Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Ulah Felix


__ADS_3

Citra segera menutupi bagian depan tubuhnya dengan selimut Finn. Dia benar-benar tidak nyaman saat kedua netra Felix menatap bagian depan tubuhnya dengan tatapan lapar.


"Lihat apa sih, Om? Sampai mau keluar begitu matanya," cibir Citra dengan kesal.


"Lihat teytey." Entah apa yang dipikirkan Felix hingga bibirnya lancar sekali mengucapkannya.


Mendengar jawaban Felix, kedua bola mata Citra langsung membulat. Wajahnya terasa panas karena malu. Citra langsung memalingkan wajahnya agar tidak bertemu tatap dengan Felix.


"Apasih, Om. Jangan suka aneh-aneh ngomongnya," ucap Citra sambil menatap wajah Finn yang sudah mulai mengantuk. Dia berusaha fokus pada Finn agar tidak semakin salah tingkah di depan Felix.


Menyadari jika dirinya sudah keceplosan, Felix buru-buru mengubah posisi tubuhnya menjadi terlentang. Tangan kirinya masih digenggam erat oleh Finn, jadi dia tidak bisa beranjak jika tidak ingin Finn merengek lagi.


"Aneh-aneh apa, sih. Sudah, ah. Aku mau tidur dulu sebentar."


Setelahnya, Felix menutup mata dan menumpukan tangan kanannya di dahi. Felix mencoba untuk tidur meski sebentar. Dan, ternyata memang benar dia bisa langsung terlelap begitu saja. Mungkin, karena kondisi tubuhnya yang juga sudah sangat lelah, jadi Felix bisa cepat tidur.


Citra yang juga merasakan hal yang sama, bahkan juga ikut terlelap begitu saja. Dia bahkan tidak menyadari saat Finn sudah melepaskan kenyotan bibirnya dan berbalik memunggungi Citra. Seperti biasa, Finn langsung tidur menempel pada Felix.


Hingga pagi hari, ketiga orang tersebut bahkan tidak menyadari posisi tidurnya. Citra yang tidur dengan menghadap Finn dan Felix, bahkan lupa tidak menutup aset pribadinya yang menjadi kegemaran Fin dan bapaknya itu.

__ADS_1


Felix yang pagi itu sudah berpindah posiai menjadi miring ke arah Citra sambil memeluk Finn, perlahan-lahan membuka kedua matanya. Hal pertama yang terlihat saat kelopak mata Felix terbuka adalah dua buah aset Citra yang terekspos dengan nyata. 


Kedua bola mata Felix langsung membulat seolah hendak lepas dari tempatnya saat melihat pemandangan pagi yang menggoda iman tersebut. 


"Oh, Shhhiiiitttttt! Apa-apaan itu. Apa dia sengaja melakukannya untuk menggodaku pagi-pagi begini? Aduuhhh, mana si Robbert ngacungnya kenceng banget lagi." 


Felix misuh-misuh tidak karuan saat menyadari bagian bawah tubuhnya sudah berdiri tegak setegak tiang listrik. Apalagi, di depannya ada suguhan bakpao menul-menul yang siap untuk dilahap.


Citra yang menyadari ada gerakan di dekatnya, langsung menggeliat dan perlahan membuka kedua matanya. Dia cukup kaget saat ada Felix dan Finn di sana. Sontak saja Citra langsung beranjak duduk dengan tatapan kaget.


"O-om? Kok bisa aku ketiduran disini?" tanya Citra panik.


Entah sadar atau tidak, tangan Felix justru beranjak turun dan menyentuh 'tiang listriknya'. Tentu saja hal itu membuat Citra membulatkan kedua matanya. Saat Citra hendak memprotes tindakan Felix, dia langsung menyadari arah tatapan Felix.


Baru setelah menyadari kelalaiannya, Citra langsung menjerit dengan keras.


"Aaarrgghhhhh!"


Karena jeritan Citra itu pula, Finn yang tengah tidur dengan lelap langsung terbangun dan menangis karena kaget. Finn menangis dengan keras hingga Citra dan Felix cukup kesulitan menenangkannya.

__ADS_1


Butuh waktu cukup lama bagi Citra dan Felix menenangkan Finn. Bahkan, si 'tiang listrik' Felix pun sempat doyong dan nyungsep saking paniknya Felix berusaha menenangkan Finn.


Pagi itu, benar-benar menguras energi Felix dan Citra. Mereka bahkan harus bergantian menjaga Finn agar tidak merengek kembali. Beruntung hari itu adalah weekend, jadi Felix bisa berada di rumah seharian dan membantu Citra mengurus Finn.


Felix memesan sarapan untuknya dan Citra pagi itu. Dia tidak mau membuat Citra semakin kewalahan dengan harus memasak sarapan. Hingga setelah sarapan, Felix berjalan menghampiri Citra yang baru saja menjemur baju Finn yang sudah dikeringkan.


Sambil menggendong Finn yang sudah kembali terlelap, Felix berjalan menghampiri Citra di balkon. Citra menoleh sekilas ke arah pintu saat menyadari ada yang baru saja datang.


"Ada apa, Om?" tanya Citra sambil masih fokus menjemur baju Finn.


Felix terlihat gelisah sebelum menjawab pertanyaan Citra. Entah dapat dari mana pemikiran itu hingga membuatnya berani mengambil keputusan secepat itu. Citra yang tidak mendapat jawaban dari Felix, langsung menoleh ke arah samping.


"Ada yang bisa aku bantu, Om?" tanya Citra lagi saat tidak mendapati jawaban dari Felix.


Sambil mengatur degup jantungnya, Felix memberanikan diri bersuara.


"Cit, ayo kawin."


Lho lho lho, ngajak gelud ta ini si Felix.

__ADS_1


__ADS_2