Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Penolakan Rainer


__ADS_3

Nayra benar-benar bingung dengan sikap Rainer. Namun, dia masih kesulitan untuk mengontrol sikap keras kepala suaminya itu.


Dan, benar saja. Setelah makan malam selesai, Rainer langsung menghubungi sang mama.


"Ada apa, Rain? Nayra sudah bilang jika akhir pekan ini mama minta kalian untuk menginap di rumah?" Mama langsung bertanya kepada Rainer.


"Sudah. Tapi aku nggak mau, Ma. Mama batalin saja acara itu."


Sontak saja sang mama langsung kaget dengan ucapan sang putra.


"Heh, apa-apaan itu? Seenaknya kamu bilang mau batalin. Mama sudah merencanakan ini sejak kamu masih dirawat ya, Rain. Mama lakuin ini juga untuk kamu. Seenaknya kamu bilang suruh batalin. Nggak! Nggak ada batal-batalin." Mama langsung emosi setelah mendengar permintaan Rainer.


Rainer menghela napas berat sebelum menjelaskan maksud ucapannya kepada sang mama.


"Dengerin Rain ngomong dulu, Ma." Rainer menjeda ucapannya agar mamanya itu bisa mendengarkan penjelasannya. "Bukan aku nggak setuju dengan niat baik mama. Tapi, mama tahu sendiri jika rumah masih di renovasi bagian samping. Kalaupun mama mengundang orang, pasti juga nggak banyak. Aku mau jika acara itu dihadiri anak-anak yatim juga, Ma. Dan, jika acara dilakukan di rumah, pasti tidak akan cukup tempatnya. Masih banyak kan material yang ada di rumah?" 

__ADS_1


Mama Rainer masih terdiam setelah mendengar penjelasan putranya tersebut. Memang benar apa yang dikatakan oleh Rainer. Masih banyak sekali material yang ada di halaman. Jika dia memaksa akan menyelenggarakan acara, sudah pasti tidak akan maksimal. 


Hal yang sama pun juga langsung terpikirkan oleh Nayra yang sejak tadi berada di samping Rainer. Rupanya, dia ikut mendengarkan pembicaraan ibu dan anak tersebut. Nayra cukup salut saat Rainer sempat memikirkan hal seperti itu.


"Kamu benar, Rain. Sepertinya, memang tidak akan maksimal jika mama mengadakan acara pengajian di rumah. Lalu, menurut kamu acaranya diselenggarakan dimana, Rain?" Suara mama sudah terdengar melunak setelah menyadari kebenaran ucapan Rainer.


"Di panti asuhan saja, Ma. Nanti Rain kirimkan alamatnya."


"Baiklah. Mama setuju dengan usul kamu. Mama akan siapkan semuanya kalau begitu. Segera kamu kirimkan alamatnya agar mama bisa menghubungi pihak panti."


Setelah itu, panggilan telepon tersebut langsung terputus. Namun, tatapan mata Nayra tidak terputus. Dia masih menatap wajah sang suami dengan tatapan memuja. Entah mengapa rasa yang ada di hatinya semakin membuncah saat melihat perhatian sang suami.


Nayra kembali memikirkan ucapan Linda beberapa waktu yang lalu. Dia sudah memutuskan untuk mengungkapkan apa yang dirasakannya kepada Rainer. Nayra tidak peduli lagi meskipun dia perempuan dan harus mengungkapkan isi hatinya terlebih dahulu. Toh, mereka juga sudah menikah. Tidak ada salahnya kan memulai lebih dahulu, pikir Nayra.


Rainer yang merasakan jika Nayra tengah menatapnya pun langsung menoleh. Keningnya berkerut saat melihat sang istri menatapnya dengan tatapan berkaca-kaca.

__ADS_1


"Ada ap…," belum sempat Rainer menyelesaikan ucapannya, Nayra sudah langsung menyerang Rainer. 


Nayra langsung mendekat ke arah Rainer hingga membuat punggung suaminya itu bersandar di sandaran sofa. Belum selesai keterkejutan Rainer, Nayra sudah langsung menyerang bibir Rainer. 


Entah mendapat dorongan dari mana, malam itu Nayra benar-benar sangat agresif. Bibirnya langsung meelumat bibir Rainer dengan rakus. Bahkan, Rainer langsung membolakan kedua matanya saat merasakan bibir Nayra seperti vacuum cleaner yang menyedot dengan rakusnya.


Tidak hanya itu, Nayra juga langsung mendesak bibir Rainer hingga terbuka. Tak ayal, sedot menyedott kembali terjadi. Rainer juga tak tinggal diam. Sejak sakit dan dirawat di rumah sakit, dia memang berpuasa untuk tidak menyerang Nayra. Dan, malam ini dia yakin akan berbuka puasa.


Saat kedua tangan Rainer sudah menangkup dan memelintir kancing alami Nayra hingga membuat si empunya kelojotan dan mendesahh, tiba-tiba Rainer teringat sesuatu. Dia menghentikan aktivitasnya dan menjauhkan wajahnya dari Nayra.


Posisi Nayra yang saat ini sudah duduk diatas pangkuan Rainer, terlihat sekali wajahnya sudah sangat mupeng. Hal yang sama sebenarnya dialami oleh Rainer. Namun, dengan terpaksa Rainer harus menghentikan aktivitas tersebut.


"Nay, bukannya kamu sedang datang bulan? Kemarin kamu melarangku mengobok-obok pakai jari, kan?" 


🤧🤧

__ADS_1


__ADS_2