
Nayra masih menatap email yang baru saja dibukanya tersebut. Nayra bahkan tidak menyadari jika Resta sudah berdiri di sampingnya.
"Mbak?" sapa Resta yang sudah sejak beberapa detik yang lalu berdiri di samping Nayra tersebut.
Mendengar sapaan tersebut, sontak saja Nayar langsung menoleh ke arah Resta.
"Sudah selesai?" tanya Nayra sambil menatap ke arah beberapa berkas yang dibawa Resta.
"Sudah, Mbak. Semua data ada di sini. Tinggal kita pilah-pilah sesuai urutan," jawab Resta.
Nayra hanya menganggukkan kepala. Namun, ekspresi wajahnya masih terlihat sedang memikirkan sesuatu. Resta yang tidak sengaja menatap ke arah layar monitor Nayra, langsung mendekatkan wajahnya pada layar monitor tersebut.
"Mbak, i-ini?" Resta bahkan tidak berani melanjutkan ucapannya.
"Iya. Kita kehilangan dua klien lagi gara-gara orang itu," ucap Nayra sambil menganggukkan kepala.
__ADS_1
Resta yang melihat gambar di layar komputer tersebut, bahkan tidak mengedipkan kedua matanya. Dia benar-benar tidak mengerti mengapa mereka melakukan hal seperti itu. Padahal, mereka sudah dianggap keluarga oleh Rainer dan orang tuanya
"Kok bisa Pak Pram melakukan ini, Mbak? Kurang baik apa keluarga Pak Rain terhadap mereka?" ucap Resta saat menatap foto Pram yang sedang melakukan pertemuan dengan pemilik beberapa perusahaan yang membatalkan kerjasama dengan perusahaan Rainer.
Nayra hanya bisa mendesahkan napas berat. Dia sendiri juga bingung harus melakukan apa.
Tak berapa lama kemudian, Rainer menghampiri Nayra dan Resta. Dia meminta untuk melakukan rapat dadakan dengan beberapa tim penanggung jawab proyek. Hari itu, merupakan hari yang cukup melelahkan untuk mereka. Ditambah lagi, beberapa pemberitaan miring tentang perusahan yang sedang dipimpin oleh Rainer.
"Breeenggseekkk!" Rainer langsung melempar beberapa berkas yang ada di atas meja kerjanya. Dia benar-benar kesal dengan situasi yang mendadak menerpa perusahaan tersebut.
"Mas?!" Nayra langsung berteriak dan berjalan melangkahkan kakinya menuju ke arah Rainer yang tengah tertunduk di depan meja kerjanya tersebut. "Apa-apaan ini? Nggak bisa masalah diselesaikan dengan cara seperti ini, Mas." Nayra berusaha menenangkan Rainer dengan cara mengusap-usap bahu suaminya tersebut.
"Aku kesal kenapa bisa seperti ini, Nay." Rainer menegakkan tubuhnya dan meraup wajahnya dengan kasar.
"Aku tahu ini semua berat, Mas. Tapi, jangan melakukan tindakan tidak bermanfaat seperti ini. Aku yakin, semua permasalahan yang dihadapi perusahaan bisa diselesaikan dengan baik."
__ADS_1
Rainer masih terlihat kalut. Selama ini, dia memang belum pernah menghadapi permasalahan seperti ini. Apalagi, pembatalan kerjasama itu tidak hanya dilakukan oleh satu atau dua perusahaan.
Belum sempat Rainer menyahuti ucapan Nayra, terdengar suara gaduh dari arah pintu. Ternyata, Resta yang datang ke ruang kerja Rainer dengan terburu-buru. Wajah Resta terlihat shock dengan tangan memegang ponselnya.
"Ada apa?" Rainer langsung menoleh ke arah Resta.
"Pa-pak, ada yang harus anda lihat," ucap Resta sambil berjalan mendekat ke arah Rainer.
Begitu mendekat ke arah atasannya tersebut, Resta segera menyerahkan ponsel miliknya yang masih menunjukkan beberapa informasi. Kedua bola mata dan mulut Rainer langsung terbuka dengan lebar saat melihat berita itu.
Segala emosi yang sudah menumpuk di dada, langsung tersulut dengan begitu cepat. Rainer benar-benar marah melihat berita yang baru saja disampaikan oleh Resta tersebut.
"Kuraanggg Ajaarrr!"
Pyaaarrrr.
__ADS_1
Mohon maaf kemarin ada deadline kerjaan. Semoga setelah ini bisa up lagi seperti biasa. 🙏