
Rainer mendengus kesal setelah aktivitasnya dengan Nayra tertunda karena Felix menghubunginya pagi itu. Hal berbeda pun dirasakan oleh Nayra. Dia bisa bernapas lega, saat Rainer melepaskan pelukannya dan menarik kursi untuk melanjutkan niatan sarapan.
Entah mengapa Nayra masih merasa malu meskipun semalam mereka sudah buka-bukaan. Nayra mendadak canggung saat menyadari tingkah dan tatapan Rainer yang sepertinya ingin mengulangi aktivitas mereka pada pagi pertama tersebut.
"Iya, gue akan langsung turun setelah sarapan. Lagian, lo juga masih di jalan. Ngapain ganggu gue pagi-pagi begini, sih?" Rainer masih belum berhenti menggerutu karena telepon Felix.
"Jika tidak begini, bisa dipastikan gue akan 'ngoyot' menunggu lo di lobi hotel," gerutu Felix.
"Cckkk."
"Sudah, gue matikan dulu."
"Hhhmmm."
Setelahnya, panggilan telepon tersebut terputus. Rainer kembali fokus pada sarapan yang sudah disiapkan oleh Nayra. Sejak bagung tidur tadi, belum ada obrolan yang berarti antara Rainet dan Nayra. Mereka masih sama-sama canggung karena aktivitas mereka semalam.
"Hari ini tidak usah ke kantor," ucap Rainer sambil menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.
"Ehm, kenapa?" Nayra menghentikan aktivitas sarapannya dan menoleh ke arah Rainer yang ada di sampingnya.
__ADS_1
"Memangnya sudah tidak apa-apa beraktivitas? Jalan kamu sudah tidak perih lagi?" tanya Rainer sambil melirik ke bagian bawah tubuh Nayra. Tentu saja hal itu membuat Nayra semakin malu.
Bohong rasanya jika bagian inti tubuhnya sudah tidak terasa sakit. Tentu saja Nayra masih bisa merasakan sakit, bahkan perih di bagian bawah sana. Namun, dia cukup malu jika harus mengatakan hal yang sebenarnya kepada Rainer.
"Ehm, ti-tidak apa-apa," ucap Nayra sambil menundukkan kepala. Wajahnya sudah mulai merona ketika hal semalam mulai disinggung kembali oleh sang suami.
Kening Rainer berkerut sambil menoleh ke arah Nayra.
"Yakin? Perasaan jalan kamu masih terlihat aneh. Bahkan, kaki kamu tidak bisa rapat." Rainer mengatakan hal itu dengan ekspresi datarnya.
"Eh, i-itu…," Nayra benar-benar malu. Dia bingung harus menjawab apa. Nayra bahkan sudah bergerak-gerak gelisah karena tidak tahu lagi harus menjawab apa.
"Ma-mass?"
"Tidak usah ke kantor hari ini. Kerjakan semua pekerjaan kamu di sini. Aku akan meminta Resta untuk mengirimkan semua pekerjaan kamu melalui email," ucap Rainer tak terbantahkan.
Mau tidak mau, Nayra hanya bisa pasrah. Dia hanya bisa menganggukkan kepala menuruti permintaan Rainer. Lagi pula, Nayra juga masih merasa tidak nyaman jika harus berjalan-jauh dengan kondisi bagian bawahnya sesang, ah sudahlah.
Setelah itu, sarapan keduanya pun kembali dilakukan. Hingga sekitar lima belas menit kemudian, Rainer dan Nayra sudah menyelesaikan sarapannya. Rainer segera berpamitan karena Felix sudah kembali menerornya. Dia akan mengadakan meeting online di ruangan yang memang sudah disiapkan di lantai dua bangunan hotel tersebut.
__ADS_1
Sepeninggal Rainer, Nayra segera membereskan sisa sarapan mereka. Dia juga meminta petugas hotel untuk membereskan kamar karena Nayra sudah harus memeriksa pekerjaannya. Nayra memilih bekerja di balkon kamar sambil menikmati suasana pagi hari itu.
***
Sementara di pintu kedatangan bandara, seorang perempuan tengah mengedarkan pandangan untuk mencari keberadaan seseorang yang menjemputnya.
Setelah mengedarkan pandangan ke kiri dan ke kanan, terlihat seseorang yang tengah melambaikan tangan. Begitu melihat hal itu, perempuan tersebut langsung berjalan menghampiri.
"Kenapa dadakan? Bukankah gue sudah siapkan tiket untuk nanti sore?" cecar si penjemput ketika seorang perempuan baru saja menghampirinya.
"Gue benar-benar penasaran dengan hubungan Rainer dan Nayra yang sebenarnya. Antar gue ke hotel tempat mereka menginap."
"Eh, yakin mau sekarang?"
"Hhhmmm."
\=\=\=
Kira-kira, mau apa nih?
__ADS_1