Tetangga Kamar

Tetangga Kamar
Kedatangan Teman


__ADS_3

Rainer langsung menuju meja yang sudah disiapkan untuknya. Sekilas, dia sempat mengedarkan pandangan untuk mencari keberadaan seseorang. Setelah menemukan keberadaan orang yang dicari, Rainer mengangkat tangannya.


"Kamu tunggu disini dulu. Aku akan menemui Felix," ucap Rainer sambil berbisik di dekat telinga Nayra.


"Eh, Pak Felix disini? Dimana, Pak?" tanya Nayra sambil mengedarkan pandangan.


"Dia ada disana." Rainer menunjuk ke arah selatan stage.


Nayra mengikuti arah pandangan Rainer. Disana, dia bisa melihat Felix tengah berbicara dengan beberapa orang.


"Oh, iya, Pak."


Setelah itu, Rainer segera bergegas untuk menghampiri Felix, sang sahabat. Nayra ditinggalkan sendiri di meja yang sudah disiapkan untuknya.


"Sulit sekali bertemu denganmu, Rain. Kemana saja lo akhir-akhir ini?" tanya Felix saat Rainer sudah berada di depannya.


"Sorry, gue ada urusan," jawab Rainer sambil terkekeh geli. Tidak mungkin juga dia mengatakan jika baru mengalami kecelakaan.


"Cckkk. Jangan bilang urusan lo ngekepin sekretaris cantik lo." Felix langsung terkekeh geli dengan ucapannya sendiri.


"Siialan lo." Rainer langsung memukul bahu sahabatnya tersebut.


Beberapa orang yang bergabung dengan Rainer dan Felix, juga ikut tertawa dengan guyonan yang dilontarkan oleh Felix.


Sementara itu, Nayra yang terlihat bosan, langsung mengeluarkan ponselnya. Dia membuka akun media sosialnya dan mendapati beberapa pesan yang masuk ke dalamnya. Saat Nayra asyik membalas pesan-pesan tersebut, terdengar sebuah suara menyapanya.


"Nayra? Kamu di sini juga?"


Seketika Nayra mendongakkan kepala dan menoleh ke arah sumber suara. Kedua bola matanya langsung membesar saat mendapati seorang laki-laki yang tidak asing baginya.


"Aaron? Kamu disini juga?" Nayra langsung tersenyum sambil memutar tubuhnya menghadap ke arah laki-laki tersebut. Ya, dia adalah Aaron. Laki-laki yang sempat bertemu dengannya di toko buku beberapa hari yang lalu.

__ADS_1


"Iya. Aku juga dapat undangan. Boleh aku duduk di sini?" tanya Aaron.


Tanpa berpikir panjang, Nayra langsung mengangguk mengiyakan. Ya, dari pada diam sendirian tidak ada teman, lebih baik mengobrol dengan Aaron, pikir Nayra.


"Boleh. Silahkan duduk." Nayra mempersilahkan Aaron untuk bergabung dengan mejanya.


Tanpa menunggu lama, Aaron langsung mengambil tempat duduk di sebelah Nayra. Setelahnya, mereka berdua mulai mengobrol tentang banyak hal. Aaron dan Nayra juga saling bertukar akun media sosial mereka. Keduanya, terlihat begitu santai.


Sementara di bagian selatan, Rainer masih belum menyadari keberadaan Aaron di mejanya bersama dengan Nayra. Dia masih mengobrol berdua dengan Felix. Teman-teman mereka yang lain, sudah berpamitan beberapa saat yang lalu.


Tak sengaja tatapan mata Felix melihat keberadaan Nayra dan seorang laki-laki. Felix tidak mengetahui siapa laki-laki yang masih terlihat cukup muda tersebut.


"Siapa laki-laki yang bersama Nayra, Rain?" tanya Felix sambil masih menatap ke arah Nayra.


Rainer pun berbalik dan mengikuti arah pandang Felix. Dia pun juga menyipitkan kedua matanya untuk melihat siapa laki-laki tersebut. Namun, Rainer sama sekali tidak mengenalnya.


"Entahlah. Gue nggak kenal." 


"Yakin lah. Gue belum pernah bertemu laki-laki itu."


"Tapi bukan pacar Nayra, kan?" tanya Felix.


"Tentu saja bukan." Rainer terlihat kesal dengan pertanyaan Felix.


"Ccckkk. Nggak usah cemburu begitu, Rain." Felix terkekeh geli melihat reaksi sang sahabat.


"Sembarangan! Siapa yang cemburu?! Nggak usah ngelantur ya." Rainer tampak masih kesal sambil menatap ke arah Felix.


"Iya, nggak cemburu, tapi lo kesal jika Nayra ngobrol sama laki-laki lain, kan?" goda Felix


"Nggak!"

__ADS_1


Felix semakin terkekeh saat mendengar jawaban Rainer.


"Dengar Rain, seandainya gue belum punya tunangan, sudah pasti si Nayra akan gue ajak selingkuh. Dia terlalu menggoda untuk diabaikan," ucap Felix.


"Cckkk. Jangan suka aneh-aneh kalau ngomong, Lix. Lo mau gue aduin ke Monic, hah?!"


"Eh, sabar, Bro. Gue kan hanya bilang seandainya."


"Cckkk."


"Lagian, Nayra itu paket komplit. Sudah cantik, pinter, cekatan, dan sopan. Dia juga pandai memasak. Masakannya juga enak, Bro. Mau cari dimana istri seperti itu. Eh, satu lagi, bodynya juga cihuuiiii puoll. Dua tangkep, Bro." Felix masih mengompor-ngompori Rainer sambil tergelak.


Rainer langsung menoleh ke arah Felix dengan tatapan tidak sukanya. "Cckkk. Apa yang lo lihat, hah? Mau gue aduin ke Monic jika tunangannya suka lihatin ukuran dadaa cewek lain, hah?!"


"Eitss, jangan gitu, Rain. Gue hanya ngomongin fakta. Lagian, gue nggak yakin jika lo nggak pernak meliriknya."


"Nggak!"


"Yakin nggak pernah?" Felix menatap Rainer sambil menaik turunkan alisnya.


"Rese banget sih, lo, Lix." Rainer memukul bahu sahabatnya tersebut dengan cepat. Felix yang tidak sempat menghindar langsung tergelak karenanya.


Setelah itu, pandangan mata Rainer kembali tertuju ke arah Nayra dan Aaron yang masih terlihat mengobrol. Suara geretakan gigi Rainer terdengr dengan jelas di telinga Felix.


"Cckkk. Bilang nggak peduli ternyata bisa geram juga."


\=\=\=\=


Hhmmmm. Bagaimana ini?


Tolong bantu promosi cerita ini ya. Masih baru, belum banyak yang mampir. Cuuusss, bantu promote ke sahabat, teman, keluarga, pacar, selingkuhan, bribikan, bahkan simpanan juga boleh 🤧

__ADS_1


__ADS_2