
Nayra masih menggerutu kesal karena kedatangan Regina yang tiba-tiba. Bukannya menjawab pertanyaan Nayra, Regina justru langsung beranjak pergi sambil masih berusaha mengintimidasinya agar menjauh dari Rainer.
"Cckkk. Bagaimana bisa menjauhi Pak Rain, orang dianya saja nemplok terus." Nayra masih saja menggerutu sambil kembali melanjutkan aktivitasnya yang tadi sempat tertunda. Dia masih terlihat kesal meski Regina sudah pergi.
Tak sampai lima belas menit kemudian, Rainer terlihat kembali ke kamar hotel sambil membawa beberapa berkas hasil meetingnya tadi. Nayra segera membantu sang suami untuk membawakan berkas-berkas tersebut menuju sofa.
"Pak Felix kemana, Mas? Nggak ikut makan siang sekalian? Sudah aku pesankan makan siang sekalian tadi," ujar Nayra.
Ya, Nayra tadi memang sengaja memesan makan siang agak lebih banyak. Dia berpikir jika Felix akan ikut makan siang bersama sekalian mengingat mereka meeting di hotel yang sama.
Namun ternyata, ucapan Nayra tersebut tidak disukai oleh Rainer. Rainer langsung menghentikan langkah kakinya dan berbalik menatap wajah Nayra dengan kening berkerut.
"Kamu menyiapkan makan siang untuk Felix juga?" tanya Rainer dengan suara tidak bersahabat. Sangat terlihat sekali ekspresi wajah Rainer tidak suka dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Nayra tersebut.
Melihat ekspresi sang suami yang terlibat tidak suka, Nayra buru-buru menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Bu-bukan begitu maksudnya, Mas. Ehm, tadi aku hanya berpikir apa mungkin Pak Felix akan makan siang sekalian. Tadi kalian kan meetingnya juga di bawah, kan?" Nayra berusaha tidak memperpanjang masalah.
"Memang kami meeting di bawah tadi. Tapi, aku tidak mau ada orang lain yang mengganggu aktivitas kita," ucap Rainer sambil kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi.
Nayra yang baru saja meletakkan perlengkapan Rainer langsung berbalik dengan kening berkerut.
"Aktivitas? Memangnya aktivitas apa yang akan kita lakukan?"
Entah mengapa pikiran Nayra langsung tertuju ke adegan gulat di atas ring empuk. Wajahnya mendadak terasa panas. Tangannya refleks menyentuh bagian inti tubuhnya yang masih terasa nyut-nyutan. Kedua kaki Nayra juga refleks tertutup.
"Kamu pikir aktivitas apalagi yang bisa dilakukan oleh pasangan suami istri di kamar hotel jika bukan main 'adu kejang'?"
Sontak saja Nayra langsung melongo mendengar ucapan Rainer. Belum sempat dia menjawab ucapan absurd suaminya tersebut, Rainer sudah lebih dulu memasuki pintu kamar mandi.
Nayra hanya bisa menggerutu kesal dengan tingkah Rainer. Sebenarnya, dia sudah cukup hafal dengan tingkah aneh Rainer. Hanya saja, menurut Nayra semakin hari semakin aneh-aneh saja tingkah suaminya tersebut.
__ADS_1
Tak sampai dua puluh menit kemudian, Rainer sudah menyelesaikan aktivitasnya di dalam kamar mandi. Dia juga sudah mengganti baju dengan baju yang sudah disiapkan oleh Nayra.
Setelah itu, Nayra dan Rainer menyantap makan siang bersama. Kali ini, makan siang Nayra dan Rainer terpaksa diselingi dengan membicarakan masalah pekerjaan. Nayra melaporkan semua pekerjaan yang sudah diselesaikannya. Bahkan, Nayra juga sudah menyiapkan laporan yang bisa diperiksa oleh Rainer setelah makan siang nanti.
Begitu makan siang selesai, Rainer berjalan menuju balkon dengan membawa laptop Nayra. Rainer harus memeriksa pekerjaan yang sudah diselesaikan oleh Nayra, sekaligus membuat keputusan selanjutnya.
Sementara itu, Nayra segera membersihkan sisa makan siang mereka. Nayra tidak mau jika sisa makan siang itu akan memberikan aroma yang tidak sedap nanti.
Hingga hampir satu jam kemudian, Rainer menyelesaikan aktivitasnya. Dia mematikan laptop dan berjalan memasuki kamar hotel. Langkah kaki Rainer terhenti saat melihat Nayra telah tertidur di depan televisi dengan posisi satu kaki terjulur ke bawah sofa.
"Cckkk. Sudah tidur saja. Seharusnya, bakar kalori dulu setelah makan siang," Rainer menggerutu sambil berjalan mendekati Nayra.
•••••
Bakar kalori? Olahraga begitu maksudnya Rain?
__ADS_1