
Brukkk.
Setelah mendengar jawaban Nayra, Rainer langsung menariknya dengan cepat ke dalam pelukan. Saking cepatnya, dia tidak menyadari jika kaki Nayra akan menyenggol dekorasi bunga yang dibuat hingga setinggi pinggang tersebut.
Alih-alih ingin memeluk Nayra, justru Nayra langsung menahan tubuhnya saking terkejut dengan tindakan tiba-tiba Rainer.
"Apa-apaan sih? Sayang, jatuh nih bunganya, nih." Nayra masih menatap bunga yang jatuh dan tangkainya berhamburan dari tempatnya.
Kedua bola mata Rainer langsung membulat. Bukan karena benda yang jatuh, tapi karena ucapan Nayra. Ya, Rainer hanya fokus pada satu kata yang baru saja diucapkan oleh Nayra, 'sayang'.
"Kamu memanggilku 'sayang'?" tanya Rainer sambil menatap wajah Nayra dengan ekspresi terkejut. Entah mengapa ada sedikit desiran hangat yang dirasakan Rainer. Dan, dia menyukainya.
Nayra langsung menoleh. Keningnya berkerut karena tidak paham dengan maksud Rainer.
"Maksudnya apa?"
"Itu, tadi kamu memanggilku 'sayang', kan?" Rainer tetap kekeh.
Nayra baru sadar dengan maksud ucapan Rainer. Dia mencebikkan bibir sambil menatap tajam ke arah Rainer.
"Aku tadi bilang sayang untuk bunganya, Pak. Bukan sayang memanggil Anda. Kenapa pede sekali sih," gerutu Nayra.
"Cckkk. Aku nggak mau tau. Aku suka panggilan itu. Mulai sekarang, jangan panggil 'Pak' atau 'Bapak' jika di rumah."
__ADS_1
Nayra mengerutkan kening. "Maksudnya panggilan apa?"
"Sayang. Aku mau dipanggil itu mulai sekarang." Rainer mengatakannya tanpa ragu apalagi malu. Emang Rain punya rasa malu?
Nayra hanya bisa membulatkan kedua bola mata dan mulutnya saat mendengar ucapan Rainer. Dia benar-benar tidak menyangka jika Rainer akan mengatakan hal-hal seperti itu.
"Kenapa? Kenapa saya harus memanggil Anda seperti itu? Apa salahnya jika saya memanggil 'Pak' atau 'Bapak'?
"Tentu saja kamu harus mengganti panggilan. Mana enak panggilan itu didengar untuk pasangan suami istri?"
"Tapi kita kan belum menikah, Pak?"
"Besok. Kita akan menikah besok. Jadi, mulai sekarang kamu harus membiasakan diri untuk memanggilku seperti itu."
"I-ini Bapak serius?"
Rainer langsung berdecak kesal. "Tentu saja serius. Kamu pikir aku akan main-main dengan hal besar seperti ini?" Tatapan mata Rainer menghujam dalam-dalam pada mata Nayra.
Nayra hanya bisa mengerjap-ngerjapkan kedua matanya sambil menatap ke arah Rainer.
"Ja-jadi, Anda akan menikahi saya besok?"
"Hhmmm."
__ADS_1
"Lalu, persyaratannya?"
"Syarat-syarat utamanya akan siap besok siang. Untuk itu, kamu tidak usah khawatir. Persiapkan saja dirimu untuk menjadi Nyonya Rainer. Selain itu, serahkan semua kepadaku." Rainer menatap lekat-lekat wajah Nayra.
Kedua pasang netra mereka bertemu dan saling mengunci. Ada desiran hangat yang dirasakan oleh Nayra. Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang saat melihat kesungguhan pada netra Rainer.
Hingga, Nayra tidak menyadari jika Rainer semakin mendekat ke arahnya. Dan, grep. Rainer menarik tubuh Nayra hingga kini sudah menempel dengan erat pada tubuhnya. Tentu saja hal itu membuat Nayra tersadar dan terkejut.
"Eh, Pa-pak?" Nayra langsung mencengkram kemeja Rainer yang terlihat sudah kusut tersebut. Jangan lupakan tatapan mata keduanya yang saling terkunci.
"Sudah aku bilang mulai sekarang ganti panggilan itu." Tatapan mata Rainer langsung berkilat-kilat melihat ke arah Nayra.
"Panggilan apa?"
"Sayang. Aku mau panggilan itu."
"Sa-sayang?"
Mendengar itu, sebuah senyuman langsung terbit dari bibir Rainer. Tanpa aba-aba, Rainer memajukan wajahnya mendekat ke arah Nayra.
•••
Mau apa sih, Rain?
__ADS_1