
Keesokan pagi, Felix terpaksa harus kembali ke apartemen. Dia harus ke kantor untuk memimpin meeting lebih dulu sambil menunggu Rainer yang harus ke kantor keluarganya lebih dulu. Rainer terpaksa menunda meeting internal pagi ini di kantor keluarganya karena kemarin harus pergi ke rumah sakit.
"Aku balik dulu. Nanti aku akan minta bu Ani untuk mengantarkan baju ganti untuk kamu. Kamu bilang saja apa-apa saja yang harus dibawa biar sekalian dibawakan," ucap Felix setelah mencium Finn yang masih terlelap.
"Iya, Om. Nanti aku chat bu Ani apa saja yang aku butuhkan."
"Hhhmmm. Jangan lupa langsung hubungi aku jika ada apa-apa sama Finn. Kamu juga harus kasih kabar dengan foto setiap tiga puluh menit sekali."
Citra memutar kedua bola matanya dengan jengah. Entah mengapa menurut Citra, Felix semakin aneh. Agar tidak bertambah ribet, akhirnya Citra mengiyakan saja permintaan Felix.
Setelah itu, Felix langsung pulang ke apartemen. Jam masih menunjukkan pukul 05.50 saat Felix baru tiba di apartemen. Dia langsung menyiapkan keperluannya untuk menginap di rumah sakit. Felix akan menginap disana selama putranya masih akan dirawat.
__ADS_1
Tak berapa lama kemudian, bi Ani datang. Dia adalah ART yang selalu membersihkan apartemen Felix. Dia selalu datang pagi hari, dan akan pulang jam tiga sore. Bi Ani akan datang dua hari sekali, atau jika diperlukan dia akan datang setiap hari.
"Bi, nanti minta tolong bereskan barang-barang Citra dan sekalian antar ke rumah sakit, ya. Kasihan dia tidak punya baju ganti," ucap Felix saat menghampiri bi Ani yang sedang menjemur baju.
"Eh, iya, Pak. Bagaimana keadaan si kecil?" tanya bi Ani yang memang sudah tahu jika Finn tengah dirawat di rumah sakit.
"Sudah mendingan, Bi. Tapi ya, begitu. Dia masih suka rewel."
"Ya, maklum saja, Pak. Bayi sekecil itu sudah di sunat. Dia pasti tidak nyaman dan belum bisa mengeluh."
Sementara itu di rumah sakit, Citra tampak kewalahan untuk menenangkan Finn yang menangis sejak tadi. Entah apa penyebabnya bayi laki-laki itu sangat rewel. Citra yang pada dasarnya sangat cengeng, langsung ikut berkaca-kaca saat melihat Finn menangis dan dia tidak tahu harus melakukan apa.
__ADS_1
Beruntung saat itu ada kunjungan dokter. Dokter segera memeriksa Finn dan semua kondisinya baik-baik saja. Finn menangis dan merengek hanya karena dia merasa tidak nyaman. Setelah itu memberikan penjelasan singkat. Citra mendengarkan dengan baik apa-apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan.
Beberapa saat setelah kepergian dokter, seorang perawat datang untuk membawakan obat yang harus diminum oleh Finn. Citra yang saat itu masih sesenggukan, hanya bisa mengangguk-anggukkan kepala mendengar penjelasan perawat tersebut.
"Sus, ini kenapa kok nangis terus ya? Sejak tadi rewel mulu," ucap Citra sambil menggendong Finn. "Dia juga ogah-ogahan minum asi," lanjut Citra.
"Sebaiknya dibawa ke dekat jendela saja, Bu, biar adik nyaman terkena sedikit udara luar. Kalau bisa, mamanya juga jangan ikut menangis. Nanti adik juga merasa tidak nyaman."
Citra mengangguk mengerti. Sepertinya, dia memang terlalu emosional. Citra berusaha menenangkan diri agar tidak menangis.
"Baik, Sus. Terima kasih."
__ADS_1
"Sama-sama. Mamanya tenang, adik juga pasti tenang."
Citra mengulas senyumannya. Tidak hanya sekali itu dia dipanggil mama saat bersama dengan Finn. Setidaknya, Citra sudah mulai terbiasa dengan panggilan itu.