Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Kamu Cemburu?


__ADS_3

Mama Rainer dan Nayra langsung melongo mendengar ucapan Rainer. Apalagi Nayra. Dia benar-benar malu mendengarnya.


"Benar begitu, Nay?" Mama Rainer menoleh kembali ke arah Nayra. Dia ingin memastikan ucapan sang putra benar atau tidak.


"Eh, bu-bukan seperti itu, Nyonya." Nayra semakin takut dan bingung. Terlihat sekali jika dia sedang gugup.


Menyadari hal itu, mama Rainer berusaha mengubah ekspresi wajahnya agar tidak membuat Nayra semakin takut dan khawatir.


"Bisa kamu ceritakan apa yang sebenarnya terjadi, Nay?" tanya mama Rainer.


Nayra menoleh ke arah Rainer sekilas sebelum menganggukkan kepala.


"Baik. Saya akan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, Nyonya."


Setelah itu, Nayra mulai menceritakan mulai dari awal Rainer menariknya dari tempat acara hingga ke lantai atas. Nayra juga menceritakan perbuatan Rainer yang sudah menciumnya sebanyak tiga kali. 


Apa yang dirasakan oleh Rainer? Tentu saja dia merasa malu saat Nayra menceritakan hal itu kepada mamanya. Namun, dia tidak bisa meminta Nayra untuk menghentikan ceritanya. Karena jika hal itu sampai terjadi, sang mama pasti akan semakin curiga. Dan, tentu saja hal itu akan membuat Rainer dan Nayra kesulitan.

__ADS_1


Mama Rainer mengerutkan kening sambil menatap ke arah Nayra dan Rainer bergantian setelah mendengar cerita Nayra. Rupanya, ada sesuatu yang menggelitik yang ingin ditanyakan oleh mama Rainer.


"Kenapa kamu mengajak Nayra ke atas, Rain?" Mama Rainer menatap ke arah putranya.


Rainer harus menjawab apa? Entahlah. Dia sendiri juga bingung dengan apa yang dilakukannya. Entah dapat dorongan dari mana dia langsung menarik Nayra dan membawanya ke lantai atas. Satu hal yang pasti dirasakannya saat itu adalah, Rainer tidak suka melihat kedekatan Nayra dengan Aaron.


Rainer masih belum menjawab pertanyaan sang mama. Dia masih bingung menyusun jawaban yang tepat. Sementara sang mama, sudah tidak sabar menunggu jawaban Rainer.


"Rain? Kamu dengar Mama, kan?"


"Hhmmm."


Rainer menghembuskan napas berat sebelum menjawab pertanyaan tersebut.


"Aku nggak tahu, Ma."


Kali ini, bukan hanya sang mama yang terkejut, tapi Nayra juga merasa cukup terkejut mendengar jawaban Rainer.

__ADS_1


"Cckkk. Jawaban apa itu, Rain? Mana mungkin kamu tidak mempunyai alasan mengajak Nayra ke lantai atas." Mama Rainer menatap tajam ke arah putranya tersebut.


Rainer terlihat kesal. "Terserah jika Mama nggak percaya."


"Tentu saja Mama nggak percaya. Mama tahu jika kamu tadi berada di ruangan VIP bersama dengan Felix. Bahkan, saat papa kamu memintamu untuk turun, kamu menolaknya. Jangankan turun ke lantai dansa. Turun ke hall utama pun kamu tidak mau."


"Lalu, Mama harus percaya dari mana saat kamu bilang tidak ada apa-apa dan ternyata kamu tiba-tiba turun menghampiri Nayra di lantai dansa dan membawanya ke atas?"


Rainer masih menatap sang mama sambil mencebikkan bibir. "Ya, anggap saja kebetulan, Ma."


"Mana ada kebetulan yang seperti itu, Rain." Mama Rainer langsung mendengus kesal. 


Namun, tiba-tiba mama Rainer terpikirkan sesuatu. Dia menatap wajah putranya lekat-lekat. Pandangan mata mama Rainer juga tertuju pada tangan Rainer dan Nayra yang masih setia saling bergandengan. Entah mereka sadar atau tidak, namun keduanya tampak terlihat saling menguatkan.


"Atau jangan-jangan, kamu menarik Nayra ke lantai atas karena cemburu saat melihat Nayra menari dengan laki-laki lain, Rain?"


"Eh?"

__ADS_1


\=\=\=


Nah lho, jawab apa tuh si Hujan? 🤭


__ADS_2