Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Usaha Nayra


__ADS_3

Pyaaarrrr.


Kedua bola mata Resta langsung membulat setelah melihat ponselnya dibanting oleh Rainer. Ponsel tersebut hancur berkeping-keping dan terkapar mengenaskan di dekat kaki meja kerja Rainer. 


"Po-ponsel saya, Pak," cicit Resta. Wajahnya tampak sendu melihat ponselnya sudah tidak bernyawa tersebut.


Nayra yang melihat hal itu, menjadi kasihan. Dia berjalan mendekati Resta dan menepuk-nepuk bahu laki-laki itu dengan pelan.


"Aku akan ganti ponsel kamu," bisik Nayra.


Resta langsung menoleh ke arah Nayra dan menyunggingkan senyum bahagia. Tak lupa juga anggukan kepala yang diikuti ucapan terima kasih. 


Sementara Rainer terlihat sedang memijat pelipisnya. Dia tampak sangat tertekan dengan keadaan yang dialami oleh perusahaannya tersebut. Ditambah lagi, pemberitaan miring yang baru saja disampaikan oleh Resta.


Perusahaan Rainer diberitakan melakukan penyuapan kepada pihak pemerintah karena beberapa kali melakukan kerja sama dengan mereka. Dan, tentu saja berita tersebut ditambah sana sini sehingga membuat pemberitaan seolah-olah benar adanya.


Nayra meminta Resta untuk meninggalkan ruang kerja Rainer. Nayra ingin berbicara berdua dengan Rainer untuk menenangkan laki-laki tersebut.


"Mas," Nayra mengusap-usap bahu Rainer berusaha untuk menenangkan suaminya tersebut. "Jangan begini. Jika ada masalah, coba dinginkan kepala dulu. Jangan terlalu menuruti emosi." Nayra masih mengusap-usap bahu Rainer hingga lengan.


"Aku nggak tahu ternyata ada orang yang sedendam ini dengan perusahaan, Nay." Lagi-lagi Rainer mengusap wajahnya dengan kasar. "Kalau aku berdiri sendiri, aku tidak akan mungkin sekalut ini saat ada masalah dengan perusahaan. Tapi, jika sampai ada apa-apa dengan perusahaan, bagaimana nasib para karyawan? Nasib para keluarga mereka? Nasib orang-orang yang menjadi tanggungan mereka? Mereka akan ikut merasakan dampaknya, Nay."

__ADS_1


Nayra yang mendengar ucapan Rainer, langsung membulatkan kedua bila mata dan mulutnya. Dia sama sekali tidak menyangka jika Rainer akan mempunyai pemikiran seperti itu.


Tapi, bukankah itu sesuatu hal wajar yang dilakukan oleh pemimpin perusahaan yang membawahi banyak pekerja? batin Nayra.


Nayra yang sudah cukup lama bekerja dengan Rainer, benar-benar tidak menyangka jika Rainer sebegini frustasi memikirkan nasib para karyawannya. Selama ini, Nayra memang tahu jika Rainer adalah tipe orang yang keras, dingin, dan juga tidak ramah bintang tiga terhadap para karyawan. 


Tapi, dia benar-benar bekerja dengan baik untuk tetap menjaga kestabilan perusahaan. Dan, Nayra cukup bangga dengan hal itu. 


Hhmmm, sepertinya, Rainer pantas dikasih hadiah nih. Tapi, hadiah apa ya? 🤔


Setelah beberapa saat memberikan beberapa bujukan, akhirnya Nayra berhasil membujuk Rainer untuk pulang dulu. Dia ingin agar Rainer bisa menenangkan diri dulu sebelum mengambil langkah yang diperlukan untuk menyelesaikan permasalahan perusahaan.


Sore itu, Nayra dan Rainer langsung bergegas pulang. Baik Nayra maupun Rainer, tidak ada niatan untuk melakukan aktivitas lain di luar. Hingga beberapa saat kemudian, Nayra dan Rainer sudah tiba di penthouse.


"Terserah kamu saja." Rainer menjawab asal sambil melepaskan kancing-kancing kemejanya.


Nayra yang melihat hal itu, langsung berjalan mendekat. Dia berdiri di depan Rainer dan mengambil alih aktivitas melepaskan kancing-kancing kemeja Rainer.


"Aku tahu kamu sedang pusing, Mas. Tapi, ada baiknya jika mendinginkan isi kepala. Jika kamu masih emosi begini, bukan hasil baik yang di dapat, tapi bisa-bisa justru malah semakin menambah masalah," ucap Nayra.


Rainer masih diam sambil menatap wajah Nayra. Entah apa yang dipikirkannya hingga membuat Rainer tidak bereaksi terhadap ucapan Nayra tersebut.

__ADS_1


Melihat sang suami tidak memberikan respon, Nayra hanya bisa mencebikkan bibir saat membuka kemeja Rainer dan menurunkannya hingga melewati kedua bahu Rainer.


Setelah kemeja tersebut terlepas, Nayra segera berjalan dan melemparkan kemeja tersebut ke arah keranjang yang berisi pakaian kotor. Dan setelahnya, Nayra segera berbalik. Dia melepaskan kancing-kancing baju yang dipakainya dengan gerakan yang sedikit menggoda Rainer.


Biarlah aku sedikit agresif kali ini. Siapa tahu cara seperti ini bisa meredakan hawa panas yang dirasakan oleh Rainer, batin Nayra.


Rainer masih menatap Nayra yang berjalan ke arahnya tanoa berkedip. Setiap gerakan tangan Nayra, tak luput dari perhatian mata Rainer. Namun, dia masih diam tak bergerak di tempat yang sama.


Kini, Nayra sudah berhasil melepaskan pakaian atasnya. Dia berdiri di depan Rainer hanya dengan menggunakan 'kacamata jumbo' yang menutupi tubuh bagian atasnya tersebut.


"Kok diam saja sih, Mas?" tanya Nayra sambil menatap ke dalam mata Rainer. 


Nayra merasa sedikit kesal karena tidak biasanya Rainer bersikap seperti itu. Biasanya, Rainer akan langsung gercep saat mendapati umpan sedikit saja. 


Nayra yang melihat Rainer masih diam tak bergerak, berusaha menggoda suaminya dengan cara lain. Dia menggerakkan tangannya ke bawah dengan maksud menggoda senjata andalah Rainer tersebut. Nayra yakin jika Rainer tidak akan bisa menahan godaan di bawah sana.


Namun, begitu tangan Nayra menyentuh bagian bawah tubuh suaminya, dia dibuat terkejut hingga membuatnya secara tidak sadar langsung meereemaass 'tongkat kehidupan' Rainer.


"Astaga, Mas! Ini sudah berdiri dengan keras begini? Kamu ngapain dari tadi diam?!"


Kira-kira Rainer jawab apa ya?

__ADS_1


Ya biar ….


Jangan lupa tinggalkan jejak ya, biar tambah rame. 🤗


__ADS_2