
Meskipun sempat kaget, namun Nayra berusaha menenangkan diri. Tidak mungkin juga dia akan marah-marah saat itu.
Setelah menghela napas dalam-dalam, Nayra berusaha menjelaskan statusnya baik-baik kepada Aaron.
"Sebelumnya, aku minta maaf jika membuat kamu salah menafsirkan statusku, Ar. Aku juga menyesal karena tidak memberitahukan statusku selama ini. Aku memang sudah menikah. Dan, aku rasa kita juga tidak terlalu dekat sehingga harus membahas hal ini secara detail, kan?"
"Maaf sebelumnya. Kita memang sudah bertemu beberapa kali. Dan, itu pun juga karena tidak sengaja. Kita bertemu di toko buku, minimarket, bahkan di acara pesta perusahaan, juga bukan karena kita ada janji sebelumnya, kan? Jadi, aku minta maaf jika kamu salah menafsirkan statusku," ucap Nayra.
Sebenarnya, dia tidak mau mengatakan hal seperti itu kepada Aaron. Hanya saja, Nayra semakin risih saat tatapan mata Aaron masih menghujam dalam kepadanya.
Aaron menghela napas dalam-dalam. Setelah itu, dia meraup wajahnya dengan kasar sebelum kembali bersuara.
"Baiklah. Aku hanya berharap, kamu bahagia dengan pernikahanmu. Aku permisi dulu," ucap Aaron sambil beranjak berdiri. Dia berjalan cepat menuju tempat parkir mobilnya.
Nayra yang melihat hal itu, buru-buru memanggil Aaron. Namun, laki-laki tersebut seolah tidak menghiraukan ucapan Nayra.
"Hhhhh. Apa aku salah mengatakan hal itu tadi? Aku hanya berusaha untuk tidak membuatnya semakin berharap," gumam Nayra.
__ADS_1
Setelah itu, Nayra segera beranjak menghampiri ojek online yang sudah menunggunya sejak beberapa menit yang lalu. Setelahnya, Nayra langsung bergegas ke kantor.
Hari itu, pekerjaan Nayra benar-benar banyak. Dia harus menyelesaikan pekerjaan yang sempat ditinggalkannya kemarin. Bahkan, ada beberapa meeting online yang tertunda yang harus Nayra selesaikan. Nayra juga harus memeriksa dan memilah beberapa email yang masuk hari itu.
Menjelang siang, Nayra bahkan melupakan jam makan siang jika saja sang sahabat tidak menghampirinya.
"Nih, ayam bakar pesanan kamu, Nay," ucap Linda sambil meletakkan box makanan di atas meja Nayra.
"Thanks, Lind. Kamu memang sahabat yang bisa diandalkan," ucap Nayra sambil tersenyum nyengir.
Linda hanya mencebikkan bibir sambil melihat Nayra membuka minumannya.
"Biasa lah. Ada kerjaan sama nyonya besar," ucap Nayra sok cuek. Padahal, dia sudah ketar ketir jika sampai Linda curiga.
"Eh, Nyonya Aida?"
Nayra menganggukkan kepala sambil menyedot minuman. "Iya."
__ADS_1
"Hhhmm, sepertinya beliau sudah cukup tergantung sama kamu, Nay. Bisa-bisa, kamu bakal diangkat jadi menantunya, nih," ucap Linda.
Uhuukk uhuukkk.
Sontak saja Nayra langsung tersedak setelah mendengar ucapan Linda. Bagaimana bisa dia mengatakan hal itu?
"Apaan sih, Lind."
"Hehehe, bercanda kali, Nay. Tapi, kalaupun iya, diamini saja. Pak Rain itu suamiable banget lho," ucap Linda sambil terkekeh.
"Cckkk. Kamu ini. Dikira apaan suamiable." Nayra langsung cemberut. Dia tidak berani terlalu menanggapi ucapan Linda.
Sebenarnya, Nayra ingin sekali mengatakan hal sebenarnya kepada Linda. Namun, dia teringat dengan ucapan mama Rainer untuk tidak menyebarkan berita tersebut sebelum acara resepsi pernikahan. Lagi pula, mama Rainer juga ingin Nayra menjalani rangkaian acara seperti pernikahan pada umumnya.
Setelah makan siang, Nayra kembali melanjutkan pekerjaannya. Hingga jam pulang pun tiba, Nayra segera bergegas. Sore itu, dia akan kembali ke rumah kontrakan. Rencananya, dia akan menginap disana selama Rainer tidak ada.
•••
__ADS_1
Tinggalkan jejak yang banyak ya, biar tambah semangat.
Sabar, untuk yang sudah sering mengikuti cerita othor, pasti tahu ulet keket nya nggak akan bertahan lama. Jadi, ikuti alur saja, ya. Happy reading 🤗