Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Acara Resepsi Pernikahan


__ADS_3

Acara demi acara pada resepsi pernikahan Rainer dan Nayra pun berjalan cukup lancar. Beberapa kolega bisnis Rainer dan papanya, cukup terkejut dengan pernikahan Rainer dan Nayra. Apalagi, mereka cukup mengenal Nayra yang merupakan sekretaris Rainer. Biasanya, dimana ada Rainer, disana ada Nayra.


Seperti saat ini, Pak Toni, salah seorang kolega bisnis Rainer, sedang berjabat tangan dengan kedua mempelai.


"Saya benar-benar tidak menyangka jika Pak Rain akan menikah dengan sekretarisnya. Benar-benar mirip dengan cerita-cerita yang ada di novel-novel ini. Si Boss menikahi sekretarisnya," ucap Pak Toni sambil tergelak.


Istri Pak Toni yang berada di sampingnya, langsung mencubit gemas pinggang sang suami. Rainer dan Nayra yang melihat hal itu, hanya bisa mengulas senyuman.


"Jodoh tidak ada yang tahu, Pak." Rainet menjawab ucapan Pak Toni.


"Anda benar. Kita tidak tahu siapa jodoh yang sudah ditakdirkan untuk kita. Bahkan, kita tidak tahu jika jodoh kita sebenarnya ada di sekitar kita."


"Benar, Pak Toni."

__ADS_1


Pak Toni beserta istri mengangguk sambil tersenyum. "Saya turut berbahagia dengan pernikahan Anda berdua. Kami mendoakan semoga pernikahan Anda berdua langgeng, sakinah, mawadah, warahmah."


"Aamiin. Terima kasih, Pak." Rainer dan Nayra menjawab bersamaan.


Setelah itu, Pak Toni mendekatkan bibirnya pada telinga Rainer dan berbisik. 


"Pak Rain, saya yakin Anda sudah lama menahan godaan setelah bertahun-tahun menjadi atasan Nona Nayra. Dan, saya tahu bagaimana rasanya karena saya juga pernah mengalaminya. Saran saya, kasih obat-obatan buat Nona Nayra agar bisa selalu bersemangat," bisik Pak Toni sambil menaik turunkan alis dan mengulas senyuman.


Rainer menjauhkan wajah sambil membalas senyuman Pak Toni. "Anda tenang saja, Pak. Tanpa obat-obatan, istri saya ini sudah jago 'berkuda'. Bahkan, dia bisa bertahan lama," ucap Rainer sambil tergelak.


Beberapa kolega bisnis Rainer dan papanya, silih berganti mengucapkan selamat. Berbagai candaan dan godaan tak luput mereka berikan saat memberikan ucapan selamat kepada Rainer dan Nayra.


Sementara di bagian utara tempat acara resepsi pernikahan Rainer dan Nayra digelar, Regina dan sang ayah sedang menatap kedua mempelai dengan ekspresi wajah kesal. Mereka masih belum bisa menerima pernikahan Rainer dan Nayra.

__ADS_1


"Kenapa kamu bisa kecolongan begini, sih?" gerutu Pram, papa Regina. Dia masih cukup kesal saat mendapati kenyataan jika sang putri gagal mendapatkan Rainer.


"Cckkk. Mana aku tahu kejadiannya bisa seperti ini, Pa. Aku tidak menyangka jika si Nayra punya pikiran licik hingga bisa menjebak Rainer untuk menikahinya." Regina tak mau kalah.


"Papa tidak mau tahu. Pokoknya, sebisa mungkin kamu harus bisa mendapatkan Rainer." Pram masih menggebu-gebu.


"Mana bisa, Pa? Papa nggak lihat jika orang tua Rainer sudah membuat sekat untuk membatasi pergerakan kita?"


Terdengar helaan napas kesal dari Pram. Kedua netranya masih menatap nanar ke arah Rainer dan Nayra berada.


"Kita cari cara untuk melakukan semuanya. Dan, kita harus berhati-hati untuk melakukan semua itu." Pram mengucapkannya sambil menggenggam erat gelas yang ada di tangannya. Beruntung, gelas tersebut tidak sampai pecah.


Regina menoleh ke arah sang papa dengan kening berkerut. "Papa punya rencana?"

__ADS_1


"Hhhmm, tentu saja," jawab Pram sambil mengangguk.


Sepasang ayah dan anak tersebut berbicara dengan serius, sampai tidak menyadari obrolan keduanya didengar oleh seseorang yang berada tak jauh di belakang mereka.


__ADS_2