
Kali ini, bukan hanya Rainer yang terkejut mendengar pertanyaan sang mama. Namun, Nayra pun juga merasakan hal yang sama.
"Apa maksud, Mama?" Rainer menatap wajah mamanya dengan kening berkerut.
"Cckkk. Masih tanya apa maksud Mama. Mama ingin tanya apa maksud kamu membawa Nayra ke sini? Bukankah sejak tadi kamu tidak mau ikut bergabung dengan Papa kamu?"
Rainer terlihat bingung dan salah tingkah. "Ehm, i-itu…,"
"Itu apa? Kamu pasti tidak bisa menjawab mengapa kamu tiba-tiba mengajak Nayra ke sini, kan? Kamu pasti kesal dan marah saat melihat Nayra dansa dengan laki-laki lain."
"Mama tadi sebelum naik sempat melihat Nayra turun ke lantai dansa dengan seorang laki-laki. Dan, Mama yakin kamu pun pasti juga melihatnya dari ruang VIP. Benar, kan?"
Lagi-lagi Rainer cukup kaget dengan apa yang dikatakan oleh sang mama. Dia benar-benar tidak menyangka jika mamanya itu bisa menebak dengan benar apa yang terjadi dan dirasakannya.
"Ma…," Rainer semakin bingung. Kini, genggaman tangannya pada tangan Nayra pun semakin kuat.
"Apa? Kamu mau mengelak apa lagi? Masih mau menyangkal jika kamu tidak cemburu?" Mama Rainer menatap wajah putranya tersebut dengan ketus.
__ADS_1
"Ma, bukan seperti itu." Rainer masih bersikeras tidak mengakui apa yang dirasakannya.
Mendengar sang putra yang masih menyangkal, mama Rainer benar-benar merasa kesal. Selanjutnya, mama Rainer menatap lekat-lekat wajah dua orang yang ada di depannya tersebut sebelum kembali bersuara.
"Baiklah. Mama tidak akan memaksa kamu untuk menjawab pertanyaan Mama, Rain. Namun, kali ini Mama ingin menegaskan sesuatu kepada kamu, Nay." Mama Rainer menoleh ke arah Nayra. Tentu saja hal itu membuat jantung Nayra kebat kebit.
Selama Nayra mengenal orang tua Rainer, belum pernah sekalipun Nayra mendapati tatapan tajam seperti saat itu. Nyali Nayra benar-benar ciut. Dia khawatir sudah mengecewakan orang-orang yang sudah baik terhadapnya.
Kedua mata Nayra sudah mulai berkaca-kaca. Dia bahkan tidak sadar jika tubuhnya kini sudah semakin menempel kepada Rainer.
"Siapa laki-laki tadi? Apakah dia kekasih kamu?" tanya mama Rainer.
Nayra dengan cepat menggelengkan kepala. "Bu-bukan, Nyonya. Kami bahkan baru kenal beberapa waktu lalu. Dan, untuk tadi pun kami tidak sengaja bertemu."
Kening mama Rainer berkerut. Bukannya dia tidak mempercayai ucapan Nayra, namun tadi dia sempat melihat keakraban Nayra dengan Aaron. Mama Rainer berpikir jika ada sesuatu antara Nayra dengan Aaron jika dilihat dari interaksi keduanya.
"Kamu yakin tidak ada hubungan apa-apa dengan laki-laki tadi, Nay?" Mama Rainer menegaskan kembali.
__ADS_1
"Iya, Nyonya. Kami memang tidak ada hubungan apa-apa." Nayra menjawab masih dengan ekspresi tegang.
Setelah mendengar ucapan Nayra, mama Rainer menatap lekat-lekat wajah Nayra sambil kembali bersuara.
"Hhmm, baiklah. Kalau begitu, mulai saat ini, kamu saya pecat sebagai sekretaris Rainer."
Duaarrrr.
Bagai disambar petir, tubuh Nayra seolah lemas tak bertulang saat mendengar ucapan mama Rainer. Dia sama sekali tidak menyangka jika hari ini adalah hari terakhir dia bekerja di perusahaan Rainer.
Pikiran Nayra sudah mulai berkelana ke masa depan. Hidupnya yang sebatang kara, serta kesulitan mencari pekerjaan, membuat Nayra tiba-tiba merasa pening.
Hal yang sama juga dirasakan oleh Rainer. Dia tidak menyangka jika mamanya akan setega itu memecat Nayra.
Scroll ya
Jangan lupa ramein.
__ADS_1