Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Persiapan Nayra 2


__ADS_3

Pesanan makan malam pun sudah datang. Nayra segera menyiapkan makan malam tersebut di balkon. Dia ingin makan makan dengan suasana romantis. Nayra jadi ingat makan malam di apartemen Rainer dulu. Benar-benar tidak ada romantis-romantisnya.


Jika mengingat hal itu, Nayra benar-benar merasa bersalah. Namun kali ini, Nayra ingin menebus kejadian waktu itu, sekaligus memberikan bonus untuk Rainer. 


Wajah Nayra bahkan langsung terasa panas jika mengingat apa yang sudah direncanakan dan dipersiapkannya.


Hingga sekitar sepuluh menit kemudian, Rainer terlihat sudah datang. Nayra segera menyambut sang suami dengan membawakan tas dan sebuah paper bag. Kening Nayra berkerut saat menerima paper bag yang diberikan kepadanya tersebut.


"Apa ini, Mas?" tanya Nayra sambil menatap paper bag tersebut.


"Entahlah. Itu dari Felix. Aku juga tidak tahu apa isinya."


Kening Nayra berkerut. "Ini untukku, Mas?"


"Hhmmm."

__ADS_1


"Kok tumben Pak Felix baik," jawab Nayra sambil mengikuti Rainer menuju sofa untuk melepaskan sepatunya.


"Cckkk. Begitu-begitu Felix baik, kok. Memang sikapnya saja yang suka slengekan."


"Iya, iya, Mas. Aku juga tahu jika Pak Felix memang orang yang baik. Tadi, aku hanya kaget. Kok bisa-bisanya dia kasih aku hadiah."


"Entahlah. Aku juga tidak tahu apa isinya. Coba saja kamu lihat," ucap Rainer sambil mulai melepas kancing kemejanya.


Nayra yang melihat hal itu, langsung meletakkan paper bag pemberian Felix, dan berjalan mengambil handuk dan baju ganti untuk Rainer. Dia tahu jika suaminya itu hendak membersihkan diri.


"Hhmmm."


Setelah menerima handuk pemberian Nayra, Rainer langsung bergegas menuju kamar mandi. Sedangkan Nayra langsung menyiapkan makanan untuk makan malam mereka. Dia melupakan niatnya untuk memeriksa hadiah pemberian Felix.


Tak berapa lama kemudian, Rainer sudah selesai membersihkan diri. Dia juga sudah berganti baju dengan celana pendek dan kaos biasa yang disiapkan oleh Nayra. Setelahnya, Rainer langsung menghampiri Nayra yang sudah menunggu di balkon kamar hotel dengan makan malam yang juga sudah siap.

__ADS_1


Malam itu, makan malam mereka terasa lebih baik dari makan malam di apartemen Rainer dulu. Rainer dan Nayra mengobrol tentang banyak hal dengan santainya. Bahkan, Nayra sempat melupakan niatnya sesaat untuk memberikan bonus kepada Rainer.


Namun, begitu makan malam selesai, Nayra kembali teringat dengan niatnya. Tiba-tiba jantungnya mendadak berdegup dengan kencang saat jarum jam menunjukkan pukul delapan lewat. 


Setelah makan malam, Rainer mendudukkan diri di sofa ruang tengah sambil menonton televisi. Dia menunggu Nayra yang bergantian menggosok gigi. 


Sedangkan di dalam kamar mandi, Nayra masih memegangi lingerie yang tadi siang sudah dibelinya. Dia benar-benar malu memakai lingerie berwarna maroon tersebut. Bukan karena warnanya, tapi karena modelnya yang benar-benar terlalu berani. 


Bagian atas, hanya terbuat kain transparan dengan tali sangat tipis sebagai penyangga. Jika Nayra memakainya, benda itu sama sekali tidak bisa menyembunyikan bentuk dan ukuran bakpao jumbonya. Bahkan, bagian tengah juga sepertinya sengaja menonjolkan boba alami miliknya.


Di bagian bawah, ada kain yang menjuntai hingga pangkal paha. Namun, lagi-lagi bahan dari kain tersebut tidak mampu menutupi apapun di dalamnya. Kalau ada yang melihat, bisa dipastikan akan merasa kesal karena tidak ada gunanya sama sekali. Istilahnya, 'nyrimpeti mripat'.


Belum cukup sampai situ, sebagai penutup gua alami Nayra, hanya ada sebuah segitiga sama kaki yang super kecil dengan tali di masing-masing sudutnya. Nayra sampai merinding melihat bentuk benda itu.


"Astaga, ini bagaimana rasanya jika dipakai? Apa tidak 'nylempit'?"

__ADS_1


Tinggalkan jejak dulu sebelum scroll ya 🤗


__ADS_2