Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Semriwing


__ADS_3

Rainer langsung panik saat tangis Nayra semakin keras. Dia segera meraih Nayra ke dalam pelukan dan mengusap-usap punggung sang istri dengan lembut untuk meredakan tangisnya. Rainer bahkan mendaratkan kecupan bertubi-tubi pada pucuk kepala Nayra.


"Sstttt, maaf, maaf. Maksudku bukan begitu tadi. Aku sama sekali tidak ada niatan untuk mencari penggantimu sebagai istri. Maaf, maaf." Rainer masih setia mengusap-usap punggung sang istri. Tak lupa juga kecupan-kecupan kecil masih didaratkan Rainer pada pucuk kepala Nayra.


Tidak ada jawaban ataupun reaksi yang diberikan oleh Nayra. Dia hanya diam sambil masih sesenggukan menangis. Hingga sekitar sepuluh menit kemudian, Rainer merasakan jika tubuh Nayra semakin berat. Rupanya, Nayra tertidur setelah kecapekan menangis.


Rainer tampak kebingungan saat menyadari jika Nayra sudah tertidur. Dia bingung harus melakukan apa terhadap Nayra. Rainer tidak yakin bisa mengangkat tubuh Nayra karena bahunya baru saja cedera.


"Huh, kenapa bisa mendadak tidur begini?" gumam Rainer sambil menoleh ke arah pintu yang hanya berjarak sekitar dua meter. 


Tidak ada pilihan lain yang bisa Rainer lakukan. Dia terpaksa menggeser tubuhnya mendekat ke arah pintu dengan melangkah pelan-pelan. Nayra yang masih berada di dalam dekapannya perlahan ikut bergerak.


Cukup lama hingga Rainer bisa sampai di ruang tamu. Karena merasa sudah cukup lelah, Rainer merebahkan tubuh Nayra di sofa ruang tamu. Keringat pada kening dan leher Rainer sangat banyak. Dia menahan beban tubuh Nayra dan sedikit menyisakan rasa cenut-cenut pada bahunya.


Rainer menegakkan tubuh dan menggerak-gerakkan lengannya. Dia menatap Nayra yang tengah terlelap tersebut dengan ekspresi bahagia. Ya, meskipun lelah dan membuat bahunya terasa sakit, namun tidak mengubah rasa bahagia Rainer.


Sebelum pergi meninggalkan Nayra untuk membersihkan diri, Rainer menyempatkan untuk mengecup pucuk kepala Nayra. Entah mengapa bagi Rainer semakin hari Nayra semakin menggemaskan.

__ADS_1


Rainer meninggalkan Nayra yang masih terlelap untuk membersihkan diri. Dia memutuskan untuk ke kantor setelah itu. Rainer juga sudah memesan makan siang untuk Nayra. Dan, tentu saja makan siang tersebut dipesan dari restoran yang makanannya bersahabat dengan ibu hamil.


Sekitar setengah jam kemudian, Rainer sudah selesai bersiap. Dia juga baru saja menerima paket makan siang yang sudah dipesannya. Untuk membantu Nayra, Rainer juga sudah menyiapkan makan siang tersebut di atas meja makan. Kini, giliran Rainer membangunkan Nayra.


Rainer duduk berjongkok di depan Nayra yang tengah terlelap di sofa tersebut. Melihat istrinya tengah terlelap seperti itu, muncul niat Rainer untuk sembuh semakin besar. Dia berniat untuk mengunjungi dokter agar bisa memberikan solusi bagaimana cara agar lukanya bisa segera sembuh.


Saat sedang memikirkan usaha agar lukanya bisa segera sembuh, tiba-tiba kedua netra Nayra terbuka. Ketika membuka mata, Nayra langsung menatap wajah Rainer yang berada tepat di depannya.


"Eeuughhh, Mas?" Nayra menggeliatkan tubuh saat melihat wajah Rainer yang berada di depannya. "Sudah mau ke kantor?" tanya Nayra kemudian. 


"Iya. Tadi Resta memberitahu ada meeting internal dengan tim dua. Kamu tidak apa-apa jika di rumah sendirian, kan? Aku juga sudah pesan makan siang untuk kamu," ucap Rainer.


Nayra beringsut duduk sambil menggerakkan kepala ke kiri dan ke kanan. Dia menatap Rainer lekat-lekat sebelum bersuara.


"Meeting jam berapa?" 


"Jam dua."

__ADS_1


Nayra melirik jam yang ada di dekat lukisan. Sekarang masih pukul 12.35. masih ada waktu sekitar satu setengah jam lagi, pikir Nayra.


"Masih ada waktu sekitar satu setengah jam lagi, aku mau melakukan sesuatu boleh," tanya Nayra sambil menggigiti bibir bawahnya. Jangan lupakan tatapan mata sayu Nayra yang sudah bisa diartikan dengan jelas oleh Rainer.


Namun, bukannya menyambut dengan suka cita, justru tubuh Rainer menegang melihat tingkah istrinya itu.


"Ka-kamu mau apa? Ta-tadi dokter bilang kita belum boleh 'main' begituan, kan?" ucap Rainer mencoba meyakinkan niatan sang istri.


"Belum boleh 'itu', tapi bukan berarti tidak bisa melakukannya dengan cara lain kan, Mas?" jawab Nayra sambil mengedipkan matanya.


Rainer hanya bisa menelan salivanya dengan keras saat melihat tingkah istrinya itu. Entah mengapa Nayra bisa berubah menjadi sangat agresif seperti ini.


"Ta-tapi apakah tidak bahaya jika aku nusuknya kekencengan nanti?" tanya Rainer was-was.


"Eh, siapa bilang kamu akan menjenguk mereka secara langsung, pakai cara lain dulu. Aku sikat gigi dulu biar ada efek semriwingnya nanti," jawab Nayra sambil beranjak berdiri dan langsung ngeloyor pergi meninggalkan Rainer yang masih melongo.


"Semriwing? Apa akan ada segar-segar dingin begitu nanti?" gumam Rainer yang masih terkejut.

__ADS_1


__ADS_2