Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Nggak Ngintip


__ADS_3

Felix langsung melongo setelah mendengar ucapan Citra. Dia sama sekali tidak berpikir aneh-aneh seperti yang dituduhkan Citra tadi. Felix berpikir, dia bisa tidur di sofa sebelah timur, sedangkan Citra bisa tidur di sofa sebelah utara. Bukannya tidur mepet dan saling himpit.


"Maksudku tadi, kita bisa tidur bareng disofa ini, eh tidur berdua. Aduuhhh bagaimana, sih." Gerutu Felix yang bingung sendiri bagaimana menjelaskan kepada Citra.


"Jangan aneh-aneh ya, Om. Ini masih di rumah sakit." Lagi-lagi Citra mendelik kesal ke arah Felix.


"Siapa yang aneh-aneh sih, Cit? Memang kenapa jika ini masih di rumah sakit? Memangnya nanti boleh kita aneh-aneh jika sudah di rumah?" 


"Cckkk. Tambah seloyo nih si Om." Citra menghentakkan kaki kesal menuju ke arah brankar Finn.


Felix mendesahkan napas lelah sebelum kembali bersuara.

__ADS_1


"Bukan begitu maksudku tadi, Cit. Kita bisa menjaga Finn bersama-sama di sini. Aku tidur di sebelah sini, kamu bisa tidur di sebelah sana," ucap Felix sambil menunjuk ke bagian sofa yang ada di sebelah utara.


Citra menoleh sekilas sambil menggelengkan kepala.


"Nggak, ah. Nanti Om macam-macam lagi. Aku tidur sini sama Finn saja, deh. Nanti jika dia kebangun dan haus bisa langsung aku tenangin."


Felix mengangguk setuju. Dia tidak akan memprotes apa yang akan dilakukan oleh Citra karena itu semua untuk kebaikan Finn. Beberapa saat setelah itu, pesanan makan malam mereka datang. Felix dan Citra segera menyantap makan malam mumpung Finn masih terlelap. Citra yang siang tadi tidak sempat makan, langsung melahap beberapa makanan yang dipesan oleh Felix.


Ketika Citra sedang memasukkan buah-buahan ke dalam kulkas, tiba-tiba terdengar rengekan Finn. Citra buru-buru meninggalkan aktivitasnya dan beranjak untuk menghampiri Finn.


"Uh, sayang. Kok sudah bangun? Haus, ya? Mau mimi cucu?" ucap Citra sambil mendekat ke arah Finn. Dia segera beranjak merebahkan diri di samping Finn dan mulai menyiapkan sumber makanan alami bayi laki-laki tersebut.

__ADS_1


Finn masih bergerak-gerak gelisah karena tidak sabar. Tangan dan kakinya bergerak-gerak dengan kencang hingga membuat Citra khawatir infusnya akan terlepas.


Rupanya, apa yang dilakukan oleh Finn tersebut dilihat oleh Felix. Seketika dia beranjak menghampiri Finn dari sisi brankar sebelah barat. Citra langsung melotot saat tiba-tiba Felix sudah berdiri di depannya sambil memegangi lengan Finn agar tidak bergerak-gerak.


"Eh, Om. Ngapain di situ?" 


Citra jelas langsung panik. Bagaimana tidak, saat ini dia tengah berbaring miring menghadap barat, sedangkan Felix berdiri tepat di depannya dan menghadap langsung ke arah Citra. Tentu saja hal itu membuat Citra semakin panik.


"Nggak apa-apa. Aku cuma mau pegangin tangan Finn saja. Aku nggak berniat ngintipin pabrik asi Finn," ucap Felix. 


Namun, hal berbeda justru dilakukan oleh Felix. Entah sadar atau tidak, ucapan Felix tersebut tidak sesuai dengan tindakannya. Mulutnya mengatakan tidak akan mengintip, tapi kedua matanya setia menatap dua bongkahan kenyal nan menggemaskan milik Citra tersebut..

__ADS_1


"Astaga, Om. Kalau begitu sih namanya nggak ngintipin, tapi lihatin."


__ADS_2