Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Bantuan Rainer


__ADS_3

Begitu masuk, Rainer langsung berjalan menuju dapur. Hal yang sama juga dilakukan oleh Nayra. Dia sudah terbiasa minum air putih setelah sampai rumah. 


"Malam ini, kamu tidur di ruang kerjaku." Rainer meletakkan gelasnya dan langsung berjalan menuju kamar.


Meskipun kesal, Nayra hanya bisa menggerutu dalam hati. Dia segera membereskan gelas kotor dan langsung berjalan menuju ruang kerja Rainer yang beberapa hari lalu menjadi kamarnya saat Rainer sakit.


Ceklek.


Nayra membuka pintu dan menyalakan lampu. Ternyata, tidak ada yang berubah di sana. Tempat tidur juga masih ada. Sebuah lemari baju juga masih ada di sana. Nayra yang tidak membawa baju ganti, langsung berjalan menuju lemari baju. 


"Aku kan nggak bawa baju ganti, mau tidur pakai apa, coba?" Nayra membuka pintu lemari.


Kedua bola matanya terbuka saat melihat dua pasang baju tidur dengan motif doraemon seperti yang sering dipakainya. Ada juga dua kaos dan sebuah celana jean yang masih baru. Nayra benar-benar tidak habis pikir mengapa ada baju seperti itu di dalam lemari.


"Ini maksudnya apa, ya? Apa Pak Rain sengaja membelikan baju-baju ini untukku?" gumam Nayra.


Dia berniat untuk menanyakannya nanti. Namun, setelah dia membersihkan diri. Nayra juga harus mencuci baju kotornya yang dipakai tadi.


Setelah membersihkan diri, Nayra bergegas menuju laundry room. Dia ingin mencuci baju-bajunya yang kotor. Namun, langkah kakinya terhenti saat melihat Rainer berada di dapur.


"Sedang apa, Pak?" tanya Nayra sambil berjalan menuju dapur.


"Buat kopi."


Kening Nayra berkerut. Tidak biasanya atasannya tersebut minum kopi malam-malam begini jika bukan karena lembur.


"Kopi? Tumben Bapak minum kopi? Mau lembur?"

__ADS_1


"Hhmmm."


"Eh, pekerjaan Bapak kan sudah beres. Tinggal periksa laporan dari team 2 besok siang, kan?"


Rainer menoleh ke arah Nayra dengan tatapan kesal. "Aku mau membantu menyelesaikan pekerjaanmu."


Kedua bola mata Nayra langsung membulat saat mendengar jawaban Rainer.


"Eh, pekerjaan saya? Kenapa?" Nayra mendadak bingung dengan tingkah Rainer.


"Jika pekerjaanmu cepat selesai, kamu bisa ikut ke Jogja dengan tenang besok."


Lagi-lagi Nayra hanya bisa melongo. Dia benar-benar bingung dengan tingkah atasannya tersebut. Tak mau sang atasan berubah pikiran, Nayra buru-buru pergi ke laundry room untuk memasukkan baju-baju kotornya ke dalam mesin cuci.


Setelah semuanya beres, Nayra segera mengambil laptop dan membawanya menuju ruang makan tempat dimana Rainer sudah mulai berkutat dengan laptopnya.


Beruntung malam itu Nayra dibantu oleh Rainer. Sekitar satu jam kemudian, Nayra dan Rainer sudah menyelesaikan semuanya.


"Sudah selesai. Segera bereskan dan istirahat. Pesawat kita jam sembilan pagi," ucap Rainer sambil beranjak berdiri.


Nayra yang saat itu tengah merenggangkan tubuhnya, langsung menoleh ke arah Rainer.


"Kita tidak ke kantor dulu, Pak? Langsung ke bandara?"


"Hhhmmm."


Nayra hanya bisa mencebikkan bibir dengan jawaban Rainer yang ala kadarnya tersebut. Setelahnya, Nayra segera membereskan laptop dan beberapa berkas yang sempat berantakan. Setelah itu, Nayra segera memeriksa baju yang tadi sempat dicuci. Dia memindahkan bajunya tersebut ke dalam keranjang dan akan dijemur esok hari.

__ADS_1


Tubuh Nayra benar-benar lelah malam itu. Jam dinding juga sudah menunjukkan pukul 23.28. Nayra bergegas menggosok gigi dan beristirahat.


Keesokan pagi, Nayra sudah berkutat di dapur. Pagi itu, dia membuat omelet dengan tambahan sosis goreng. Nayra juga sudah menghubungi Linda jika dia tidak akan ke kantor hari ini. 


Sebenarnya, ini bukan kali pertama bagi Nayra ikut Rainer ke luar kota. Dan, orang-orang di kantor pun sudah cukup biasa dengan hal itu. Hanya saja, ini pertama kali bagi Nayra ikut Rainer ke luar kota untuk urusan kantor pribadinya.


Sebelum ini, Nayra tidak pernah ikut campur ataupun tidak tahu menahu tentang perusahaan pribadi Rainer.


"Sarapan sudah siap, Pak," ucao Nayra saat Rainer baru saja keluar dari kamarnya.


Rainer menoleh ke arah Nayra yang masih menggunakan baju tidurnya semalam. Keningnya berkerut saat memperhatikan penampilan Nayra.


"Kamu belum siap-siap?"


"Belum, Pak. Saya kan harus siapkan sarapan untuk Anda. Jika perut Anda kosong, sakit maag nya bisa kambuh. Dan jika itu terjadi, saya juga nanti yang akan repot."


Rainer mendengus kesal. Dia melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 06.11.


"Sudah, sudah. Kamu siap-siap sana. Aku kasih waktu lima belas menit. Kita harus ke bandara secepatnya."


"Eh, lima belas me…," belum sempat Nayra protes, Rainer sudah menyelanya.


"Sepuluh menit. Jika kamu ngomong lagi, aku potong jadi lima menit."


Secepat kilat Nayra langsung berlari menuju kamarnya untuk bersiap. Sementara Rainer, dia berjalan mengambil kotak makanan dan memasukkan sarapan yang sudah dibuat oleh Nayra ke dalamnya. Rainer berniat akan memakan sarapan itu di jalan.


\=\=\=

__ADS_1


Nah, sudah up dua bab nih. Kasih like, komen dan vote buat othor ya. Tinggal geser jempolnya 🤭


__ADS_2