Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Keadaan Darurat


__ADS_3

Regina dan sang papa masih sibuk membicarakan rencana apa yang bisa mereka lakukan untuk mendapatkan keinginan mereka. Mereka tidak menyadari jika sejak tadi ada seseorang yang sedang mendengarkan obrolan tersebut. Hingga sekitar lima belas menit kemudian, Regina dan Pram harus pergi dari pesta Rainer dan Nayra tersebut.


Setelah memastikan kedua orang tersebut pergi dari tempat acara, orang yang sejak tadi secara tidak sengaja mendengar obrolan Regina dan Pram, langsung berjalan menghampiri Felix.


Begitu mendapati keberadaan sahabat sekaligus asisten Rainer, orang tersebut langsung menarik lengan Felix. Sontak saja hal itu membuat Felix terkejut.


"Eh, Wa? Ada apa?" tanya Felix bingung saat lengannya ditarik oleh Dewa. Ya, orang yang secara tidak sengaja mendengar obrolan Regina dan sang papa adalah Dewa. Dia salah satu pegawai Rainer yang cukup terpercaya.


"Ada yang ingin saya sampaikan, Pak." Felix sedikit berbisik di dekat telinga Felix. Sontak saja tingkah Dewa tersebut membuat Felix berjengit ngeri. Dia benar-benar risih. Pasalnya, jarak tubuh Dewa dan Felix begitu dekat. Apalagi, Dewa masih menempel erat pada sisi kiri tubuhnya. 


Belum sempat Felix menyahuti ucapan Dewa, tiba-tiba saja terdengar sebuah suara dari arah samping mereka.


"Astaga! Pak Felix? Kamu suka sama yang punya 'tongkat anggar' juga?" ucap Linda yang kebetulan berada di sana.

__ADS_1


Sontak saja ucapan Linda tersebut membuat Felix dan Dewa kaget. Mereka yang sadar dengan ucapan Linda tersebut, langsung menjauh satu sama lain. Felix sedikit mendorong tubuh Dewa hingga laki-laki yang seusia Nayra tersebut hampir terjungkal.


"Enak saja! Jangan suka ngawur kalau bicara. Begini-begini, aku masih suka 'gua sempit yang hangat di tengah lembah belukar'!" Felix menatap tajam ke arah Linda. Entah mengapa dia selalu emosi jika bertemu dengan sahabat Nayra tersebut. Selalu saja ada yang mereka debatkan hingga tak jarang membuat mereka adu mulut. Eits, adu mulut Felix dan Linda itu berbeda dengan adu mulut Rainer dan Nayra lho ya.


Linda hanya mencebikkan bibir sambil berlalu meninggalkan dua orang yang masih kesal setelah mendengar ucapannya tadi.


"Siapa itu tadi, Pak?" tanya Dewa sambil masih menatap ke arah kepergian Linda.


"Orang aneh," jawab Felix sekenanya. Setelah itu, dia menoleh dan menatap kembali ke arah Dewa. "Ada apa? Kenapa kamu membawaku kemari?"


Kening Felix berkerut setelah mendengar ucapan Dewa. "Mendengar sesuatu? Apa maksudnya?"


Dewa menoleh ke kiri dan ke kanan sebentar untuk memastikan tidak ada yang mendengar obrolan mereka. Setelah memastikan keadaan aman, Dewa mendekatkan wajahnya dan berbisik di dekat telinga Felix. Dewa menceritakan garis besar apa yang didengarnya kepada sahabat Rainer tersebut.

__ADS_1


Felix yang mendengar bisikan Dewa langsung membulatkan kedua bola mata dan mulutnya. Dia benar-benar kesal dengan tingkah Regina dan sang papa hingga membuat Felix misuh-misuh.


Dewa yang melihat kekesalan Felix, langsung mundur. Dia cukup takut melihat ekspresi kesal orang kepercayaan atasannya tersebut.


'Pak Felix saja sampai kesal begitu setelah mengetahui rencana orang-orang tadi. Bagaimana dengan Pak Rain jika tahu, ya?" batin Dewa.


Sementara itu, acara resepsi pernikahan Rainer dan Nayra masih berlangsung. Kali ini, acara sudah dilanjutkan dengan sesi ramah tamah. Namun anehnya, saat sesi tersebut tidak tampak kedua mempelai pengantin di tempat acara tersebut.


"Mas, ini kenapa kita buru-buru ke kamar, sih? Acaranya belum selesai. Nanti jika papa, mama dan para tamu undangan nyariin bagaimana?" tanya Nayra saat mengikuti langkah kaki Rainer yang tampak tergesa-gesa.


"Biarkan saja. Ada keadaan darurat yang harus kita selesaikan." Rainer menjawab sekenanya.


"Eh, keadaan darurat apa?" Nayra masih tampak penasaran.

__ADS_1


Ada apa? 🙄


__ADS_2