
Citra dan Felix langsung kaget karena suara tangisan Finn yang cukup kencang. Citra buru-buru mengeluarkan pabrik makanan Finn dan langsung menyodorkannya pada mulut bayi tersebut. Dia bahkan lupa menutupi asetnya itu saking buru-burunya.
Felix yang melihat hal itu langsung membulatkan kedua bola matanya. Dia benar-benar baru pertama kali melihat benda sebesar dan seputih itu.
'Kenapa itu besar sekali? Mana putih lagi?' gumam Felix dalam hati. Kedua bola matanya bahkan tidak berpindah dari pabrik nutrisi yang tengah dikenyot dengan rakus oleh Finn. Bahkan, jakun Felix sudah naik turun seiring dengan hembusan napas Citra yang juga sedikit memburu karena kaget sekaligus panik tadi.
Citra yang menyadari ada seseorang yang tengah menatapnya, seketika menoleh. Dia cukup terkejut saat mendapati Felix menatap bibir Finn yang tengah mengenyot sumber makanannya dengan rakus. Citra buru-buru menutupi bagian depan tubuhnya dengan kemejanya.
"Om apa-apaan, sih? Nggak sopan tau lihatin orang begitu!" Citra langsung menggerutu kesal.
Seketika Felix langsung menolehkan pandangan. Entah mengapa otaknya mendadak blank. Dia buru-buru beranjak menuju kamar mandi. Felix harus menenangkan 'si adik' yang rupanya sudah mulai melambai-lambai.
🌴
Sementara itu di kantor Rainer, dia sudah bersiap untuk pulang. Rainer sedang menunggu Nayra yang sedang membereskan laporan dengan Resta. Karena merasa terlaly lama menunggu, Rainer akhirnya menyusul Nayra di ruangannya.
__ADS_1
"Masih lama?" tanya Rainer sambil berjalan memasuki ruangan yang pintunya terbuka tersebut.
Kedua orang yang sedang berada di dalam ruangan tersebut langsung menoleh.
"Sudah selesai, Pak. Ini tinggal memasukkan ke dalam map," ucap Redta sambil menunjukkan map yang dipegangnya.
Rainer menatap ke arah Nayra yang juga tengah sibuk memasukkan barang-barangnya ke dalam tas. Tanpa menunggi terlalu lama, Rainer langsung berjalan mendekati Nayra dan segera menarik tangan istrinya tersebut setelah melihatnya selesai memasukkan barang.
"Kamu selesaikan sisanya. Kami pulang dulu," ucap Rainer sambil menarik tangan Nayra.
Tentu saja tindakan Rainer itu membuat Nayra dan Resta terkejut.
"Nggak usah. Tinggal sedikit itu. Biar Resta selesaikan sendiri. Lagian, dia juga tidak buru-buru amat pulang ke rumah. Dia kan jomblo, nggak ada yang nungguin di rumah," jawab Rainer tanpa dosa.
Seketika Nayra memukul bahu Rainer. Dia cukup kesal mendengar ucapan suaminya itu.
__ADS_1
"Mulutnya ya, Mas. Nggak usah ngomong aneh-aneh. Bukan mau Resta juga jika dia masih jomblo. Sebenarnya, dia…," belum sempat Nayra menyelesaikan ucapannya, Resta buru-buru menyela.
"Nggak apa-apa kok, Mbak. Santai saja. Tinggal sedikit ini. Habis ini juga beres. Mbak Nayra pulang saja dulu," ucap Resta buru-buru. Dia tidak mau jika sampai Nayra keceplosan menceritakan kisahnya kepada Rainer.
Nayra yang menyadari jika dirinya hampir saja keceplosan, langsung buru-buru menutup bibirnya. Dia bisa memahami kekhawatiran Resta tersebut.
Setelah itu, Nayra dan Rainer segera bergegas meninggalkan Resta yang masih harus membereskan dua buah map yang belum dirapikan. Hingga tak sampai satu jam kemudian, Rainer dan Nayra sudah tiba di penthouse. Mereka segera membersihkan diri karena tubuh mereka sama-sama terasa lengket.
Malam itu, Rainer minta dimasakkan ayam kecap manis pedas. Awalnya, Nayra dengan senang hati memasakkan makanan tersebut karena dia sudah ada bahan-bahan untuk memasaknya. Namun, semua itu tidak mudah saat Rainer meminta semua ayam yang di olah harus bagian sayapnya. Tentu saja Nayra kesulitan mencarinya di sore hari itu.
Mau tidak mau, Nayra harus memesan secara online sayap ayam tersebut. Meskipun kesal, namun Nayra tetap menyiapkan makanan permintaan Rainer. Jika tidak, bisa dipastikan si bayi besarnya tersebut akan merengek seperti bayi.
Sambil menunggu pesanannya datang, Nayra mulai memasak makanan lain. Dan, ketika pesanan sayap ayam Nayra sudah datang, dia buru-buru mengolah daging ayam tersebut. Nayra ingin segera menyelesaikan masakannya tersebut secepatnya.
Ketika sedang berkutat di dapur, terdengar suara ponselnya berbubyi. Nayra mematikan kompor dan berjalan untuk mengambil ponsel. Kening Nayra berkerut saat mendapati nomor sang sahabat di layar ponselnya.
__ADS_1
"Hallo, Lin. Ada apa?"
Sisakan satu vote untuk Rainer dan Felix ya, biar othor semangat upnya. Terima kasih. 🤗