Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Aktivitas Baru


__ADS_3

Nayra terpaksa menuruti keinginan Rainer. Dia masih mengekori Rainer yang menarik lengannya menuju kamar mandi. Entah apa yang akan terjadi setelah ini, Nayra sudah bisa menebaknya.


Dan, benar saja. Setelah Rainer berhasil melepaskan sisa penutup tubuhnya, dia langsung menarik tubuh Nayra hingga berada di bawah shower. Tanpa menunggu terlalu lama lagi, Rainer langsung menyalakan shower tersebut hingga tubuh keduanya langsung basah kuyup.


Tentu saja hal itu membuat Nayra langsung terkejut. 


"Mas! Apaan, sih? Kenapa langsung dinyalakan airnya? Bajuku basah semua, nih," protes Nayra sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


Rainer yang seolah tidak mendengar ucapan Nayra, langsung menyerbu bibir istrinya tersebut. Tindakan tiba-tiba Rainer tersebut langsung membuat Nayra gelagapan. Apalagi, tangan Rainer langsung mulai melucuti baju Nayra yang sudah basah.


Tak butuh waktu lama, Rainer sudah berhasil melepas semua penutup tubuh Nayra. Kini, kedua orang tersebut sudah sama-sama polos. Dan, tanpa melepaskan pagutan bibir mereka, jari Rainer sudah kembali bekerja di bagian bawah tubuh Nayra hingga membuat si empunya meendessah tidak karuan. Sepertinya, setelah itu Nayra tidak akan bisa segera beristirahat.


Rencana Nayra yang akan pulang dari rumah orang tua Rainer setelah makan malam, langsung pupus. Dia sudah tidak sanggup menggerakkan tubuh lagi setelah digempur habis-habisan oleh Rainer di dua tempat, kamar mandi dan di atas ranjang. Rainer seolah enggan berhenti sebelum cairannya habis terkuras.


Malam itu, Nayra langsung terlelap setelah pertempuran yang cukup lama dan melelahkan. Mereka bahkan melewatkan makan malam hanya untuk memenuhi rasa 'lapar' yang seolah tidak mau menunggu tersebut.


Keesokan pagi, Nayra dan Rainer langsung bergegas ke kantor setelah sarapan untuk melakukan aktivitas baru. Hari itu, ada beberapa agenda yang harus diselesaikan oleh Rainer.


"Nanti ada pertemuan dengan pihak Armada Property, Mas. Sepertinya, mereka ingin mengajukan kerjasama kembali setelah kemarin sempat membatalkan kerjasama sepihak," ucap Nayra sambil masih menatap layar tabnya.


"Cckkk. Saat sudah mengetahui berita yang beredar, mereka dengan tidak tahu malunya ingin kembali," Rainer langsung mencibir.


Nayra hanya menggelengkan kepala setelah mendengar ucapan Rainer. Dia sudah cukup kebal dengan ucapan seperti itu karena sejak tadi pagi Rainer sudah mulai julid.

__ADS_1


Tak terasa sudah hampir dua minggu setelah klarifikasi yang dilakukan oleh Rainer kemarin. Kini, perusahaan Rainer sudah mulai stabil kembali. 


Untuk masalah Pram, dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Ternyata, ada pihak lain yang juga melakukan laporan tentang tindakan penggelapan dan penyalahgunaan dana perusahaan yang dilakukan oleh Pram. Jadi, Pram mendapat tuntutan pasal berlapis.


Pagi itu, Nayra dan Rainer berangkat ke kantor sendiri-sendiri. Rainer harus pergi ke perusahaannya sendiri untuk mengadakan meeting dengan karyawannya. Sementara Nayra, harus segera menyiapkan bahan untuk meeting setelah makan siang nanti.


Sesampainya di kantor, Nayra langsung bertemu dengan Resta yang sudah siap di meja kerjanya. Resta langsung menghampiri Nayra yang baru saja datang tersebut.


"Pagi, Mbak," sapa Resta.


"Pagi. Kok tumben berangkat pagi sekali. Apa ada pekerjaan yang harus kamu selesaikan?" tanya Nayra.


Resta menggelengkan kepala. Dia terlihat mengerucutkan bibir sambil mengekori Nayra menuju meja kerjanya. Tentu saja tingkah Resta tersebut membuat Nayra penasaran. 


"Ada apa, Ta? Apa ada masalah?" tanya Nayra.


Resta menggelengkan kepala. Namun, tampak sekali jika ekspresinya tersebut sedang berbohong.


"Nggak ada, Mbak.


"Yakin nggak ada?"


"Iya."

__ADS_1


Nayra mencebikkan bibir. Dia terlihat tidak mempercayai ucapan Resta. Ya, selama beberapa bulan bekerja bersama dengan Resta, Nayra sudah cukup hafal dengan tingkah dan ekspresi Resta.


"Baiklah jika tidak ada apa-apa. Tapi, nanti jika kamu butuh bantuan, aku tidak akan membantu lho, ya." Nayra terpaksa mengancam Resta.


Dan, benar saja. Redta terlihat panik. Wajahnya yang gelisah tersebut terlihat lucu di mata Nayra. Sontak saja tawa Nayra langsung pecah setelah melihat ekspresi Resta.


"Hahaha. Ternyata kamu memang ada apa-apa ya, Ta. Kenapa harus berbohong, sih? Ekspresi kamu itu lucu sekali," ucap Nayra sambil berusaha menahan kekehan tawa.


Resta mencebikkan bibir. Setelah itu, dia benar-benar menceritakan apa yang sedang dialaminya kepada Nayra.


Sementara di kantor yang lain, Rainer tampak berjalan menuju ruangannya. Dia menoleh ke arah ruangan Felix namun tidak menemukan keberadaan sahabat sekaligus asistennya tersebut.


"Felix belum datang?" tanya Rainer kepada Mega, sekretaris Rainer yang satunya.


"Belum, Pak."


Rainer langsung berdecak kesal. Dia segera mengambil ponselnya dan menghubungi Felix. Hingga pada dering ketiga, panggilan Rainer baru diangkat oleh Felix.


"Lo dimana?" tanya Rainer tanpa basa-basi.


"Gue di rumah sakit, Rain."


"Eh?"

__ADS_1


Hhmmm, ngapain Felix di rumah sakit, ya?


__ADS_2