Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Rasa Penasaran


__ADS_3

Nayra hanya bisa mengikuti langkah kaki Rainer yang menariknya memasuki lift. Dia bahkan tidak berani bersuara saat melihat wajah Rainer yang masih menampakkan kekesalan tersebut.


Sementara itu, seorang perempuan tengah berlari-lari untuk mencegah pintu lift tertutup. Namun, ternyata usahanya terlambat. Pintu lift sudah terlanjur tertutup saat dia berlari mendekat.


"Sialaan!" teriak perempuan tersebut sambil menendang pintu lift.


Seorang pegawai hotel yang melihat tingkah perempuan tersebut, langsung berjalan mendekat. Dia harus mengamankan perempuan tersebut agar tidak bertingkah seenaknya di hotel tersebut.


"Permisi, Nona. Maaf, Anda tidak diperkenankan menaiki lift ini. Ini lift khusus. Silahkan Anda menunggu lift di sebelah sana," ucap pegawai hotel tersebut. 


Tanpa menjawab ucapan petugas hotel, si perempuan langsung berbalik sambil melayangkan tatapan tajam ke arah pegawai hotel tersebut. Dia berjalan sambil mengotak-atik ponselnya untuk menghubungi seseorang.


Tak berapa lama kemudian, panggilan telepon tersebut tersambung. Perempuan tersebut langsung berbicara sambil berjalan menuju tempat parkir.


"Hallo, Reg. Gue ada berita penting," ucap perempuan tersebut setelah panggilan teleponnya terhubung.


"...."


"Ini tentang Rainer. Gue baru saja melihat dia ke hotel bareng sekretarisnya. Dan lo tahu, mereka bergandengan tangan. Sepertinya, lo ketinggalan berita."

__ADS_1


"...."


"Gue nggak tau apa hubungan mereka sebenarnya. Tapi sepertinya, mereka sudah lebih dari seorang atasan dan sekretaris."


"...."


"Hhhmm. Lo benar sekali. Segera selesaikan pemotretan lo di sana. Setelah itu, segera kembali ke Jakarta. Gue akan atur lagi jadwal lo."


"...."


"Pasti. Susah-susah gue jadi manager lo agar bisa mendapatkan apa yang gue impikan, tidak mungkin semudah ini gue lepas."


"...."


Tut.


Panggilan telepon langsung terputus. Ardina, perempuan yang tadi melihat Rainer dan Nayra. Dia adalah manajer Regina. Dia punya kepentingan sendiri sehingga bisa bekerja sama dengan Regina.


Sementara itu, Rainer dan Nayra baru saja keluar dari lift yang membawa mereka ke lantai dua puluh lima. Meski saat itu bukan pertama kali bagi Nayra datang ke sana, namun dia merasa sedikit was was.

__ADS_1


Rainer masih tidak melepaskan pegangan tangan Nayra. Dia terus berjalan hingga sampai pada kamarnya. Nayra hanya bisa pasrah. Dia akan bertanya ketika mereka sudah berada di dalam kamar.


Setelah memasukkan kode pintu kamar, Rainer langsung menarik tangan Nayra untuk masuk. Nayra hanya bisa pasrah saat Rainer membawanya ke dalam kamar. Pikirannya sudah tidak bisa diajak berpikir. Rasanya, kepala Nayra sudah sangat penuh saat itu.


"Tunggu sebentar, aku hubungi Resta dulu," ucap Rainer sambil berjalan menuju balkon.


Nayra hanya bisa mengangguk dan berjalan menuju sofa yang menghadap ke arah balkon. Dia masih mengamati Rainer yang tengah menghubungi bawahannya tersebut. 


Sebenarnya, bisa saja Nayra yang menghubungi Resta. Namun, Nayra pasti akan kesulitan menjelaskan kemana dia pergi. Nayra yakin jika kejadian tadi pagi di lobi kantor, sudah menyebar di kalangan karyawan. Dan, Nayra pasti akan kesulitan menjelaskannya jika dia menghubungi Resta sendiri.


Hingga beberapa saat kemudian, ponsel Nayra berbunyi. Nayra buru-buru mengambil ponselnya dari dalam tas, dan memeriksa siapa yang menghubunginya pagi itu. Kedua bola mata Nayra membulat saat melihat nama Linda tertera di layar ponselnya. Nayra yakin jika Linda pasti sudah mendengar berita tadi pagi dan ingin mengkonfirmasi kepada Nayra secara langsung.


Belum sempat Nayra menggeser ikon berwarna hijau tersebut, tiba-tiba suara Rainer mengagetkannya.


"Jangan diangkat dulu. Nanti setelah aku menceritakan semuanya, kamu bisa menjelaskan kepada mereka."


"Hhmmm."


•••

__ADS_1


Jangan lama-lama ya Rain. Cak cek cak cek gek dijelasne. Jangan seperti othor tukang gantungin cerita. 🤧


__ADS_2