Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Kenapa Tidak Mau Menikah?


__ADS_3

Rainer benar-benar bingung berita dari mana itu berasal. Dia merasa tidak melakukan atau mengatakan apapun seperti yang dikatakan oleh sang papa.


"Pa, aku tidak mengerti berita ini berasal dari mana. Mungkin ini berita dari orang yang suka mengada-ada," ucap Rainer. Dia memang tidak merasa melakukan apa yang dikatakan oleh papanya tersebut.


Papa Willi menatap wajah Rainer dengan tatapan tajam. Bukannya dia tidak mempercayai putra semata wayangnya, hanya saja papa Willi tidak mau putranya tersebut melakukan hal-hal yang akan merugikan orang lain. Terutama Nayra. Papa Willi sudah menganggap Nayra seperti putrinya sendiri sejak dulu.


"Kamu yakin?"


"Yakin, Pa. Aku kan memang tidak melakukan apa-apa."


Mama Aida yang saat itu masih memeluk Nayra, menatap wajah putranya itu dengan tatapan kesal.


"Lalu, kenapa kamu tidak ingin menikah, Rain? Mama sudah berulang kali meminta kamu untuk segera menikah. Bahkan, Mama juga sudah berulang kali mengatur kencan kamu dengan beberapa perempuan kenalan Mama. Kenapa kamu menolaknya? Atau jangan-jangan, kamu masih mengharapkan perempuan itu?" Mama Aida menatap tajam ke arah sang putra.


"Ma. Kenapa harus membawa-bawa hal itu lagi, sih?" Rain mendesah kan napas frustasi sambil meraup wajahnya dengan kasar.


"Apa lagi yang harus mama pikirkan jika melihat tingkah kamu seperti ini?" Mama Aida tampak frustasi saat melihat sang putra.

__ADS_1


"Aku pasti akan menikah, Ma. Tapi tidak sekarang."


"Kapan? Sampai kapan kami harus menunggu kamu, Rain? Mau menunggu sampai kami sudah tidak bernyawa lagi, iya?"


"Ma, jangan ngomong sembarangan. Rain sudah bilang akan menikah. Tapi nanti, Ma." Rainer benar-benar gerah dengan obrolan tentang pernikahan yang selalu diributkan oleh orang tuanya.


Mau tidak mau, pagi itu obrolan harus berhenti karena orang tua Rainer meminta mereka segera kembali ke Jakarta siang itu juga. Nayra juga harus segera bersiap-siap.


Setelah sarapan, mereka semua bergegas menuju bandara untuk langsung bertolak ke Jakarta.


Rainer yang melihat hal itu, langsung menoleh ke arah Nayra yang duduk tepat di sampingnya.


"Ada apa?" 


Nayra menoleh dan menggelengkan kepala. "Nggak ada apa-apa, Pak."


"Kenapa dari tadi diam saja?"

__ADS_1


"Lalu saya harus apa? Harus teriak-teriak dan joget-joget begitu?"


"Cckkk. Setidaknya, ngomong atau apa. Jangan diam seperti patung begitu."


"Hhhhh." Nayra hanya mendesahkan napas berat. Dia memutuskan untuk tidak menanggapi ucapan Rainer. Nayra lebih memilih memejamkan mata selama sisa penerbangan.


Menjelang pukul dua, Nayra sudah sampai di rumah kontrakannya. Rainer mengantarkan Nayra pulang setelah dari bandar siang tadi. Sebelumnya, mereka sempat makan siang dulu sebelum pulang.


"Hhhhh. Akhirnya sampai rumah juga. Rasanya benar-benar lelah," ucap Nayra sambil merebahkan diri diatas sofa ruang tamu mini rumah kontrakannya.


Setelah cukup beristirahat, Nayra memutuskan untuk segera membersihkan diri dan beres-beres rumah. Malam itu, Nayra memilih memasak makan malam sendiri dengan bahan seadanya yang ada di dapur.


Malam itu juga, Nayra mempersiapkan semua pekerjaan yang akan dilakukannya mulai esok senin. Selama satu minggu ini, Nayra pasti akan disibukkan dengan banyak pekerjaan sebelum akhir pekan akan ada sebuah acara besar di kantornya.


\=\=\=


Mohon kasih dukungan yang banyak ya, biar tambah semangat up. Terima kasih. 🤗

__ADS_1


__ADS_2