkannya dengan baik. Setelah itu, dia menggeser tubuhnya ke arah Nayra.
"Kita sudah menikah. Mulai sekarang, aku mau panggilan itu diganti jika di luar kantor. Panggil aku 'sayang'," ucap Rainer dengan tatapan serius.
Glek.
"Sa-sayang?"
"Hhmmm? Mau apa? Cium? Sini."
•••
Puasa oey, puasa. Sabar napa, Rain? 🤧
Untuk part horor di semua cerita othor, tolong jangan dibaca siang hari bagi yang puasa, ya. Terima kasih.
__ADS_1