
Nayra langsung mendorong wajah Rainer yang sudah mulai di gesek-gesekkan pada lembah berbukitnya tersebut. Dia benar-benar geram dengan tingkah sang suami yang tidak tahu waktu dan tempat. Apalagi, saat itu suasananya juga masih melow.
"A-apa-apaan sih, Mas? Jangan suka aneh-aneh, deh. Aku nggak mau kelepasan nanti," ucap Nayra sambil beranjak berdiri dan membenahi bajunya yang sudah mulai berantakan. Jangan lupakan wajahnya yang sudah mulai memerah dan bagian bawahnya sudah mulai kedutan.
Nayra buru-buru beranjak menjauhi Rainer sebelum suaminya tersebut bertingkah lagi. Belum sempat Rainer menjawab ucapan Nayra, ponselnya sudah kembali berbunyi. Rainer segera mengangkat panggilan tersebut dan berjalan menuju kamar mandi.
Melihat hal itu, Nayra baru bisa menghela napas lega. Jika saja ponsel Rainer tidak berbunyi, bisa dipastikan dia akan mendapatkan serangan kedua, ketiga, seterusnya.
Tak berapa lama kemudian, Rainer keluar dari kamar mandi. Dia berjalan menghampiri Nayra yang sudah mulai mengotak atik ponselnya.
"Aku ada janji dengan seseorang di bawah. Jangan kemana-mana dulu. Aku sudah memesan makan siang. Malam ini, kita akan menginap di sini," ucap Rainer sambil berdiri di samping Nayra.
Kening Nayra berkerut setelah mendengar ucapan Rainer. "Kita menginap di sini?"
"Hhmmm."
"Tapi kita tidak bawa baju ganti, Mas?"
"Gampang. Kamu pesan online saja seperti biasa," jawab Rainer sambil mengambil jas nya yang sempat dilepaskannya tadi.
__ADS_1
Mau tidak mau, Nayra hanya mendesahkan napas berat. Sepertinya, dia sudah tidak akan bisa membantah ucapan Rainer.
"Untuk pekerjaan hari ini, aku sudah meminta Resta untuk mengirimkannya ke email kamu. Coba kamu periksa pengajuan dari EG. Pelajari dulu, kita bahas nanti malam."
Nayra hanya bisa menganggukkan kepala. Dia memang sudah bersiap untuk mempelajari pengajuan kerjasama itu hari ini di kantor. Namun, karena rencana tersebut gagal, Nayra terpaksa mengerjakan pekerjaannya di hotel tersebut.
Setelah Rainer siap, dia segera bersiap. Namun, langkah kakinya terhenti saat Nayra buru-buru beranjak dan menghampirinya. Nayra membantu merapikan dasi Rainer dan jas suaminya tersebut. Tak lupa juga, Nayra mengecup tangan Rainer sebelum suaminya tersebut berangkat.
"Jangan lama-lama. Cepat kembali," ucap Nayra sambil mengulas sedikit senyumannya.
Dan, rupanya hal itu disalahpahami oleh Rainer. Otaknya langsung traveloka ke pulau kapuk yang ada di kamar hotel tersebut. Tanpa bisa dicegah, Rainer langsung melirik tempat tidur king size yang ada di sana.
"Cckkk. Apa sih yang ada di pikiran kamu, Mas? Jangan macam-macam." Nayra langsung mengerucutkan bibirnya.
"Apalagi yang harus aku pikirkan jika bukan hal itu? Kamu memintaku cepat kembali, memangnya mau apa? Dakon?"
"Cckkk. Bukan itu. Kita harus membahas pekerjaan. Sebentar lagi kita akan melaksanakan resepsi pernikahah. Dan, setelah itu pasti honeymoon. Kita tidak punya banyak waktu untuk membahas pekerjaan, kan?" Nayra tampak keceplosan.
Kening Rainer berkerut. Dia masih berusaha mencerna ucapan Nayra. Honeymoon? Apa benar mereka akan honeymoon setelah resepsi pernikahan? Mengapa hal ini tidak dibicarakan sebelumnya? Apa ini kejutan Nayra dengan Mama? batin Rainer.
__ADS_1
Nayra yang merasa keceplosan telah berkata yang tidak-tidak pun mendadak langsung panik. Dia menjadi khawatir saat Rainer menatapnya dengan tatapan tajam.
"Ja-jangan berpikiran yang tidak-tidak. Aku hanya keceplosan." Nayra tampak salah tingkah.
Kening Rainer berkerut. "Keceplosan? Keceplosan yang mana maksud kamu? Apa tentang honeymoon tadi?"
"Eh, ehm i-itu, anu…," Nayra bingung harus ngomong apa. Wajahnya sudah mulai merah karena ucapannya tadi.
"Itu anu apa? Kamu mau honeymoon setelah resepsi pernikahan?" tanya Rainer sambil masih menatap ke arah Nayra.
Secepat kilat Nayra menggelengkan kepala. Dia tidak mau jika Rainer berpikir yang tidak-tidak tentangnya.
"Ti-tidak. Bukan seperti itu," Nayra masih menampakkan wajah paniknya.
"Sama. Aku juga tidak mau honeymoon setelah menikah," ucap Rainer sambil masih menatap tajam ke arah Nayra.
Kening Nayra berkerut. Dia mendongakkan kepala menatap ke arah Rainer. Tampak sekali wajah kecewa Nayra saat mendengar ucapan suaminya tersebut. Belum sempat Nayra bersuara, Rainer sudah kembali menyela.
"Aku mau nanti malam kita sudah mulai honeymoon. Aku tidak bisa lagi menunggu hingga resepsi pernikahan."
__ADS_1
"Ha?"