Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Tawaran Felix


__ADS_3

Sementara di tempat Felix, sejak pagi dia sudah sangat ribut di apartemennya. Dia yang kemarin mendapatkan kursus singkat dari Citra untuk memandikan dan mengurus bayi berusia tiga bulan tersebut, masih merasa kesulitan. Apalagi, saat mendapati bayi laki-laki tersebut sedang buang air besar. Felix langsung panik. Dia segera bergegas menggedor pintu apartemen Citra pagi hari itu.


Ceklek.


Tampak Citra membuka pintu apartemennya dengan tangan masih belepotan tepung. Rupanya, dia sedang memasak pagi itu.


"Ada apa, Om?" tanya Citra dengan kening berkerut.


"Eh, itu, anu, mau minta tolong," jawab Felix sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Minta tolong untuk apa?"


"Ehm, Finn buang air besar. Aku nggak tahu bagaimana cara bersihinnya," jawab Felix sambil nyengir.


Citra terlihat mendesahkan napas berat. Namun, setelah itu dia langsung menganggukkan kepala tanda setuju. Entah mengapa jika berhubungan dengan Finn, Citra merasa berat untuk menolaknya. Secepat itukah rasa sayang untuk bayi laki-laki itu? Entahlah. Citra sendiri juga tidak tahu jawabannya.


Citra segera mencuci tangan dan bergegas menuju apartemen Felix. Dia segera membersihkan popok Finn dan berniat langsung memandikannya. Bayi laki-laki tersebut sangat senang dengan kehadiran Citra disana. Bibir Finn penuh dengan tawa saat Citra selalu menggodanya.


Felix yang diam-diam memperhatikan apa yang Citra lakukan, hanya bisa mengulas senyuman. Entah mengapa bayangan memiliki keluarga yang harmonis mendadak muncul di kepalanya. Hingga membuat Felix langsung menggelengkan kepala untuk menghilangkan bayangan aneh tersebut.


Setelah mandi dan berganti baju, Citra kembali memberikan asupan nutrisi untuk Finn hingga membuat bayi laki-laki tersebut terlelap. Hampir satu jam lamanya Citra berada di apartemen Felix. 


Sementara itu, Felix sedang menyiapkan sarapan untuk mereka. Dia tahu jika Citra pasti belum sarapan karena tadi saat dia datang ke apartemennya, Citra sedang memasak.


Untuk masakan, tak perlu diragukan lagi. Felix cukup jago memasak. Bahkan, saat berada di apartemennya, Rainer sering minta dimasakkan oleh Felix. Rainer cukup suka dengan masakan sahabat sekaligus asistennya tersebut.

__ADS_1


Setelah menidurkan Finn, Citra segera menata tempat tidur bayi laki-laki tersebut. Dia juga memberikan beberapa kecupan pada pipi gembul Finn. Entah mengapa saat melihat Finn, Citra jadi membayangkan keponakannya yang juga pasti menggemaskan jika seandainya sempat lahir. Namun sayang, keponakannya tersebut tidak sempat dilahirkan.


Citra segera bergegas keluar dari kamar Felix. Dia hendak pulang untuk menyelesaikan masakannya. Namun, langkah kaki Citra terhenti saat Felix memanggilnya dari arah ruang makan.


"Aku sudah masak untuk sarapan. Kamu bisa makan disini," ucap Felix sambil meletakkan piring untuk mereka.


Citra menggelengkan kepala. Dia tidak berniat sarapan di tempat Felix.


"Maaf, Om. Aku sedang buat sarapan tadi. Aku akan menyelesaikan masakanku," jawab Citra.


Namun, bukan Felix namanya jika tidak mendapatkan apa yang diinginkannya.


"Aku sudah masak banyak pagi ini. Ya, setidaknya ini sebagai ucapan terima kasih atas bantuan kamu merawat Finn," ucap Felix dengan wajah dibuat semelas mungkin.


Citra yang baru kali ini melihat wajah Felix memelas seperti itu, menjadi tidak enak hati jika menolaknya lagi. Akhirnya, dia setuju untuk ikut sarapan di sana. Setelah itu, mereka segera bersiap untuk sarapan.


"Sudah."


Felix mengangguk-anggukkan kepala. "Terima kasih. Aku nggak tahu jika tidak ada kamu harus melakukan apa," jawab felix jujur.


Citra hanya mengangguk sambil sedikit mengulas senyumannya. Setelah itu, sarapan keduanya berlangsung dengan hening.


"Bagaimana kuliah kamu?" tanya Felix.


Citra mendongakkan kepala setelah menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.

__ADS_1


"Aku sudah mengajukan cuti untuk semester depan, Om."


Felix mendongakkan kepala setelah mendengar jawaban Citra. Dia mengerutkan kening sambil menatap lekat-lekat perempuan yang ada di depannya tersebut.


"Cuti? Kenapa?" tanya Felix penasaran.


"Aku harus kumpulin uang untuk biaya kuliah, Om. Untuk biaya kuliah semester depan, masih sanggup. Tapi, untuk semester depannya lagi sudah nggak sanggup. Jadi, aku pikir daripada ambil cuti setelah semester depan, mendingan ambil cuti sekarang saja. Biar bisa sedikit persiapan untuk semester depan," jawab Citra sambil menikmati sarapan buatan Felix. Dan, ternyata dia cukup suka dengan masakan laki-laki yang ada di depannya tersebut.


"Memangnya kamu mau kerja apa?"


"Temanku ada yang nawarin jadi penjaga vila orang kaya, Om. Dan, bayarannya cukup gede. Selain bisa menabung, aku juga bisa mengirit biaya tempat tinggal karena tidak perlu bayar sewa kos. Untuk makan, juga sudah disiapkan bahan-bahan makanan, jadi tinggal masak." Citra tampak senang dengan rencana tersebut.


Memangnya dimana lokasi villa itu?"


"Lembang."


Kedua bola mata Felix langsung membulat setelah mendengar jawaban Citra. Entah mengapa dia merasa resah jika Citra pergi jauh. Dia merasa tidak akan ada yang membantunya merawat Finn. Secepat kilat Felix mencari cara untuk mencegah kepergian Citra.


"Ehm, bagaimana jika ada tawaran pekerjaan lain yang cukup menguntungkan kamu?"


Kening Citra berkerut. Dia masih belum bisa menangkap maksud ucapan Felix.


"Apa maksudnya, Om? Tawaran pekerjaan apa?"


"Jadi mamanya Finn," jawab Felix dengan cepat.

__ADS_1


"Eh?"


Sek sek iki piye maksudnya Lix? 


__ADS_2