
"Kami, memang sudah memiliki hubungan sejak beberapa tahun yang lalu, Mbak. Mbak Regina sendiri bahkan sudah tahu jika saya sudah lebih dulu menjadi sekretaris papanya Pak Rain, kan?"
Nayra menolak untuk memberitahu status dia yang sebenarnya kepada Regina. Biarlah Regina mengetahui status pernikahannya nanti saat acara resepsi pernikahannya di gelar.
Regina masih menatap wajah Nayra dengan tatapan tidak percaya.
"Kamu tidak bohong, kan?"
"Bohong yang mana, Mbak? Mbak Regina kan memang sudah tahu jika saya menjadi sekretaris dan asisten Pak Rain."
Regina mencebikkan bibir dengan kesal. "Lalu, kenapa kalian menginap di hotel ini?" Regina masih terus mencerca Nayra dengan pertanyaannya.
"Kami ada kerjaan, Mbak. Ada beberapa hal yang memang harus kami urus." Nayra menjawab dengan ekspresi seperti biasa.
"Beneran?"
__ADS_1
Nayra mendesahkan napas beratnya sebelum menjawab pertanyaan Regina. "Jika Mbak Regina tidak percaya, tuh lihat laptop dan beberapa file yang baru saya rapikan masih ada di atas sofa. Saya baru selesai mengerjakan pekerjaan saya."
Regina melirik ke arah sofa yang ditunjukkan oleh Nayra. Hingga beberapa saat kemudian, Regina memilih mempercayai apa yang dikatakan oleh Nayra.
"Baiklah. Kali ini, aku percaya kepadamu. Tapi, jika kamu ketahuan membohongiku, aku tidak akan tinggal diam." Regina berjalan ke arah Nayra sambil mengacungkan jari telunjuknya tepat di depan wajah Nayra.
Apakah Nayra takut? Dan, jawabannya adalah tidak.
"Memangnya ada apa, Mbak? Jika Mbak Regina tidak percaya, silahkan bertanya langsung kepada Pak Rain atau keluarganya. Kalaupun ada hubungan apa-apa di antara saya dan Pak Rain, orang tua Pak Rain pun pasti juga mengetahuinya," ucap Nayra sambil memasang ekspresi seperti biasanya.
Kedua bola mata Nayra langsung membulat dengan sempurna setelah mendengar ucapan Regina. Dia memang sudah mengetahui cerita masa lalu Rainer dan Regina. Namun, Nayra tidak habis pikir jika Regina begitu percaya diri mengatakan hal itu kepadanya.
"Pak Rain menyukai Mbak Regina? Kok bisa sih, Mbak?" tanya Nayra dengan ekspresi terkejut. Namun, tentu saja alasan keterkejutan Nayra berbeda.
"Cckkk. Tentu saja bisa." Regina langsung merasa di atas angin. "Itu salah satu alasan yang membuat Rainer belum menikah sampai sekarang." Lagi-lagi, Regina berkata dengan kepercayaan diri yang tinggi.
__ADS_1
Kening Nayra berkerut. Dia tidak serta merta mempercayai ucapan Regina. Dia harus mencari tahu kebenaran ucapan Regina dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"Eh, maksud saya bukan begitu tadi, Mbak. Mbak Regina dan Pak Rain kan masih saudara. Apa bisa menjalin hubungan seperti itu?" tanya Nayra. Dia ingin mengetahui sejauh mana Regina akan berceloteh.
"Tentu saja bisa. Kami kan tidak ada hubungan darah sama sekali." Regina masih tidak menyadari kecerobohannya yang telah membongkar siapa dia sebenarnya.
Sontak saja hal itu membuat Nayra terkejut. Dia tidak menyangka jika Regina akan seberani itu mengatakan siapa dia sebenarnya. Ya, meskipun sebenarnya Nayra sudah tahu cerita sebenarnya, namun dia harus berpura-pura terkejut.
"Maksudnya tidak ada hubungan darah sama sekali itu bagaimana, Mbak? Bukankah mama Mbak Regina adalah tante Pak Rain?"
Seketika giliran Regina yang terkejut. Regina baru menyadari jika dia telah keceplosan berbicara.
"Te-tentu saja. Kami masih saudara." Regina buru-buru menjelaskan kembali.
"Lalu, maksud ucapan Mbak Regina tadi apa?"
__ADS_1
"Itu…,"