
Rainer masih menatap ke arah Nayra yang sedang berdansa tersebut. Entah mengapa dadanya langsung bergemuruh. Otot-otot tangannya langsung menegang. Tangan kirinya bahkan langsung mengepal otomatis sementara tangan kanannya mencengkeram ponsel dengan cukup erat.
Rahang Rainer langsung mengeras. Terdengar jelas dari tempat duduk Felix jika Rainer tengah menggertakkan gigi. Felix pun menoleh ke arah Rainer dan langsung menyunggingkan senyuman.
"Cckkk. Bilang nggak ada rasa. Nggak peduli. Lihat yang begituan langsung serasa ada 'bledek' menyambar di hati. Bagaimana coba jika lihat Nayra dan laki-laki itu berciuuman. Beeuuhh, bisa langsung ada tsunami, angin topan, badai, bahkan halilintar." Felix meledek Rainer yang masih fokus menatap ke arah Nayra.
Rainer bahkan sama sekali tidak mengindahkan ucapan Felix yang tengah menggodanya. Dia terlalu fokus pada dua orang yang sedang asyik berdansa tersebut.
Rainer bahkan bisa melihat dengan jelas saat tubuh Nayra menempel pada tubuh Aaron. Kedua tangan Nayra menyentuh bahu Aaron. Sementara tangan Aaron menempel pada pinggang Nayra.
Mereka bergerak ke kiri dan ke kanan mengikuti alunan lagu. Bahkan, gerakan mereka sama dengan gerakan puluhan pasangan yang ada di lantai dansa tersebut.
Semakin lama, dada Rainer semakin bergemuruh. Dia sudah tidak bisa menahan diri lagi. Secepat kilat Rainer langsung berdiri dan berjalan dengan cepat menuju pintu.
Felix yang melihat hal itu langsung melongo. Dia benar-benar tidak menyangka jika Rainer akan langsung beranjak pergi setelah melihat Nayra berdansa dengan seorang laki-laki.
__ADS_1
"Ccckkk. Modelan begitu dibilang tidak ada rasa? Dibilang tidak suka? Baru lihat Nayra nempel sama laki-laki sudah berasa seperti bencana." Felix mencebikkan bibir sambil menoleh ke arah aula kembali.
Tatapannya menyipit saat melihat Nayra dan Aaron berjalan keluar dari lantai dansa.
"Sepertinya, laki-laki itu adalah orang yang sama dengan yang dulu saat di pesta. Apa mereka benar tidak ada hubungan apa-apa?" Felix masih bertanya-tanya sendiri.
Dia masih melihat Nayra dan Aaron mulai berjalan mendekati mejanya kembali. Namun, saat itu hanya Nayra yang duduk. Aaron terlihat berpamitan. Felix memperhatikan saat Aaron berjalan untuk mengambilkan air minum untuk Nayra.
Saat itu, Felix bisa melihat dengan jelas jika Rainer juga sedang berjalan ke arah Nayra dengan cepat. Jangan lupakan tatapan matanya yang tajam seolah ingin menghunus tajam ke dalam jantung Nayra.
"Lho, Pak Rain?"
Tanpa aba-aba, Rainer langsung menarik tangan Nayra dan mengajaknya berjalan keluar aula. Sontak saja hal itu membuat Nayra terkejut dan kebingungan.
"Eh, eh. Ini mau kemana, Pak?" tanya Nayra bingung. Dia masih kesulitan mengikuti langkah kaki Rainer yang berjalan cukup cepat tersebut.
__ADS_1
Tanpa memperdulikan pertanyaan Nayra, Rainer terus menarik Nayra hingga ke arah lift. Mereka masih berdiri di depan pintu lift untuk menunggu pintu lift terbuka.
Nayra masih menatap tangan kanannya yang digenggam erat oleh Rainer.
"Pak, ki-kita…," belum sempat Nayra melanjutkan ucapannya, pintu lift sudah terbuka. Sudah ada dua orang di dalam. Mau tidak mau, Nayra hanya bisa mengikuti langkah kaki Rainer memasuki lift.
Tidak ada obrolan yang terjadi diantara mereka. Hingga lift berhenti di lantai dua puluh tiga. Rainer menarik tangan Nayra untuk mengikutinya keluar dari lift. Lagi-lagi, Nayra hanya bisa pasrah.
Ketika sudah tidak bisa menahan rasa penasaran, akhirnya Nayra memberanikan diri untuk bertanya saat mereka sudah sampai di ujung lorong yang hendak berbelok.
"Pak, i-ini kita ma…eemmphh hhmmmm."
Apaan sih itu?
Mohon bantu dukungan cerita ini ya, masih sepi 🤧
__ADS_1
Bantu promosi juga biar tambah ramai. Othor selingkuh dulu di sebelah, nanti jika sudah ramai tak balik lagi 🤭