
Jam pulang kantor sudah tiba. Seperti biasa, Felix segera bergegas untuk pulang. Tidak seperti sebelum-sebelumnya ketika dia belum mengetahui jika sudah punya anak, Felix paling betah berlama-lama di kantor. Atau paling tidak, dia pasti akan memilih untuk nongkrong terlebih dahulu setelah pulang dari kantor.
Namun, kebiasaan itu berubah setelah dia memiliki Finn di hidupnya. Rasa sayang kepada putranya itu berhasil mengalahkan kebiasaan Felix yang suka keluyuran di luar rumah. Dan sekarang, Felix merasa lebih suka menghabiskan waktu di rumah bersama dengan Finn daripada keluyuran tidak penting di luar rumah.
Seperti biasa, jam pulang kantor yang bersamaan, selalu membuat jalanan ibukota macet bukan main. Beruntung jarak kantor dan tempat tinggal Felix tidaklah jauh. Selain itu, Felix juga memilih untuk lewat jalan pintas agar lebih cepat sampai rumah.
Finn yang saat itu tengah bermain di ruang tengah, langsung menoleh ke arah pintu begitu mendengar suara Felix memanggil-manggil namanya. Sangat jelas sekali terlihat ekspresi bahagia dari bayi laki-laki yang baru saja dikhitan tersebut.
"Waahhh, Finn Sayang sedang main-main, ya. Main apa sih, ini?" goda Felix sambil membungkuk di dekat Finn.
Seketika Finn langsung mengulurkan tangannya minta gendong. Namun, tentu saja hal itu tidak bisa dilakukan oleh Felix. Dia tidak mau diomeli oleh Citra jika langsung pegang-pegang Finn setelah pulang kerja dan belum membersihkan diri.
"Nanti ya, Sayang. Papa mandi dulu biar bersih dan bebas dari kuman. Jika tidak bersih-bersih dulu, mama kamu pasti akan ngomel nanti," ucap Felix sambil beranjak berdiri meninggalkan Finn yang sudah mulai melengkungkan bibirnya. Sebentar lagi, bisa dipastikan Finn akan langsung banjir air mata.
Dan, benar saja. Tangis Finn langsung pecah saat Felix baru saja memasuki kamar dengan terburu-buru. Citra yang mendengar suara Felix dari arah balkon, langsung meletakkan jemuran yang baru saja diangkatnya. Dia buru-buru menghampiri Finn yang sudah nangis kejer tersebut.
__ADS_1
"Uh, Sayang. Dijahilin papa kamu, ya? Cup cup cup. Sudah, sudah, jangan nangis dong." Citra langsung menggendong Finn dan menimangnya. Dia berusaha menenangkan Finn yang sudah berontak ingin turun.
Hingga beberapa saat kemudian, Finn sudah mulai tenang karena Citra sudah mengeluarkan senjata andalannya untuk menenangkan Finn. Dan, benar saja. Finn langsung diam dan anteng ketika sudah mendapatkan sumber makanannya.
Tak sampai dua puluh menit kemudian, Felix terlihat keluar dari kamar dengan tubuh yang sudah lebih segar. Dia berjalan menghampiri Citra yang baru saja selesai menyusui Finn. Finn yang melihat Felix pun langsung kegirangan. Seketika dia mengulurkan tangannya untuk minta gendong.
"Waahhh, anak papa sudah kenyang, nih," ucap Felix sambil mengambil alih Finn dari pangkuan Citra.
Felix langsung menghujami Finn dengan banyak kecupan pada pipi gembul putranya itu. Finn langsung kegelian dan tertawa-tawa begitu berada di dalam gendongan papanya.
"Nanti saja sekalian makan malam. Kamu belum makan?" tanya Felix sambil mengikuti langkah kaki Citra menuju laundry room.
"Sudah kok, Om."
Felix langsung mencebikkan bibirnya saat mendengar Citra masih saja memanggilnya dengan panggilan om. Padahal, sejak pengakuan perasaannya kemarin, Felix meminta Citra mengganti panggilan kepadanya.
__ADS_1
"Kenapa masih panggil om sih, Cit. Takut jadi kebiasaan nanti. Nggak enak di dengar orang." Felix masih merengut kesal.
Citra berbalik dan menatap wajah kesal Felix sambil mendesahkan napas berat
"Masih canggung, Om. Kita kan belum ada hubungan apa-apa." Citra berusaha menjelaskan.
"Ya, kalau belum ada hubungan makanya sekarang diadain saja."
"Cckkk. Sembarangan kalau ngomong. Memang om mau hubungan seperti apa?"
Mendapati pertanyaan dari Citra, wajah Felix langsung berbinar bahagia.
"Tentu saja hubungan yang resmi, sah, dan halal. Kalau sudah halal, kita kan bisa bahu membahu mengurus Finn. Finn bagian atas, aku bagian bawah. Pas, kan?"
Pas gundullmu, Lix Felix. 🤧
__ADS_1