Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Drama Rainer


__ADS_3

Nayra hanya bisa mendengus kesal saat Rainer kembali menyeretnya pulang. Dia sudah bisa membayangkan apa yang akan dilakukan oleh suaminya itu ketika sampai di penthousenya.


Sepanjang perjalanan, Nayra tampak merajuk. Namun, bukan Rainer namanya jika tidak menggubris rajukan sang istri. Awalnya, Nayra ingin tetap merajuk saat tiba di penthouse. Namun, saat dia membuka pintu, terlihat mama Rainer sudah ada di sana. Tentu saja kedatangan mertuanya tersebut membuat Nayra langsung melunak.


Nayra dan mama Rainer langsung memasak makan malam bersama. Mereka cukup senang saat melakukan aktivitas bersama di dapur. Dengan diselingi obrolan khas wanita, keduanya tampak asyik. Bahkan, Rainer yang sejak tadi menunggui makan malamnya pun sudah terlihat kesal.


"Ma, kenapa lama sekali, sih? Apa yang kalian masak?" tanya Rainer sambil berjalan memasuki dapur. Dia langsung menghampiri Nayra dan melongokkan wajahnya melalui bahu sang istri.


Mama Rainer yang melihat kedatangan sang putra langsung mencebikkan bibir. 


"Tunggu sebentar, Rain. Mama sama Nayra masih belum selesai memasak. Sabar dulu kenapa, sih?" Mama langsung menoleh ke arah Rainer sambil melayangkan tatapan kesal.


Mendapati tatapan sang mama, Rainer justru semakin bertingkah. Tanpa malu-malu, Rainer langsung memeluk tubuh Nayra dari belakang. Dia menempelkan bibirnya pada telinga Nayra dan berbisik.


"Jangan lama-lama. Segera selesaikan masakannya. Aku sudah nggak sabar, nih. Yang bawah sudah kenceng dan pilek, minta di kecup-kecup basah sama celupin di sini," bisik Rainer sambil tangannya sudah mulai merayap ke bawah.

__ADS_1


Sontak saja hal itu membuat Nayra gelagapan. Dia khawatir jika tindakan Rainer tersebut dilihat oleh mama mertuanya.


"Mas! Jangan aneh-aneh, deh." Nayra berbisik sambil mencubit punggung tangan Rainer.


Rupanya, tindakan Nayra dan Rainer tersebut tak luput dari perhatian mama Rainer. Sontak saja mama Rainer langsung berdehem.


"Ehem, ehem. Kalian ini nggak tahu tempat ya mau mesra-mesraan? Nggak lihat ada mama disini?" ucap Mama Rainer sambil menampilkan ekspresi kesalnya. Padahal, dalam hati beliau sudah tertawa kegirangan melihat putranya sudah mulai bucin terhadap sang istri.


Seketika Rainer menjauhkan tubuhnya dari tubuh Nayra. Sedangkan Nayra, tampak kikuk saat menoleh ke arah mertuanya.


"Halah, bilang saja kamu sudah nggak sabar mau 'menusuk' Nayra kan? Kelihatan banget dari gelagat kamu, Rain. Heran deh, dulu adem ayem alias anteng banget, eh sekarang seperti cacing kepanasan jika di dekat Nayra," ucap mama Rainer mencibir putranya.


Mendengar cibiran sang mama, sontak saja Rainer langsung meradang.


"Tentu saja. Hampir tiga puluh tahun aku puasa, sekarang apa salahnya jika aku puas-puasin buka puasanya, Ma. Lagian, mama kan juga mau punya cucu cepet-cepet. Harusnya, mama jangan sering-sering nyamperin kita, dong."

__ADS_1


"Mas, apaan sih ngomongnya?" Nayra langsung merasa malu setelah mendengar ucapan Rainer.


Bukannya tersinggung, mama Rainer justru menoleh dan mendelik menatap wajah sang putra.


"Wajar kan jika mama mengunjungi menantu mama? Memangnya ada yang melarang mama mengunjungi menantu mama?" Kali ini mama Rainer tidak mau kalah.


"Ya, nggak ada yang melarang. Tapi, jika mama sering-sering nyamperin kita, kapan aku bisa buat cucu untuk mama dan papa?" 


"Astaga, Mas! Kamu ngomong apa sih?" Nayra langsung mematikan kompor dan memukul lengan Rainer. Dia benar-benar merasa malu dengan ucapan suaminya tersebut.


"Biarin, ih. Masa iya aku harus menahan 'pilek' terlalu lama. Takutnya nanti lama-lama jadi tersumbat. Kamu sendiri nanti yang kesusahan jika sampai ada yang tersumbat," ucap Rainer asal.


"Nggak apa-apa. Nanti aku panggilkan tukang sedot WC."


"Lhoh,"

__ADS_1


Sambil nunggu up, silahkan mampir di cerita othor yang lainnya, 🤗


__ADS_2