
Setelah perdebatan absurd antara Rainer dan Nayra berhenti, Rainer meminta Nayra segera membersihkan diri di kamar yang bersebelahan dengan kamarnya di apartemen tersebut. Tentu saja mereka tidak akan tidur dalam satu kamar. Nayra pasti tidak akan mau.
Nayra segera beranjak menuju kamar yang ditunjukkan oleh Rainer. Dia masih sedikit ragu untuk memasuki kamar tersebut.
"Pak, ini kita tidak tidur barengan, kan?" tanya Nayra menatap takut-takut ke arah Rainer.
Mendengar hal itu, Rainer langsung mendelik. "Tentu saja tidak. Kamu pikir aku laki-laki apaan yang suka memanfaatkan kesempatan?" Rainer tampak tidak suka.
Eh, lupa apa bagaimana sih itu si hujan? Bukannya dia suka manfaatin kesempatan, ya? 🤔
"Cckkk. Saya kan hanya bercanda, Pak." Nayra langsung memasuki kamar tersebut dan menutup pintunya meskipun Rainer masih berdiri di depan pintu.
Setelah itu, Rainer segera beranjak menuju kamarnya yang berada tepat di samping kamar Nayra. Dia langsung menghubungi orang suruhannya untuk memastikan semua persiapan untuk besok.
Bukan hal yang sulit bagi Rainer mencari syarat-syarat yang diperlukan untuk proses ijab kabul di KUA esok hari. Dengan memanfaat koneksi yang dimiliki, Rainer bisa dengan mudah mendapatkannya. Apalagi, mengingat siapa mama Rainer sebenarnya, Rainer bisa mengurus semuanya dengan cepat.
__ADS_1
Setelah memastikan semuanya sudah beres, Rainer bergegas untuk membersihkan diri. Dia juga sudah menyiapkan kejutan lainnya untuk Nayra.
Di dalam kamar, Nayra masih duduk di tepi tempat tidur. Dia benar-benar masih belum mempercayai apa yang sebenarnya terjadi.Â
"Ini beneran apa Pak Rain mau ngajak nikah?" gumam Nayra. "Masa iya nikah tanpa memberitahu orang tuanya?"Â
Nayra benar-benar bingung. Kalau untuk dirinya sendiri, Nayra memang sudah tidak mempunyai siapa-siapa lagi. Namun Rainer, dia masih punya orang tua. Masa iya menikah tanpa memberitahu mama dan papanya? Apalagi, Rainer adalah putra satu-satunya.
Tapi, Nayra kembali teringat dengan ucapan Rainer tadi setelah dia menyetujui untuk menikah dengannya. Rainer mengatakan dia ingin menikah secara resmi dulu. Dan, untuk resepsi pernikahan, biar dipersiapkan oleh orang tuanya nanti. Rainer hanya tidak ingin orang tuanya membawa pergi Nayra.
Setelah cukup lama berpikir, Nayra memutuskan untuk segera membersihkan diri. Sementara itu, di luar kamar tampak kesibukan dari beberapa orang untuk menyiapkan makan malam romantis di bagian timur ruang tengah.Â
Sebenarnya ada balkon yang cukup luas di apartemen tersebut. Namun, Rainer tidak mau aktivitas mereka bisa dilihat dari bawah gedung. Jadi, Rainer memilih menyiapkan makan malam di samping ruang tengah dengan pintu menuju balkon dibuka dengan lebar.
Tak sampai tiga puluh menit kemudian, semua persiapan telah selesai. Rainer juga sudah selesai membersihkan diri. Kini, dia juga sudah berganti baju dengan pakaian yang bisa dibilang cukup pas. Sebuah celana jean berwarna hitam dengan kemeja berwarna abu-abu gelap.
__ADS_1
Warna baju Rainer sesuai dengan baju yang diberikannya kepada Nayra. Rainer sudah menyiapkan baju Nayra di dalam paper bag yang diletakkan di dekat meja rias di kamarnya. Sementara baju-baju Nayra yang lain, masih dibiarkan di ruang tamu apartemen tersebut.
Tanpa merasa curiga, Nayra memakai dress sederhana tersebut. Bukan sebuah dress yang mewah, hanya dress sederhana berlengan pendek dengan panjang selutut. Warna dress yang dipakai Nayra, kebalikan dengan warna baju yang dipakai oleh Rainer. Bagian atas dress Nayra berwarna hitam, sedangkan bagian bawah berwarna abu-abu.
Setelah memastikan semua siap, Rainer segera memanggil Nayra dengan mengetuk pintu kamarnya.
"Nay, makan malam dulu."
"Iya, sebentar." Nayra meletakkan sisir dan berjalan keluar. Dia memakai sandal rumahan yang memang ada di dalam kamar tersebut.
Dan, begitu pintu kamar terbuka, Rainer masih berdiri di depannya. Seketika Nayra langsung bengong saking terkejutnya.
"Gantengnya."
•••
__ADS_1
Sambil nunggu up, bisa mampir di cerita baru othor ya, semoga bisa menemani di bulan Ramadhan ini. Selamat berpuasa.