Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Pulang


__ADS_3

Felix menatap wajah Rainer dan Nayra yang berada di depannya bergantian. Dia mendesahkan napas berat sebelum menjawab pertanyaan Rainer.


"Jangan buat kami penasaran, Lix. Bagaimana hasilnya?" Rainer yang sudah tidak sabar benar-benar kesal menunggu jawaban Felix.


Mau tidak mau, Felix harus menceritakan apa yang sudah diketahuinya beserta hasil tes DNA yang beberapa waktu lalu juga sudah di dapatkannya.


"Hasil tes DNA kemarin menunjukkan jika Finn adalah anak gue, Rain," ucap Felix dengan napas ekspresi lesu.


"Apa?!"


Rainer dan Nayra kompak terkejut dengan jawaban Felix. Meski sebenarnya mereka sempat menduga hal itu, namun entah mengapa baik Rainer maupun Nayra enggan beranggapan jika Finn bukan anak Felix.


"Kok bisa sih, Lix? Siapa ibunya? Kapan lo buatnya?" Rainer benar-benar penasaran.


Lagi-lagi helaan napas berat kembali didengar oleh Rainer dan Nayra. Mereka menunggu penjelasan dari Felix.


"Gue nggak ingat, Rain. Gue belum dapat informasi secara detail tentang hal itu."


"Lo yakin, Lix?" Rainer masih tampak ragu. "Lo nggak ngelakuin hal-hal aneh terhadap anak gadis orang, kan?" lanjut Rainer.

__ADS_1


"Cckkk. Yakin, lah. Gue nggak mungkin ngelakuin hal-hal seperti itu, Rain. Kalaupun mau, mungkin sudah sejak dulu gue icip-icip 'lapis lempit'. Tapi, gue nggak lakuin itu, kan? Kecuali…," Felix menghentikan ucapannya dengan tatapan menerawang.


"Kecuali apa?"


"Kecuali gue dalam keadaan nggak sadar." Felix mendesahkan napas berat ke udara.


"Maksud lo?" 


Setelah itu, Felix kembali menceritakan apa yang dialaminya sekitar satu tahun yang lalu di Surabaya. Felix juga menceritakan dugaan-dugaan yang membuatnya kembali ke peristiwa satu tahun yang lalu itu.


"Jadi, ada kemungkinan ibu Finn berada di Surabaya?" Kali ini Nayra yang bersuara. Dia yang sejak tadi menjadi pendengar cerita Felix dan Rainer, rupanya tidak sabar untuk ikut nimbrung.


Nayra dan Rainer mendukung rencana Felix. Bahkan, Rainer menawarkan lagi bantuan yang sekiranya dibutuhkan oleh sahabatnya tersebut.


***


Tak terasa sudah satu minggu Rainer berada di rumah sakit. Hampir setiap hari Resta harus bolak balik kantor dan rumah sakit untuk urusan pekerjaan. Rainer juga terpaksa melakukan meeting secara online untuk beberapa janji meeting yang tidak bisa diwakilkan.


Hari ini, Rainer sudah diperbolehkan untuk pulang. Sejak pagi, dia sudah merengek untuk minta pulang. Bahkan, Rainer memaksa untuk langsung pulang tanpa menunggu dokter.

__ADS_1


Tentu saja Nayra langsung menolaknya. Mau tidak mau, Rainer hanya bisa menuruti perintah Nayra. Entah mengapa selama sakit Rainer berubah menjadi sosok yang berbeda. Selalu saja ada keinginan nyeleneh yang membuat Nayra geleng-geleng kepala.


Setelah pemeriksaan dokter, Rainer akhirnya benar-benar diizinkan untuk pulang. Rasanya, dia sudah tidak sabar untuk berbaring di atas tempat tidur empuknya sambil bergelut di bawah selimut dengan sang istri. Rainer merasa sangat tersiksa di rumah sakit karena tidak bisa melakukan apa yang diinginkannya.


Menjelang makan siang, Rainer sudah berada di penthouse nya. Ada sang mama yang juga ikut menjemput kepulangannya hari itu.


"Kamu mau makan apa, Mas? Ini sudah hampir makan siang," ucap Nayra setelah membantu Rainer rebahan di atas tempat tidurnya.


Tidak langsung menjawab, namun netra Rainer masih menatap wajah Nayra dengan tatapan tak terbaca. Nayra yang merasa diperhatikan pun menoleh ke arah Rainer dengan kening berkerut.


"Ada apa, Mas? Kamu butuh sesuatu?" 


"Hhhmmm. Mau makan kamu saja boleh?" jawab Rainer asal.


Belum sempat Nayra menyahuti ucapan Rainer, sudah terdengar sebuah suara dari arah pintu.


"Nggak boleh! Kamu baru saja pulang dari rumah sakit, Rain. Jangan suka aneh-aneh. Baru juga operasi sudah banyak maunya," ucap mama Rainer yang datang tiba-tiba.


"Cckkk. Yang operasi juga bahuku, Ma. Si Rj nggak kesenggol apa-apa. Dia tetap perkasa dan kuat, kok."

__ADS_1


__ADS_2