
Ekspresi wajah Rainer langsung terlihat sangat jelas jika dia sedang marah. Kedua tangannya bahkan tidak sengaja mengepal saat itu. Sementara Felix yang melihat tingkah Rainer, hanya bisa mencebikkan bibir. Dia bisa melihat ekspresi cemburu sahabat sekaligus atasannya tersebut.
"Eh? Maksudnya apa?" tanya Nayra di seberang sana.
"Kamu mau ke acara nikahannya Laron?" ulang Rainer.
Terdengar helaan napas Nayra dari seberang telepon. Nayra berusaha menenangkan diri sebelum menjawab pertanyaan tersebut.
Sebenarnya, sudah sejak kemarin Rainer tampak uring-uringan. Entah karena apa, sejak kemarin pagi Rainer selalu menanyakan aktivitas Nayra hari ini. Padahal, Rainer jelas-jelas mengetahui jika Narya akan pergi ke kantor karena hari ini adalah hari kamis.
Lho, acara pernikahan Aaron dilakukan pada hari kamis? Dan, jawabannya adalah iya.
"Ke acara nikahan bagaimana sih, Mas? Ini aku lagi keluar bareng Resta. Kami kan baru menemui sekretaris Mr. Jasson," jawab Nayra.
Setelah mendengar jawaban Nayra, entah mengapa Rainer langsung merasa lega. Dia juga langsung merutuki dirinya sendiri karena lupa agenda yang sudah disampaikan oleh Nayra tadi pagi.
'Sial. Aku benar-benar lupa agenda Nayra hari ini. Jika sudah seperti ini, aku pasti akan merasa malu nanti,' batin Rainer.
Karena Rainer masih belum menyahuti ucapan Nayra, kini Nayra yang kembali bertanya.
__ADS_1
"Kamu jadi makan siang bareng Pak Felix, Mas?" tanya Nayra beberapa saat kemudian.
"Hhmmm. Habis ini aku langsung ke kantor."
"Iya."
Setelahnya, panggilan telepon tersebut terputus. Rainer langsung meletakkan ponsel di samping piring yang masih menyisakan makan siangnya tersebut. Felix yang melihat hal itu, hanya bisa mencebikkan bibir.
"Gimana? Nayra datang ke nikahannya Bastian?" tanya Felix penasaran.
"Nggak."
Rainer yang saat itu tengah memotong-motong daging, langsung menghentikan gerakan tangannya dan menatap ke arah Felix.
"Sepertinya lo ngarep banget Nayra datang ke nikahannya Bastian, Lix?!" Rainer langsung emosi. Jangan lupakan tatapan mata Rainer yang langsung menghujam dalam ke arah Felix.
Bukannya takut, Felix hanya mencebikkan bibir ke arah Rainer.
"Ngapain gue ngarep Nayra datang ke nikahannya Bastian atau enggak. Nggak ada pengaruhnya juga buat gue," jawab Felix sambil mengedikkan bahu.
__ADS_1
Rainer masih menatap ke arah Felix dengan kesal. Namun, dia mengurungkan niatnya untuk menjawab ucapan sahabatnya tersebut. Setelahnya, Rainer kembali melanjutkan makan siang.
***
Dua minggu berlalu setelah acara pernikahan Aaron. Rainer dan Nayra kembali melakukan aktivitas pekerjaan mereka seperti biasanya.
Pagi ini, Nayra dan Rainer tampak terburu-buru datang ke kantor. Ada beberapa klien yang membatalkan sepihak rencana kerjasama dengan perusahaan Rainer. Kalau ditotal, ada tujuh klien yang membatalkan kerjasama mereka secara sepihak.
Bahkan, para klien tersebut tampak tidak keberatan saat mereka harus membayar sejumlah penalti karena pemutusan kerja sama tersebut.
Dan, yang paling parah adalah hari ini. Sejak pagi, Resta sudah menerima pemberitahuan jika tiga klien membatalkan kerjasama secara sepihak. Tentu saja hal itu membuat Nayra dan Rainer langsung buru-buru ke kantor. Mereka harus mengetahui permasalahan yang mendasari pemutusan kerjasama tersebut.
Berita tentang pembatalan kerjasama tersebut, rupanya terdengar hingga ke telinga kedua orang tua Rainer. Mereka langsung kembali ke Indonesia begitu mendengar berita tidak menyenangkan tersebut.
Ketika hampir semua karyawan di kantor sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, sebuah email baru masuk ke dalam email Nayra. Karena cukup penasaran, Nayra langsung membuka email tersebut. Dan, betapa terkejutnya Nayra saat melihat pesan yang baru saja dibukanya itu.
"Jadi, ini karena ulah mereka?"
Mohon maaf baru bisa up sedikit ya 🙏
__ADS_1