Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Perubahan Rainer


__ADS_3

Setelah kepulangan Rainer dari rumah sakit, keesokan harinya dia masih tidak diperbolehkan langsung ke kantor oleh Nayra. Nayra pun juga tidak berangkat ke kantor. Dia mengerjakan pekerjaannya dari rumah. Sementara Resta, dia harus bolak balik kantor ke penthouse Rainer.


Siang itu, entah mengapa Rainer sangat ingin makan es serut. Setelah melihat iklan yang muncul di televisi yang tengah di tontonnya dan menampilkan es serut, tiba-tiba saja air liur Rainer terasa langsung menetes. Dia benar-benar ingin mencicipi es serut seperti itu.


Nayra yang saat itu baru membereskan perlengkapan kerjanya, langsung berjalan menuju ruang tengah tempat dimana Rainer sedang menonton televisi. Dia melihat Rainer sedang sibuk mengotak-atik ponselnya.


"Sibuk apa, Mas?" tanya Nayra yang tiba-tiba sudah langsung duduk di samping Rainer. Kepalanya sedikit melongok ke arah ponsel Rainer untuk melihat apa yang sedang dilakukan oleh suaminya tersebut.


"Lagi mau pesen es serut."


Kening Nayra berkerut setelah mendengar jawaban sang suami. Dia cukup merasa heran dengan perubahan Rainer. Pasalnya, Nayra sangat tahu jika Rainer tidak terlalu suka dengan segala bentuk es, baik es krim maupun es serut. Namun, entah mengapa sekarang kesukaan Rainer langsung berubah.

__ADS_1


Selama di rumah sakit, Rainer sempat beberapa kali merengek untuk di bawakan es krim. Dan, tadi pagi pun Rainer juga sudah menghabiskan stok es krim milik Nayra. Nayra hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan Rainer tersebut.


Lalu, sekarang lagi-lagi Rainer sudah berniat untuk memesan es serut. Lagi dan lagi es. Nayra benar-benar tidak tahu apa yang menyebabkan Rainer berubah seperti ini. Apa karena kecelakaan kemarin Rainer mengalami perubahan pada tubuh dan otaknya? Hal itu yang ada di pikiran Nayra saat ini.


"Es serut? Kok tumben mau es serut, Mas? Dan, sejak kapan kamu jadi suka es seperti ini?" Nayra masih mengamati jari-jari Rainer yang sedang menari di atas layar ponselnya. Rupanya, Rainer tidak hanya memesan es serut. Dia juga memakan rujak buah dengan buah jambu yang cukup banyak. Tak lupa juga dengan catatan sambal yang cukup pedas.


"Nggak tau. Tiba-tiba saja mau es serut dan rujak."


Tak sampai satu jam kemudian, pesanan Rainer sudah datang. Dengan semangat empat lima, dia langsung menyantap pesanan tersebut dengan bantuan Nayra. Dia yang sudah selesai bercerita dengan mama Rainer, langsung membantu sang suami menyiapkan pesanannya tersebut.


"Ini sudah makan rujak, mau dibuatkan makan siang lagi, Mas?" tanya Nayra setelah membereskan piring bekas rujak Rainer. Saat ini, suami Nayra tersebut sedang menyantap es serut di ruang tengah.

__ADS_1


"Ehm, nggak usah, deh. Sudah kenyang ini."


Nayra hanya mengangguk-anggukkan kepala. Dia ikut bergabung dengan Rainer sambil menikmati es serut yang sudah dipesan oleh Rainer.


***


Dua hari kemudian, Rainer sudah memaksa kembali ke kantor. Kondisinya sudah lumayan membaik. Rainer sudah gatal untuk beraktivitas kembali ke kantor. 


Apalagi, sang mama juga melarang Rainer untuk tidak melakukan aktivitas ranjang sebelum dia kembali ke kantor. Mau tidak mau, Nayra akhirnya juga setuju dengan sang mertua. Dia juga tidak ingin jika luka Rainer akan semakin meradang. 


Nayra jelas sangat tahu jika gaya hokya hokya sang suami sangat agresif. Nayra hanya tidak ingin jika bahu Rainer akan kembali terasa nyeri. Selain itu, Nayra juga takut akan tidak sengaja menyentuh bagian tubuh Rainer yang terluka.

__ADS_1


__ADS_2