Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Dukungan Rainer


__ADS_3

Nayra baru menyadari ucapan Felix ternyata menyindirnya. Nayra langsung mencebikkan bibir sambil mendelik ke arah Felix.


"Ya, namanya juga jodoh, Pak. Ya kali ditolak," jawab Nayra dengan ekspresi kesal.


Felix hanya bisa terkekeh setelah mendengar ucapan Nayra. Setelah itu, dia kembali menyesap air putihnya. Sementara Nayra, kembali melanjutkan aktivitasnya membuat nasi goreng untuk sarapan.


"Pak Felix yakin jika Mbak Monic selingkuh?" tanya Nayra setelah beberapa saat mereka terdiam.


"Hhmmm."


Nayra sempat menoleh saat mendengar gumaman Felix.


"Lalu, apa yang akan Pak Felix lakukan sekarang?" tanya Nayra penasaran.


"Aku akan memutuskan pertunangan kami."


"Serius, Pak?" 


"Serius, lah. Ya kali aku diam saja diselingkuhi begini," jawab Felix kesal.


Nayra mengangguk-anggukkan kepala. Dia cukup memahami bagaimana sakit hatinya diselingkuhi.

__ADS_1


"Ehm, sebenarnya, semalam aku juga sempat melihat Mbak Monic, Pak," tutur Nayra beberapa saat kemudian.


Felix menatap Nayra yang saat itu tengah menyalakan kompor.


"Lihat dimana?" tanya Felix.


"Di perempatan dekat rumah sakit lama. Aku yakin itu Mbak Monic. Wajahnya jelas sekali. Dan, ehm, dia bareng seorang cowok di dalam mobil."


Felix mendesahkan napas berat setelah mendengar ucapan Nayra. Sepertinya, tadi malam ada orang lain yang juga melihat kedekatan Monic dan juga bosnya tersebut.


"Semalam aku juga melihat mereka," ucap Felix dengan suara datar.


Nayra menolehkan kepala ke arah Felix. Dia mengamati ekspresi wajah sahabat suaminya tersebut yang tampak biasa-biasa saja. 


"Ya, salah satunya."


Nayra bingung harus merespon bagaimana. Dia bisa merasakan jika sebenarnya Felix tengah terluka. Hingga beberapa saat kemudian, suara Rainer terdengar dari arah pintu kamarnya.


"Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Rainer dengan ekspresi kesal. Dia berjalan menuju dapur sambil mendelik ke arah Felix.


Melihat tingkah sang sahabat, Felix hanya bisa mencebikkan bibir. Felix tahu jika Rainer sudah mulai posesif terhadap sang istri.

__ADS_1


"Memangnya kami mau lakuin apa sih, Rain?" tanya Felix dengan ekspresi acuh.


"Laki-laki dan perempuan berdua-duaan, yang ketiganya pasti ada setan," jawab Rainer sambil menempel di tubuh Nayra.


"Lhah, berarti lo setannya dong, Rain. Kan lo yang datang belakangan." Felix memancing masalah.


"Sialaan, lo! Sembarangan kalau ngomong." Rainer langsung mendengus kesal sambil melempar timun yang ada di sampingnya.


Melihat tingkah sang suami, Nayra langsung berteriak kesal.


"Mas! Itu timun mau buat tambahan nasi goreng, nih. Main lempar-lempar saja!" Nayra langsung menggerutu kesal.


"Biarin saja, Nay. Palingan juga nanti timun si Rainer yang akan dicacah halus," ucap Felix sambil terkekeh geli.


"Enak saja, lo!" Rainer tidak mau kalah.


Setelah itu, ada saja ocehan Rainer dan Felix yang saling sahut-sahutan. Nayra sampai pusing mendengar perdebatan absurd kedua orang laki-laki dewasa tersebut. Hingga pada akhirnya, Nayra mengusir Felix dan Rainer dari dapur. Nayra tidak akan bisa berkonsentrasi memasak jika  mereka berdua terus-terusan berada di sana.


Mau tidak mau, Rainer dan Felix segera berpindah. Mereka tidak mau jika sampai Nayra mogok membuat sarapan untuk mereka. Keduanya sudah sama-sama kelaparan.


Akhirnya, Rainer dan Felix mengobrol di balkon. Felix juga langsung menceritakan masalah yang sedang dihadapinya kepada Rainer.

__ADS_1


Rainer yang mendengar cerita Felix, mendukung apapun keputusan sahabatnya tersebut. Bahkan, Rainer mau membantu jika Felix ingin membuat perhitungan dengan Monic maupun bosnya tersebut.


__ADS_2