
Saat makan siang, Felix baru saja kembali ke apartemennya. Dia cukup kesulitan menggendong bayi laki-laki tersebut sambil membawa barang-barang perlengkapannya.
Felix keluar dari lift sambil sesekali menatap wajah bayi laki-laki tersebut yang masih terlelap. Dia tidak menyadari jika ada seseorang yang tengah menatapnya saat keluar dari pintu apartemen.
"Dari mana, Om?" tanya sebuah suara.
Felix cukup terkejut mendengar suara tersebut. Dia segera menoleh dan mendapati Citra tengah berdiri di depan pintu apartemennya.
"Dari rumah sakit," jawab Felix sambil berhenti di depan Citra.
"Ke rumah sakit? Kenapa? Anak Om sakit?" Kening Citra mendadak berkerut sambil menatap wajah bayi laki-laki yang berada di dalam gendongan Felix.
Felix menggelengkan kepala.
"Tidak. Ehm, gue batu saja tes DNA."
Lagi-lagi kerutan pada kening Citra bertambah. Dia tidak mengerti maksud ucapan Felix tersebut.
"Tes DNA? jadi, Om tidak yakin jika ini anak, Om?" tanya Citra penasaran.
"Ya, yakin nggak yakin, sih. Gue sebenarnya nggak ingat pernah membuat bayi," ucap Felix sambik tersenyum nyengir.
__ADS_1
Mendengar jawaban tersebut, sontak hal itu membuat Citra terkejut. Refleks, Citra langsung membulatkan kedua bola mata dan mulutnya saking terkejutnya.
"Bagaimana bisa Om tidak ingat pernah membuatnya? Jangan bilang Om mau lari dari tanggung jawab, ya?" Citra langsung menyipitkan kedua matanya dengan tatapan menuduh ke arah Felix.
Felix menggelengkan kepala dengan cepat. Tentu saja dia tidak seperti itu. Felix bukan orang yang suka lari dari tanggung jawab. Sebesar apapun akibat dari perbuatannya, dia pasti akan bertanggung jawab.
"Tentu saja tidak. Gue bukan orang seperti itu," ucap Felix kesal.
"Lalu? Maksudnya apa tadi harus tes DNA segala?" Citra tetap memburu Felix dengan pertanyaannya.
Felix mendesahkan napas berat. Dia masih menatap wajah Citra dengan tatapan lelah.
"Gue akan menjelaskan alasannya. Tapi, bisa gue minta tolong lagi?" tanya Felix.
"Minta tolong apa?"
"Ehm, i-ini bayi belum mandi dari pagi. Jadi, bisa minta tolong untuk memandikan dia?"
Citra lagi-lagi hanya bisa melongo mendengar penuturan Felix. Bagaimana bisa dia tidak memandikan bayi itu tadi pagi. Citra benar-benar tidak habis pikir.
"Kok bisa Om tidak memandikan bayi ini?!" Citra agak sedikit berteriak.
__ADS_1
Belum sempat Felix menjawab pertanyaan Citra, tiba-tiba bayi laki-laki tersebut merengek dan langsung menangis dengan kencang. Melihat hal itu, sontak Felix langsung gelagapan. Dia bingung harus melakukan apa.
Citra yang melihat kekikukan Felix, langsung berinisiatif untuk mengambil alih bayi tersebut dari gendongan Felix. Dia berusaha menimang-nimang bayi tersebut agar berhenti menangis. Namun, usahanya masih gagal.
Citra menoleh ke arah Felix sambil berucap," cepat buka pintu apartemen Om. Sepertinya dia haus."
Felix yang tersadar pun buru-buru beranjak untuk membuka pintu apartemennya. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Citra segera berjalan memasuki apartemen Felix tersebut. Dia segera mengambil tempat duduk di ruang tengah dan mulai menyusui bayi tersebut.
Dan, seperti semalam, bayi laki-laki tersebut langsung mengenyot sumber makanannya dengan rakus. Bayi itu seolah takut jika Felix akan minta.
Felix yang melihat hal itu, langsung bergegas menuju kamar. Dia sudah tidak tahan untuk buang air kecil sejak tadi. Dan, saat itu Felix juga berniat untuk membersihkan diri.
Tak berapa lama kemudian, Felix sudah selesai. Dia segera berjalan keluar dari kamar dan berjalan untuk menghampiri Citra dan bayi laki-laki tersebut. Rupanya, Citra sudah selesai menyusui. Saat ini, dia tengah bermain-main dengan bayi yang terlihat tidak mengantuk tersebut.
Citra langsung menoleh ketika mendengar suara langkah kaki Felix berjalan mendekat ke arahnya.
"Nama bayi ini siapa, Om?" tanya Citra.
Mendapat pertanyaan tersebut, Felix cukup kaget. Dia sama sekali tidak memikirkan memberi nama untuk bayi tersebut. Namun, sepertinya dia memang harus memberinya nama. Terlepas apapun hasil tes DNA nanti.
"Ehm, namanya…,"
__ADS_1
Hayo, siapa kira-kira namanya?
Ada yang mau ngasih saran nggak, nih? 🤭