Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Kembali ke Kantor


__ADS_3

"Hallo?" Rainer menyapa si penelepon yang menginterupsi aktivitasnya malam itu.


"...."


"Felix?" 


Rainer baru menyadari Felix lah yang menghubunginya malam itu setelah mendengar suara dan memastikan nama yang tertera di layar ponselnya.


"...."


"Bagaimana bisa?"


"...."


"Kenapa jadi secepat ini?"


"...."


Rainer mendesahkan napas beratnya sambil menatap ke arah Nayra yang masih berusaha mengatur napasnya yang ngos-ngosan. Tatapan mata sayu masih menghujam dalam-dalam saat menatap wajah Nayra.

__ADS_1


"Baiklah. Pesankan tiket malam ini juga untukku. Kita bertemu langsung di bandara," ucap Rainer mengakhiri teleponnya malam itu.


Setelah mematikan panggilan telepon, Rainer mendekati Nayra yang saat itu sudah duduk kembali. Tatapan mata mereka bertemu. Rainer langsung memberikan sebuah kecupan pada bibir Nayra yang sudah membengkak karena ulahnya.


"Aku harus berangkat ke Singapura malam ini. Ada urusan kantor yang harus aku tangani bareng Felix. Kamu nggak apa-apa aku tinggal sebentar, kan?" tanya Rainer sambil menggerakkan bibirnya pada pipi Nayra.


"Eh, i-iya." Entah Nayra bisa mencerna ucapan Rainer atau tidak. Namun, dia segera mengangguk mengiyakan.


"Baiklah. Besok, kembalilah ke kantor dan mulai kerjakan pekerjaan yang sudah kamu tinggalkan beberapa hari ini. Aku akan secepatnya kembali jika urusanku sudah selesai."


Nayra mengangguk. "Iya."


Tak sampai tiga puluh menit kemudian, Rainer sudah berangkat. Dia langsung menuju bandara dengan mengendarai mobilnya sendiri. Mama Rainer yang saat itu menginap di tempat Rainer, sempat marah-marah karena Rainer meninggalkan Nayra. Namun, akhirnya beliau mengizinkan Rainer berangkat setelah mengetahui apa yang terjadi dengan perusahaan putranya tersebut.


Malam itu, pertama kali Nayra tidur di kamar Rainer. Sebenarnya, Nayra sudah sering mondar-mandir di kamar tersebut. Hanya saja, malam itu dia baru pertama kali tidur di sana dengan status baru sebagai istri Rainer.


Keesokan pagi, Mama Rainer langsung kembali ke rumah utama pagi-pagi sekali. Bahkan, mama Rainer menolak untuk sarapan karena harus segera pulang. Mau tidak mau, Nayra hanya menuruti permintaan mertuanya tersebut.


Pagi itu, Nayra hanya sarapan dengan roti isi. Dia malas jika harus memasak dan memakannya sendiri. Setelah cukup, Nayra segera mandi dan bersiap. Hari itu, Nayra harus ke kantor. Dia juga harus mengerjakan pekerjaannya yang terbengkalai beberapa hari ini.

__ADS_1


Setelah semua siap, Nayra bergegas untuk berangkat. Beruntung Nayra masih punya satu set pakaian kerja di tempat Rainer. Dia sudah merencanakan akan mengambil baju-bajunya nanti setelah pulang kerja.


Nayra melangkahkan kaki menuju lobi. Karena jarak penthouse Rainer dan kantor tidak terlalu jauh, Nayra memutuskan untuk memesan ojek online. Jika menggunakan ojek, Nayra bisa sampai di kantor hanya dalam waktu lima belas sampai dua puluh menit.


Setelah keluar dari lift, Nayra segera berjalan menuju bagian samping lobi. Di sana, biasanya ojek online akan menunggu orang-orang yang sudah memesan mereka.


Namun, langkah kaki Nayra terhenti saat mendengar sebuah suara memanggil namanya.


"Nay, tunggu!"


Sontak saja Nayra langsung menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke arah sumber suara. Kedua bola matanya langsung terbuka lebar saat melihat siapa yang sudah memanggilnya.


"Aaron?" Gumam Nayra saat melihat laki-laki itu berjalan mendekat ke arahnya.


"Bisa kita bicara sebentar?"


"Eh?"


•••

__ADS_1


Hhmmm mau apa nih si Aaron?


__ADS_2