
Semakin dekat, dan semakin dekat. Nayra belum sempat protes, namun Rainer sudah langsung membungkam bibir tersebut dengan dengan bibirnya. Tidak terburu-buru. Rainer bergerak dengan perlahan dan berusaha menggoda Nayra.
Dan, berhasil. Nayra ikut terbuai dengan apa yang dilakukannya. Namun, tidak lama kemudian, Nayra segera tersadar. Dia mendorong bahu Rainer sambil menatap tajam.
"Apa-apaan sih, Pak? Sudah berapa kali Anda 'nyosor' terus. Jadi berasa seperti soang." Nayra mengerucutkan bibir kesal.
"Cckkk. Kenapa harus protes? Hal itu kan wajar dilakukan untuk orang yang mau menikah. Sini, aku belum selesai," ucap Rainer hendak mengulangi tindakannya barusan.
Namun, bukan Nayra jika tidak melawan. Secepat kilat Nayra menginjak kaki Rainer dengan keras. Beruntung saat itu Nayra menggunakan sepatu flat bukan high heels.
"Auuwhh! Kenapa diinjak, sih?" Rainer langsung mundur dan protes.
"Biar Anda tahu diri. Jangan seenaknya bertindak. Jika Bapak macam-macam sebelum kita halal, aku pastikan akan membatalkan rencana pernikahan itu." Nayra mengancam. Tatapan matanya berkilat kesal sambil menatap ke arah Rainer.
Mendengar hal itu, Rainer langsung mendengus kesal. Tentu saja dia tidak akan mungkin berbuat aneh-aneh lagi. Rainer tidak ingin jika rencananya berantakan dan membiarkan Nayra dibawa pergi oleh orang tuanya sebelum diikat secara resmi.
__ADS_1
Rainer berpikir, jika Nayra sudah menjadi istrinya secara sah, orang tuanya tidak akan bisa membawanya pergi lagi. Rainer tidak mau hal itu terjadi dan membuatnya kelimpungan seperti kemarin.
Sambil menggerutu, Rainer berjalan menuju dapur yang ada di sebelah kiri ruang tengah tersebut. Tidak ada sekat antara kedua ruang tersebut. Antara ruang tengah dan dapur, hanya dibatasi oleh sebuah mini bar dengan meja tambahan.
"Aku tidak akan macam-macam lagi sebelum kita halal. Sudah puas?" Rainer menoleh ke arah Nayra sambil mengambil air minum.
Nayra menganggukkan kepala. "Tentu saja. Aku nggak mau Bapak aneh-aneh lagi. Sudah cukup kemarin mempermalukan saya di depan orang tua Anda. Saya tidak mau melakukannya lagi." Nayra menatap tajam ke arah Rainer.
"Cckkk. Awas saja jika nanti kamu bakal ketagihan."
Tidak terima, Nayra langsung membalas ucapan Rainer. "Enak saja. Bukan saya yang ketagihan. Pak Rain yang ketagihan. Perasaan bawaannya 'nyosor' mulu seperti soang."
Nayra mengedarkan pandangannya ke sekitar ruang tamu hingga ruang tengah. Bunga-bunga mawar yang tersusun rapi, membuatnya sangat bahagia. Nayra tidak menyangka jika Rainer akan melakukan hal ini. Sebuah senyuman terbit di wajah Nayra.
Rainer yang melihat hal itu, berjalan kembali menghampiri Nayra. Namun kali ini, dia sengaja sedikit menjauh karena khawatir khilaf.
__ADS_1
"Kamu suka?" tanya Rainer.
Nayra masih tidak mengalihkan pandangannya dari sebuket bunga mawar putih yang dipegangnya.
"Suka." Kepalanya mengangguk dengan mantap. Sebuah senyuman juga langsung terbit pada bibirnya. "Ini semua Pak Rain siapkan untukku?" Nayra menoleh ke arah Rainer dengan senyum mengembang.
"Cckkk. Kamu pikir aku menyiapkan ini semua untuk siapa jika bukan untukmu?" Rainer memberengut kesal.
Nayra bisa menangkap wajah kesal Rainer langsung bersuara. "Saya kan hanya bertanya, Pak. Lagian, bagaimana Anda bisa memikirkan hal-hal seperti ini?"
Merasa tidak terima dengan pertanyaan Nayra, Rainer langsung mendelik sambil berkacak pinggang.
"Kamu pikir aku tidak bisa memikirkan hal-hal seperti ini?" Tatapan tajam langsung menghunus ke dalam kedua mata Nayra.
"Eh, bu-bukan seperti itu, Pak."
__ADS_1
•••
Kapan akurnya nih? Ribut mulu seperti Tom and Jerry. 🤧