Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Anak Siapa?


__ADS_3

Felix berjalan dengan pikiran melanglang buana. Dia mulai menyiapkan beberapa jawaban yang sekiranya tidak membuat Rainer marah. Felix juga memikirkan bagaimana jika seandainya dia mengatakan yang sebenarnya kepada Rainer.


Felix belum mendapatkan jawaban terbaiknya, namun Rainer sudah menunggunya di depan ruangan. Felix hanya bisa mendesahkan napas berat sambil berjalan menghampiri atasan sekaligus sahabatnya tersebut.


"Hai, Boss," sapa Felix sambil tersenyum nyengir.


Rainer tidak menjawab sapaan Felix. Kedua tangan Rainer terlipat di depan dada. Dia masih menatap Felix dengan tatapan tajamnya. 


Felix tetap melangkah mendekat ke arah Rainer. Dia berusaha bersikap tenang meski tahu kesalahannya karena mengabaikan telepon Rainer sejak dua hari yang lalu.


Rainer masih diam sambil menatap kesal ke arah Felix. Dia menunggu hingga Felix benar-benar berada di depannya.


Begitu sampai di depan Rainer, Felix masih menampilkan wajah tanpa dosanya. Dia masih mengulas senyuman seolah tidak memiliki kesalahan apapun.


"Kenapa wajahnya di tekuk begitu? Nggak dapat jatah dari Nayra?" tanya Felix.


Rainer mendengus kesal dan mengurai dekapan tangannya. Dia masih menatap tajam ke arah Felix.


"Dari mana saja, Lo? Masih ingat masuk kantor?" sindir Rainer.


Felix mencebikkan bibir. Dia memasang ekspresi santai padahal sebenarnya takut jika Rainer mengamuk. Sebenarnya, sudah biasa bagi Felix melihat Rainer mengamuk. Rainer akan langsung marah jika ada hal yang tidak sesuai dengan keinginannya. 

__ADS_1


Namun, tingkah Rainer yang suka marah-marah tersebut sudah berangsur-angsur berkurang semenjak menikah. Entah, obat apa yang diberikan Nayra hingga membuat Rainer bisa sedikit jinak.


"Hehehe, maaf, Boss. Kemarin sibuk banget, nggak sempat buka ponsel," jawab Felix lagi-lagi sambil nyengir. Dia berusaha bersikap biasa saja terhadap Rainer.


"Sibuk? Apa hal yang lebih penting dari pekerjaan lo, Lix? Sesibuk-sibuknya lo, setidaknya balas pesan gue. Lo tau karena kecerobohan lo, kita hampir kehilangan kesempatan untuk bekerja sama dengan Adyatma's Property. Lo tau persis bagaimana usaha kita untuk mendapatkan kerjasama itu selama ini, kan?"


"Denger Lix, gue nggak masalah jika tindakan lo hanya memberikan dampak untuk diri lo sendiri. Tapi, gue nggak akan tinggal diam jika akibat dari tindakan lo itu merugikan perusahaan dan ujung-ujungnya berakibat pada karyawan yang menggantungkan hidup mereka pada perusahaan ini," ucap Rainer panjang lebar.


Glek.


Felix langsung menelan salivanya dengan keras. Wajahnya mendadak pias saat Rainer mengatakan hal itu tadi. Sebenarnya, Felix punya alasan mengapa dia tidak sempat membuka ponsel saat malam pertama Finn ada di tempatnya. Dia benar-benar kesulitan mengasuh bayi laki-laki tersebut.


Sebenarnya, bukan salah Rainer juga menegur Felix seperti itu. Dia tidak mengetahui apa yang terjadi pada asisten sekaligus sahabatnya tersebut. Rainer hanya bersikap sebagai seorang pimpinan yang harus memikirkan para karyawannya.


Rainer masih menatap Felix dengan tatapan tajam. Sebenarnya, dia tidak ingin memarahi Felix mengingat baru kali ini sahabatnya itu melakukan kesalahan.


Setelah menghela napas dalam-dalam dan menghembuskannya, Rainer segera mengajak Felix masuk ke dalam ruangannya. Dia ingin mendengar alasan apa yang membuat laki-laki itu mengabaikan pesan dan teleponnya kemarin.


Begitu keduanya sudah duduk berhadapan di ruang kerja Rainer, mereka masih terlihat saling diam. Hingga beberapa saat kemudian, Rainer membuka suara.


"Sekarang, katakan apa alasan lo," ucap Rainer. Dia masih menatap Felix dengan ekspresi serius.

__ADS_1


Felix menghela napas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan sebelum menjawab pertanyaan Felix.


"Dua hari kemarin, gue benar-benar sibuk, Rain. Gue nggak sempat pegang ponsel lama-lama. Bahkan, siang hari kemarin ponsel gue sempat mati dan gue nggak sadar dengan itu."


Kening Rainer berkerut. Dia cukup terkejut dengan ucapan Felix. Pasalnya, Felix tidak biasa seperti itu. Dia adalah tipe-tipe orang yang fast response.


"Tumben ponsel lo sempat mati. Biasanya, ponsel lo on dua puluh empat jam seperti ponsel Nayra. Klien lebih banyak hubungin lo dari pada gue."


Felix mengangguk-anggukkan kepala menyetujui ucapan Rainer.


"Lo benar. Tapi, kemarin gue masih kewalahan, Rain. Mana sempat pegang ponsel."


Lagi-lagi kening Rainer berkerut. Dia masih belum bisa mencerna ucapan Felix.


"Kewalahan? Maksud lo?" tanya Rainer.


Felix menatap lekat-lekat kedua netra Rainer. Dia menimbang-nimbang apakah menceritakan masalahnya kepada Rainer atau tidak. Tapi, karena Felix ingin meminta bantuan Rainer, jadi dia memutuskan untuk menceritakan apa yang terjadi.


"Ehm, se-sebenarnya, kemarin gue sibuk ngurusin anak," jawab Felix.


Rainer masih mengerutkan kening bingung. "Anak? Anak siapa?" tanya Rainer.

__ADS_1


"Ehm, anak gue. Mungkin," jawab Felix ragu-ragu.


"He, bagaimana?"


__ADS_2