
Tubuh Nayra langsung menegang. Dia sama sekali tidak menyangka Rainer akan melakukan hal seperti itu. Bibirnya kelu. Bahkan, netra Nayra masih menatap jari tangannya yang sudah tersemat sebuah cincin berlian.
Masih tidak mendengar mendengar jawaban dari Nayra, Rainer justru mengeratkan pelukannya. Kali ini, bibirnya dengan sengaja menyentuh bahu Nayra yang sedikit terekspos.
"Kenapa masih diam? Yakin tidak mau menerima ajakanku untuk menikah?"
Nayra cukup kaget dengan tindakan tiba-tiba Rainer. Setelah berhasil mengumpulkan kesadaran, Nayra menyentuh tangan Rainer dan berusaha melepaskannya. Begitu tangan yang melingkari perut Nayra terlepas, kini Nayra langsung berbalik dan menatap wajah Rainer dalam-dalam.
"I-ini serius, Pak?" Nayra masih terlihat tidak percaya. Dia mengangkat tangannya dan menunjuk cincin yang sudah melingkar pada jari manisnya tersebut.
Rainer langsung mendengus kesal. Dia merasa kesal saat Nayra mengira dia bercanda setelah apa yang dilakukannya tersebut.
"Cckkk. Kamu kira aku bercanda?! Jika aku bercanda, mana mungkin aku memberikan cincin berlian asli ini? Lagipula, aku juga nggak perlu repot-repot meminta orang untuk menyiapkan semua ini secepatnya." Rainer menatap kesal ke arah Nayra.
Nayra hanya bisa mengerjap-ngerjapkan kedua matanya. Entah mengapa dia benar-benar masih tidak percaya jika seorang Rainer akan melakukan hal seperti ini. Laki-laki yang sangat kaku, tukang perintah, dan sangat tidak romantis seperti Rainer, membuat Nayra harus berusaha dengan keras untuk mempercayai apa yang ada di depannya saat itu.
"Ja-jadi ini serius? Anda melamar saya?" Cicit Nayra sambil masih menatap wajah Rainer dan cincin yang melingkar di jarinya bergantian.
"Hhmmm."
__ADS_1
Nayra mengalihkan tatapannya ke wajah Rainer. Masih tampak wajah atasannya yang tukang perintah itu terlihat serius. Tentu saja Nayra sudah cukup hafal dengan ekspresi seperti itu. Bisa dipastikan, saat itu Rainer sedang serius.
"A-anda yakin mau menikahi saya, Pak?"
"Hhmmm."
"Kenapa? Kita kan tidak saling cinta." Bukannya bahagia, Nayra malah memberondong Rainer dengan beberapa pertanyaan.
Mendengar hal itu, Rainer langsung mengusap wajahnya dengan kasar. Harapan jika Nayra akan terharu dan langsung memeluknya sebagai ungkapan terima kasih karena sudah memberikan kejutan, langsung sirna.
"Sudah aku bilang kan tadi jika kita bisa mencobanya. Aku yakin, seiring berjalannya waktu, kita bisa memiliki rasa itu, kan?" Rainer seperti orang frustasi.
"Tapi, kenapa harus saya? Anda bisa memilih perempuan lain di luar sana, Pak. Bahkan, banyak yang jauh lebih cantik dan kaya dari pada saya." Bukannya tidak tahu diri, Nayra cukup sadar jika dia bukan apa-apa dibandingkan dengan Rainer dan keluarganya.
Rainer mendengus kesal setelah mendengar ucapan Nayra.
"Aku tidak mau yang lain. Aku hanya mau menikah dengan kamu." Rainer menatap wajah Nayra dengan tatapan tajam.
Nayra cukup terkejut mendengarnya. "Eh, yakin hanya mau menikah dengan saya?"
__ADS_1
"Hhhmmm."
"Nggak menyesal nanti, Pak? Saya mata duitan, lho?" Jujur Nayra. Bohong jika dia tidak suka uang.
"Uangku banyak." Rainer menjawab dengan cepat.
"Saya juga suka banyak makan. Yakin Anda masih mau dengan perempuan yang suka banyak makan?"
"Nggak masalah. Jika perlu, akan aku belikan restorannya sekalian."
Nayra mencebikkan bibir kesal. "Cckkk. Bukan begitu juga maksudnya, Pak."
"Lalu apa maumu? Ini jadi mau menikah denganku apa tidak? Lama sekali jawabnya." Rainer sampai harus berkacak pinggang saking kesalnya menunggu jawaban Nayra.
"Maksa banget sih, Pak. Emang sengebet itu ya mau menikah dengan saya?"
Hayo, Rain. Dijawab apa itu?
Haduuhh, ini lamaran model apa yak?
__ADS_1