Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Sindiran Nayra


__ADS_3

Rainer masih terdiam membeku setelah mendengar ucapan Nayra. Entah mengapa tiba-tiba otaknya menjadi blank. Rainer yang selama ini anti dengan sikap menye-menye, mendadak salah tingkah.


Namun, belum sampai Rainer merespon ucapan Nayra, terdengar suara orang mengobrol di depan pintu dan diiringi dengan suara pintu terbuka. Rupanya, orang tua Rainer baru kembali dari kantin dan bertepatan dengan kedatangan Dokter Ervan yang akan memeriksa Rainer.


Nayra segera menyingkir dari samping Rainer. Dia merasa malu saat melihat menyadari orang-orang tersebut melihat tingkah keduanya tadi yang masih berpelukan. Wajah Nayra sempat memerah saat melihat mama Rainer mengerling ke arahnya.


Dokter Ervan segera memeriksa Rainer dan menjelaskan kondisinya kepada keluarga. Beruntung kondisi Rainer pasca operasi sangat baik. Dia hanya perlu melakukan pemulihan agar sehat kembali.


Hari itu, papa Rainer tidak bisa menunggui Rainer di rumah sakit terlalu lama. Dia harus pergi ke kantor untuk menggantikan beberapa pekerjaan Rainer yang tidak bisa ditunda. 


Nayra dan mama Rainer masih berada di rumah sakit. Mereka bersama-sama menjaga Rainer yang sudah mulai bertingkah. Selalu saja ada hal yang diminta Rainer kepada Nayra. Dan, dia akan menolak jika sang mama menawari bantuan.


Tak terasa dua hari sudah Rainer di rawat di rumah sakit. Felix juga sudah dua kali mengunjungi sahabat sekaligus atasannya tersebut. Felix menahan diri untuk tidak membahas masalahnya saat mengunjungi Rainer. Dia tidak ingin membebani sahabatnya tersebut dengan masalahnya. Cukup bantuan yang diberikan Rainer untuknya.


Sore itu, setelah jam pulang kantor Resta menyempatkan diri mampir ke rumah sakit. Dia harus melaporkan pekerjaan yang mendesak kepada Rainer. Resta terpaksa menyampaikan kepada Rainer karena papa Willy sudah bertolak ke Singapura tadi pagi untuk urusan pekerjaan.

__ADS_1


Ketiga orang tersebut berdiskusi di dalam kamar rumah sakit. Nayra yang juga mengetahui pembahasan mereka, langsung memberikan beberapa masukan. Hingga menjelang makan malam mereka baru selesai mengobrol.


"Mau aku pesankan makan malam sekalian, Ta?" tawar Nayra saat mengambil ponselnya.


"Eh, nggak usah, Mbak. Aku pulang saja. Aku harus pergi ke suatu tempat sekarang," jawab Resta buru-buru sambil membereskan berkas-berkasnya.


"Mau kemana?" Kali ini Rainer yang bertanya.


Resta tampak kikuk saat hendak menjawab pertanyaan Rainer. Entah mengapa dia terlihat salah tingkah.


"Ehm, a-ada janji dengan seseorang, Pak." Akhirnya Resta menjawab sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Eh, be-belum, Mbak." Resta menggelengkan kepala dengan cepat.


Nayra mencebikkan bibir sambil menyahuti ucapan Resta. 

__ADS_1


"Segera cari pacar, Ta. Jangan mau diperbudak pekerjaan. Hidup itu harus seimbang. Kerja ya kerja, kehidupan pribadi jangan sampai dilupakan. Jangan sampai kamu menyesal karena kehilangan masa-masa indah kamu," ucap Nayra.


Resta hanya menganggukkan kepala. Dia tidak menyadari jika ucapan Nayra tersebut bukan sepenuhnya ditujukan untuknya. Namun, ditujukan juga untuk Rainer.


Rainer yang menyadari ucapan Nayra, langsung menatapnya dengan tajam. Entah mengapa Rainer merasa jika istrinya tersebut tengah menyindirnya.


Nayra terlihat cuek sambil lalu. Dia tidak terlalu memusingkan apa yang dilakukan oleh Rainer karena Nayra sedang fokus memesan makan malam untuknya. Malam itu, Nayra sangat ingin makan nasi tahu dengan bumbu pedas.


Sebelum berpamitan, Resta meminta izin ke kamar mandi. Dia ingin buang air kecil sebelum pergi dari kamar rawat Rainer. Saat Rainer hendak bersuara, terdengar ponsel Resta berbunyi sebentar. Dan setelahnya, disusul dengan dua buah pesan.


Nayra yang berada di sebelah ponsel Resta yang diletakkan di atas kursi tersebut langsung menoleh. Kedua mata Nayra langsung membulat saat melihat dua buah pesan yang muncul pada notifikasi layar ponsel Resta.


Sebuah nama yang tidak asing bagi Nayra muncul di layar ponsel tersebut.


~ Sudah berangkat? Jangan lama-lama. 

__ADS_1


~ Kabari aku jika kamu sudah keluar dari kamar Pak Rain. Aku menunggumu di apartemen.


"Linda? Ngapain dia kirim pesan seperti ini kepada Resta?" gumam Nayra bingung.


__ADS_2